Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 April 2024 | 10.25 WIB

5 Tradisi Unik Menyambut Malam Lailatul Qadar di Indonesia, Unik dengan Hikmah yang Mendalam

tradisi selikuran di Surakarta./surakarta.go.id - Image

tradisi selikuran di Surakarta./surakarta.go.id

JawaPos.com – Malam mulia lailatul qadar banyak ditunggu di bulan Ramadhan. Pada 10 malam terakhir, umat Muslim pasti berjuang untuk mendapatkan keberkahan ini.

Banyak amalan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan malam ini. Selain memperbanyak shalat dan zikir, itikaf di masjid juga menjadi salah satu ibadah khusus.

Akan tetapi, selain ibadah kepada Allah swt, ada tradisi lain yang dilakukan dalam menyambut lailatul qadar. Tradisi ini beragam di berbagai tempat di Indonesia.

Dilansir dari suaramahasiswa.info, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas yang unik di bulan Ramadhan. Demikian halnya ketika menyambut malam mulia lailatul qadar.

1. Selikuran

Salah satu tradisi yang khas dari Jawa Tengah adalah “selikuran” atau kerap juga disebut malam selikuran.

Tradisi ini banyak ditemui di daerah Surakarta. Selikur dalam bahasa Jawa artinya dua puluh satu. Maka, tradisi ini dilakukan mulai malam ke-21 Ramadhan.

Melansir situs Pemkot Surakarta, hal ini sesuai dengan keyakinan kebanyakan orang bahwa lailatul qadar akan turun pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.

Pada malam selikuran, Raja Surakarta biasa mengarak tumpeng diiringi lampu. Selanjutnya beliau akan berdoa di Masjid Agung, dilanjutkan membawa tumpeng ke masjid untuk dinikmati bersama.

Tumpeng tersebut bernama “tumpeng sewu” karena berjumlah seribu. Maknanya adalah malam seribu bulan yang sedang diharapkan pahalanya.

2. Nujuh Likur

Lain halnya di daerah Sumatera, malam lailatul qadar disambut dengan tradisi bernama “nujuh likur.” Tradisi ini banyak dijumpai di Provinsi Bengkulu.

Pada tradisi ini, masyarakat akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, membawa penerangan dan menyantap makanan yang sudah disediakan.

Tujuan utamanya adalah agar tuan rumah yang membagikan rezekinya mendapat keberkahan. Acara diakhiri dengan doa bersama.

Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu. Pada saat itu, penerangan ditempatkan di sekitar masjid dan sudut-sudut rumah.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore