Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Mei 2018 | 17.44 WIB

Masjid Fatahillah, Digagas Sutiyoso Hingga Jokowi, Rampung Era Ahok

Masjid Fatahillah Balai Kota - Image

Masjid Fatahillah Balai Kota

JawaPos.com - Para pegawai negeri sipil (PNS) lingkungan Balai Kota DKI Jakarta tak asing lagi dengan Masjid Fatahillah. Satu-satunya masjid yang berada di kompleks kantor gubernur itu baru rampung dibangun pada Januari 2016 lalu.


Masjid tersebut telah direncanakan pembangunannya sejak era mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Fauzi Bowo (Foke). Namun, hal itu dimatangkan saat pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).


Pengurus Masjid Fatahillah, Syukron Makmur, 45, mengatakan bahwa perombakan gedung kantor yang semula berdiri di lahan tersebut dimulai pada akhir 2015 atau saat Ahok menjabat. Pada 2016, masjid rampung dan diresmikan oleh Ahok sebagai Gubernur, dan Jokowi sebagai Presiden.


"Ini pun dibangun cuma dalam waktu tiga bulan. Dari 2015 sampai awal 2016. Memang semua perencanaan sudah ada, tapi mungkin karena lahan ya," ujar Syukron saat ditemui JawaPos.com di Masjid Fatahillah, Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (17/5).


Berdesain modern dengan paduan warna abu-abu dan krem, masjid tersebut dapat menampung ratusan jamaah sampai ke lantai dua. Jika waktu-waktu salat tertentu, jamaah yang tak tertampung melaksanakan ibadah hingga di bagian luar masjid dan gedung Blok G yang berseberangan dengan masjid.


"Dulu di sini kantor, sebelum ada gedung Blok G, ini (kantor) duluan ada. Sebelumnya musala kecil. Jadi masa sekelas Balai Kota nggak punya masjid. (Gedung kantor) dirubuhun. Ganti bangunan masjid," tuturnya.


Syukron sendiri telah mengenal masjid tersebut sejak awal diresmikan dan beroperasi. Dia dahulu merangkap sebagai marbot saat masih berstatus pekerja harian lepas. "Terus saya jadi muadzin, marbot juga, jadi saya tinggal di sini, seminggu sekali baru pulang," kata dia.


Dengan pengalamannya itu, dirinya sudah terbiasa menyiapkan segala kebutuhan masjid, terutama di bulan Ramadan seperti saat ini. Tak ada perbedaan yang berarti, setiap hari pihaknya menyediakan 75 porsi nasi kotak, air mineral, kolak, dan kurma.


Seluruh hidangan berbuka puasa atau takjil itu berasal dari dana bantuan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah (Bazis) DKI Jakarta. Pihak masjid bertugas memesan makanan dan membagikannya kepada jamaah yang datang. Mereka biasanya terdiri dari para petugas penjagaan, Satpol PP, pasukan oranye, dan musafir.


Kemudian sebagai pengurus tetap, Syukron pun harus menyiapkan pelaksanaan salat tarawih. Biasanya, dia mendatangkan imam yang berasal dari Rorotan, Jakarta Utara. "Kalau hari biasa, ya biasa saja, salat jamaah, kultum. Kalau Ramadan, ada tarawih sebanyak 23 rakaat," pungkasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore