Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Mei 2018 | 01.15 WIB

Mengenal Tradisi Dlugdag Cirebon, Tak Lekang Ditelan Zaman

Sultan Sepuh Kesultanan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat menabuh Bedug Samogiri di Langgar Masjid Agung merayakan Tradisi Dlugdag, Rabu (16/5). - Image

Sultan Sepuh Kesultanan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat menabuh Bedug Samogiri di Langgar Masjid Agung merayakan Tradisi Dlugdag, Rabu (16/5).

JawaPos.com - Menyambut datangnya ramadan, Sultan Sepuh Kesultanan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat melangsungkan tradisi Dlugdag, atau pemukulan Bedug Samogiri di halaman Langgar Masjid Agung Keraton, Rabu (16/5). Pemukulan Bedug Samogiri tersebut menandakan waktu masuk bulan Ramadan sudah tiba.


Prosesi pemukulan Bedug Samogiri dilakukan usai Sultan Sepuh bersama keluarga dan warga melaksanakan Salat Ashar di Masjid Agung Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.


Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu terus dilestarikan sebagai syiar dan merawat khazanah budaya leluhur Cirebon.


Arief menuturkan, di awal perkembangan Islam masuk di Indonesia, bedug menjadi isyarat masuk waktu salat. Berbeda dengan Islam di Timur Tengah, Islam di Nusantara cair dengan kearifan budaya lokal.


"Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Tradisi ini tidak ada di Timur Tengah hanya adanya di Pulau Jawa saja, pertama kali dilakukan oleh para Wali Songo untuk mengingat waktu salat," ujarnya usai melangsungkan Tradisi Dlugdag di Langgar Agung.


Selain dibunyikan sebagai tanda masuk bulan puasa dan salat tarawih, Tradisi Dlugdag pun ditabuh menyambut salat Idul Fitri dan Idul Adha.


Arief menjelaskan, di zaman dulu untuk menandakan waktu salat masih menggunakan alat pengukur bayangan matahari. Bila sudah didapat waktu tepat masuk salat, Panatagama atau pemuka agama menabuh bedug sebagai tanda sudah masuk waktu salat.


"Zaman dulu menggunakan alat pengukur bayangan matahari. Belum ada pengeras suara apalagi media sosial. Makanya para wali menggunakan bedug sebagai pertanda masuk waktu salat," katanya.


Usai melangsungkan tradisi Dlugdag, Sultan Arief pun menyampaikan doa kepada para korban atas tindakan terorisme yang tidak bertanggung jawab. Dia mengutuk keras tindakan yang mengatasnamakan Islam untuk berbuat kejahatan kepada orang-orang yang tak bersalah.


"Di bulan yang sangat damai ini. Kami berharap tidak ada lagi tindakan terorisme. Kami mengutuk keras tindakan yang menghilangkan nyawa orang tak berdosa. Kami berharap kepada pemerintah dan kepolisian bisa menangkap para pelaku teror," ujarnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore