Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Juni 2018 | 19.28 WIB

25 Tahun Pelataran Gereja Jadi Tempat Salat Idul Fitri di Malang

Menyemut: Puluhan ribu warga muslim di Malang melaksanakan salat Idul Fitri. - Image

Menyemut: Puluhan ribu warga muslim di Malang melaksanakan salat Idul Fitri.

JawaPos.com - Puluhan ribu warga Malang, tumplek ruah di kawasan Masjid Agung Jami, Jalan Merdeka, Jumat (15/6). Mereka melaksanakan ibadah salat Idul Fitri. Uniknya, bukan hanya halaman masjid saja yang menjadi tempat salat. Potret toleransi umat beragama tersaji di kawasan Kayutangan.


Jemaah meluber hingga ke luar area masjid. Bahkan, pelataran Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Kayutangan, juga menjadi lokasi untuk salat. Dijadikannya pelataran Gereja Katolik itu untuk salat, bukan setahun dua tahun. Tradisi itu bahkan sudah berlangsung lebih dari 25 tahun.


"Pelataran kami memang selalu dipakai untuk salat. Baik Idul Fitri atau Idul Adha. Dan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun," kata pemuka agama gereja tersebut, Romo Simon Rande OCarm, kepada JawaPos.com, yang ditemui usai pelaksanaan Salat Id.


Lokasi ini, lanjut laki-laki yang sudah tiga tahun berada di Malang itu, dengan sendirinya menjadi tempat untuk salat. Sudah dapat dipastikan, jika salat Id, kaum muslim akan datang ke pelataran Gereja.


Karena sudah menjadi semacam tradisi dan rutinitas, pihak gereja, tambah Simon, sudah mempersiapkan peralatan untuk menunjang salat. Misalnya saja koran untuk alas.


"Kami juga sediakan air minum bagi mereka. Pemuda gereja yang menyiapkan. Biasanya dua hari jelang pelaksanaan Hari Raya, kami sudah koordinasi untuk persiapan," bebernya.


Bentuk toleransi umat beragama yang disajikan di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus bukan hanya menyediakan alas dan pelataran bagi warga muslim. Namun juga rela menggeser jadwal misa Minggu mereka.


Hal ini dilakukan jika salat Idul Fitri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Minggu. Misa pagi yang biasanya digelar pukul 06.00, akan ditiadakan. Sementara itu, misa pukul 08.00, akan digeser ke pukul 09.00


"Setelah kawan-kawan muslim melakukan ibadah, baru kami akan menggelar misa. Dan ini juga sudah berlangsung bertahun-tahun," imbuh Simon.


Simon menilai, kehidupan toleransi beragama di Malang sangat patut diacungi jempol. Menurutnya, daerah ini merupakan cerminan kebhinekaan Indonesia. "Saling bersuka cita jika ada perayaan agama tertentu. Tidak ada rasa asing dan menganggap pesta bersama," tandas dia. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore