
KESEMPATAN BERHARGA: Salah seorang penumpang KM Lawit mengajak anaknya bermain di perosotan dek empat (17/4).
Perjalanan puluhan jam di atas kapal memberikan kesempatan untuk bermain dengan anak, melepas jenuh di buritan dengan genjrengan, dan janjian untuk pulang bersama setiba di daratan.
DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya
---
ANDIKA Saputra tengah berada di luar dek lima saat suling kapal berbunyi, tanda perjalanan KM Lawit dari Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, dimulai. Pria asal Lamongan itu menggendong sang putra, Bastian, dan menunjuk ke ufuk dengan pendar cahaya matahari yang baru bangun dari tidur.
”Momen ini hanya didapat saat naik kapal laut,” terang Andika kepada Jawa Pos pada Senin (17/4) pagi lalu itu.
Setelah satu setengah jam perjalanan awal dihabiskan di luar dek, Andika bersama sang istri, Yuliani, dan Bastian pun masuk ke dek empat ekonomi.
Keluarga kecil itu membawa dua ransel dan satu koper besar untuk perjalanan mudik kali ini. Dan, selama keluar dari dek, semuanya mereka titipkan kepada Sumiati yang baru saja mereka kenal.
”Ya wis biasa, podo-podo wong Jawa Timur, dadi wes koyok dulur (Sudah biasa, sama-sama orang Jawa Timur, sudah seperti saudara),” terang Sumiati yang berasal dari Bojonegoro, kabupaten yang kebetulan bertetangga dengan Lamongan di sisi utara Jawa Timur, tentang apa yang membuatnya rela menjaga barang-barang orang yang baru dikenal.
Budaya saling menjaga barang antar penumpang biasa ditemui saat di kapal. Ikatan persaudaraan senasib sepenanggungan dan sama-sama menjadi pekerja di tanah rantau menjadikan ikatan emosial itu semakin kuat.
Sebagaimana Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini yang berisi liku-liku sang tokoh utama, perjalanan sebuah kapal PT Pelni seperti KM Lawit pun bisa dihiasi banyak kisah. Baik tentang persahabatan, persaudaraan, perjuangan, maupun arti pulang kampung.
Hartono, pemudik asal Madiun, Jawa Timur, misalnya, memanfaatkan betul 26 jam perjalanan dari Kumai ke Surabaya untuk lebih dekat dengan sang anak, Gigih Putra Pratama. Maklum, hari-harinya di Kecamatan Manis Mata, Kalimantan Barat, selalu disibukkan dengan pekerjaan di perkebunan sawit. ”Ya namanya juga buruh, jadi jarang libur,” terangnya.
Selain berjejer kasur yang memanjang dengan nomor tempat duduk di atasnya, di dek empat kelas ekonomi terdapat perosotan anak. Fasilitas itulah yang dimanfaatkan Hartono untuk mengajak sang anak bermain.
Menjelang sore, saat KM Lawit sudah berada di Laut Jawa, terdengar suara dari ruang informasi bahwa ada pembagian makanan buka puasa pukul 17.00 di pantri dek tiga. Hartono bergegas mengantre. Antrean panjang pun segera terbentuk.
Namun, semua penumpang tertib membentuk barisan. Dan, tidak menunggu lama masing-masing sudah mendapat jatah makanan.
Tepat pukul 17.34, azan Magrib berkumandang dari informasi kapal. Para penumpang mulai menyantap tongkol balado yang menjadi menu hari itu. Ditambah susu formula yang dibagikan petugas kapal.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
