Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 April 2024 | 01.40 WIB

Menelusuri Asal Usul Ketupat, Hidangan Khas yang Selalu Disajikan Tiap Momen Lebaran

Kulit ketupat dari daun kelapa yang masih muda atau janur. - Image

Kulit ketupat dari daun kelapa yang masih muda atau janur.

JawaPos.com - Di setiap sudut rumah yang didekorasi ala hari raya, dalam setiap momen kehangatan saat berkumpul dengan keluarga, dan di setiap gigitan hidangan yang penuh kenikmatan, ada satu hidangan yang selalu menjadi bintang utama setiap perayaan Hari Raya, tidak lain dan tidak bukan yaitu ketupat.

Di Indonesia, setiap momen perayaan Hari Raya, aroma harum dan cita rasa lezat menyatu dalam satu hidangan klasik yang tak pernah absen tiap tahunnya, ketupat. Begitu banyak yang menikmatinya, namun sedikit yang mengenal perjalanan panjang dan kisah menarik di balik kemunculannya yang tak lekang oleh waktu

Lebih dari sekedar hidangan, Ketupat memiliki beragam makna dibalik bentuknya. Mari kita berkelana pada masa lalu yang kaya akan cerita, menelusuri bagaimana jejak perjalanan ketupat dari asal-usulnya yang sederhana hingga menjadi ikon tak tergantikan dalam perayaan hari yang penuh dengan kebahagiaan.

Dilansir dari situs resmi NU Online, Kata "ketupat" atau "kupat" memiliki asal-usul dari bahasa Jawa yaitu "ngaku lepat", yang artinya "mengakui kesalahan". Dengan demikian, di balik makna ketupat, sesama Muslim diharapkan untuk mengakui kesalahan, saling memaafkan, dan melupakan kesalahan tersebut.

Bungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning melambangkan penolak bala bagi masyarakat Jawa. Bentuk ketupat yang bersegi empat mencerminkan prinsip "kiblat papat lima pancer", yang mengandung makna bahwa manusia, di mana pun mereka berada, akan selalu kembali kepada Allah SWT.

Keunikan dari anyaman bungkus ketupat yang rumit mencerminkan beragam kesalahan yang dilakukan manusia. Sedangkan, warna putih ketupat ketika dibelah dua menggambarkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan. Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah perayaan Hari Raya.

Umumnya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ternyata, ada makna filosofisnya juga yang terkandung di balik kombinasi ini. Opor ayam mengandalkan santan sebagai salah satu komponennya. Santan, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai santen, memiliki arti "pangapunten", yang berarti memohon maaf.

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, yang dikutip oleh Historia, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah pada abad ke-15, ketupat dianggap sebagai simbol perayaan Hari Raya Islam. Bungkus ketupat yang terbuat dari janur digunakan untuk mencerminkan identitas masyarakat pesisir yang didominasi oleh pertumbuhan pohon kelapa atau nyiur.

Masyarakat pesisir, yang sering kali identik dengan makanan khas yang dibungkus dengan janur, karena lingkungannya di pinggir pantai yang dikelilingi oleh pohon kelapa. kemudian hal tersebutlah yang menginspirasi Sunan Kalijaga untuk menggunakan ketupat sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam.

Penggunaan ketupat sebagai simbol perayaan Lebaran semakin menyebar di kalangan umat Islam ketika Sunan Kalijaga mengangkatnya sebagai simbol khas perayaan Lebaran. Tradisi ini dirayakan pada tanggal 8 Syawal, yaitu seminggu setelah Idul Fitri dan setelah puasa enam hari Syawal.

Tidak hanya jadi makanan khas di Jawa, ketupat telah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Ini terlihat dari berbagai makanan khas daerah yang memasukkan ketupat sebagai bagian dari hidangannya.

Contohnya adalah kupat tahu (Sunda), kupat glabed (Tegal), Coto Makassar, ketupat sayur (Padang), Sate Padang, Laksa (Cibinong), doclang (Cirebon), gado-gado, sate ayam, dan kadang-kadang disajikan dengan bakso.

Hingga kini, masyarakat di keraton Ubud, Bali juga masih menjaga tradisi menyajikan ketupat dalam setiap upacaranya. Dengan demikian, ketupat sebagai makanan khas Nusantara masih menjadi bagian dari upacara-upacara keagamaan yang tidak hanya diadakan oleh masyarakat Muslim, tetapi juga masyarakat Hindu, dan masyarakat yang mempraktikkan kepercayaan-kepercayaan lokal.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore