JawaPos.com - Saat beribadah atau salat, pernahkah Anda merasa tidak khusyuk? Jika pernah, sebenarnya apa penyebab dari tidak khusyuk-nya beribadah?
Dilansir dari laman NU Online, Minggu (31/3), Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan seseorang tidak bisa khusyuk beribadah kepada Allah SWT adalah terlampau banyak dunia yang dimiliki.
Alih-alih khusyuk, bila terlalu banyak harta benda, isi pikirannya hanya soal dunia.
"Orang yang tak bisa khusyuk itu karena dunianya terlalu banyak," katanya saat ngaji Syarah Al-Hikam dalam YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Jum'at (29/3) lalu.
Dia menyampaikan, orang yang memiliki harta melimpah jangan dikira bakal selalu hidup enak. Bisa saja, harta-hartanya itu justru membuat hidupnya tidak tenang.
Bahkan, pikirannya selalu was-was akan hartanya diambil orang atau bisnisnya tidak lagi memberikan dampak ekonomi yang menjanjikan.
"Rumahnya banyak, mobilnya banyak, pabriknya banyak, bagaimana bisa khusyu. Pikirannya ke mana-mana," ucap pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini.
Menurut Kiai Miftachul, pada dasarnya manusia bukan berarti tidak butuh dunia. Dunia tetap penting untuk tujuan akhirat. Namun yang perlu diingat, hidup di dunia kadang tidak selalu berpihak.
Usia manusia pun tidak bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Manusia pada saatnya semua akan kembali kepada zat yang menciptakan yaitu Allah SWT.
Maka dari itu, orang yang diberikan Allah SWT rezeki lebih, hendaknya berbanding lurus dengan kuantitas dan kualitas yang bersumber langsung kepada sang pemberi rezeki. Sehingga, hatinya juga harus khusyu beribadah kepada Allah SWT.
"Kalau tidak punya apa-apa tidak ada yang dipikir. Itu lebih bagus. Lebih bagus lagi, pabriknya banyak, mobilnya juga banyak, rumahnya di mana-mana, tapi hatinya khusyu," tambah Kiai Miftach, sapaan akrabnya.
Pada intinya, jangan diartikan hatinya ingat akhirat, tetapi tidak ingat dunia hingga mengabaikan dunia. Urusan dunia kewajiban dan bagaimana kita menjadi pelayan dunia ini (melayani umat).
Ditambahkannya, dunia harus diletakkan di tangan bukan di hati. Karena, kalau di hati, ia akan terlampau cinta dunia. Berbeda ketika dunia diletakkan di tangan, pemiliknya harus siap kapan saja melepaskan dunia tersebut.
Kiai Miftach juga berpesan agar setiap individu mengoreksi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi setelah sekian lama mengerjakan berbagai ibadah.
"Coba dirasakan, panjenengan sudah berapa puluh tahun ibadah, puasa, shalat. Kalau usia 60 tahun, sudah berapa ibadah yang kita dilakukan. Ada tidak rasa manis dalam ibadah, ada tidak perubahan, ada tidak rasa menerima perintah itu ada nilai tambahnya?" paparnya.
Apabila benar-benar tidak ada perubahan, maka harus ada hal yang dikoreksi. Yaitu, hatinya yang mungkin terlalu cinta terhadap dunia. Hal ini tentu bisa mengganggu kualitas ibadah kepada Allah SWT sehingga tidak pernah khusyu.
"Ada apa sebenarnya, kok selama ini masih sama saja seperti ini. Sering tidak ada nilai tambah maka, hal ini harus dicurigai," tandasnya. ***