
Photo
JawaPos.com - Di kota metropolitan Turki, Istanbul, penabuh genderang dengan pakaian gaya Ottoman tetap menjaga tradisi kuno Ramadan. Mereka bertugas menabuh genderang pada dini hari untuk membangunkan warga untuk makan sahur.
Sedikitnya ada lebih dari 3 ribu pemain genderang berkumpul untuk membangunkan penduduk untuk makan sahur. Salah satunya adalah Fikir Çığıcı. Dia mengatakan telah berada di Istanbul selama 40 tahun terakhir dari provinsi Kahramanmaraş di Mediterania. Alasan utamanya adalah untuk memainkan genderang selama bulan suci Ramadan.
“Memukul genderang saat Ramadan adalah tradisi keluarga bagi kami. Saya mempelajarinya dari ayah saya, dan sekarang saya meneruskannya kepada anak-anak saya," kata Çığıcı kepada harian Hürriyet.
Seringkali orang yang terbangun memberi tip kepada para penabuh sebagai bagian dari tradisi. “Kami mencoba memberi makan perut kami dengan uang tip ini. Semoga Ramadan kali ini membuahkan hasil bagi kami,” katanya.
Tradisi menabuh genderang selama Ramadan tidak hanya lazim di Istanbul tetapi tersebar luas di seluruh negeri. Talip İster, 75, dari provinsi distrik Altınözü Hatay dan dikenal sebagai paman Talip, telah menggunakan genderang hadiah hampir dua dekade lalu dari wali kota provinsi tersebut.
Terlepas dari usianya, İster, satu-satunya penabuh genderang di lingkungan itu, telah melakukan pekerjaannya dengan rajin setiap Ramadan selama dua dekade terakhir. Dia tidak memiliki anak dan menghabiskan hidup bersama istrinya. Selain dari masa pensiunnya, dia telah bertahan hidup dari pendapatan yang diperolehnya selama bulan Ramadan dengan menabuh genderang di jalanan.
Berbicara kepada Anadolu Agency yang dikelola negara, İster mengatakan dia menyukai pekerjaannya dan bisa bermain dengan baik meski usianya sudah sepuh. “Saya puas dan bahagia, terima kasih Tuhan. Saya akan terus bermain genderang di bulan yang penuh berkah ini," katanya.
Mehmet Marık, 63, telah berkeliling provinsi Aegean di lingkungan Sofular Denizli selama hampir setengah abad. “Saya bangun jam dua pagi, lalu berbondong-bondong ke jalan dengan membawa genderang. Ini adalah pekerjaan saya," kata Marik.
“Saat saya membangunkan orang untuk makan sahur, saya merasa senang. Ini membuat saya terus menabuh genderang sebanyak yang saya bisa," jelas Marik.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
