Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Juni 2017 | 01.31 WIB

Kunjungi Masjid Tertua Sarat Sejarah, Batu Tambatan Kapal Jadi Saksi

ARTISTIK: Masjid Pesucinan di Gresik dibangun oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Pesucinan berarti tempat menyucikan diri. - Image

ARTISTIK: Masjid Pesucinan di Gresik dibangun oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Pesucinan berarti tempat menyucikan diri.


Sejarah peradaban Islam di Nusantara terserak di Kabupaten Gresik. Bahkan, masjid tertua di Pulau Jawa disebut-sebut berada di Kota Wali itu. Namanya Masjid Pesucinan. Didirikan langsung oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim pada 1389 Masehi.





MASJID Pesucinan di Desa Leran, Manyar, cukup terkenal di wilayah pantura. Untuk menuju masjid tersebut, pengunjung harus melintasi jalan kampung berpaving sejauh 2,5 kilometer dari Jalan Raya Manyar. Sebagian jalan yang dilewati merupakan jalan tambak. Di sudut jalan terdapat petunjuk berupa plakat dengan tulisan ’’Masjid Pesucinan peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim.”



Dari luar, tanda-tanda sebagai masjid tertua sama sekali tidak tampak. Nyaris tidak ada nuansa kuno di Masjid Pesucinan. Sama seperti masjid pada umumnya. Seluruh lantai masjid dilapisi keramik dengan cat tembok putih mentereng. Atap genting juga bagus.



Memasuki areal masjid, pengunjung disambut gerbang yang melengkung cukup besar. Di atasnya ada kaligrafi bercorak emas dengan tulisan Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim. ’’Masjid ini memang sudah mengalami pemugaran total,” kata Malikhan, 63, pengurus masjid. Dia menuturkan, pemugaran besar-besaran dilakukan pada 1960 hingga 1970-an. Pemugaran membuat bentuk masjid berubah total. Saat ini bangunan masjid berukuran sekitar 50 x 80 meter.



Sebelum pemugaran total, Masjid Pesucinan hanya berukuran sekitar 7 x 8 meter. Dindingnya terbuat dari kayu hutan dengan atap sirap yang juga dari kayu. Karena atapnya rusak dimakan usia, warga Pesucinan kemudian menggantinya dengan anyaman daun kelapa (welit). Rusak lagi, atap kembali diganti dengan seng. Nah, karena bangunan dianggap tidak layak lagi, akhirnya pada 1960-an dilakukan pemugaran total atas persetujuan masyarakat sekitar. Karena itu, muncul bentuk seperti sekarang.



’’Beduk, kayu, dan atap bangunan lama semuanya disimpan di Museum Maulana Malik Ibrahim,” tutur Malikhan.



Yang masih tersisa dari bangunan lama hanya mimbar masjid. Warga tidak berani membongkar bagian mimbar karena bentuk penghormatan terhadap Syekh Maulana Malik Ibrahim. Mimbar itu kini berada di dalam masjid hasil pemugaran.



Salah satu ciri Masjid Pesucinan sebagai masjid tua terlihat dari pucuk atap. Di situ ada kubah kecil berbentuk limas. Terdapat ornamen ukiran yang dipasang di bagian ujung atap. Selain itu, di dalam masjid masih ada bukti peninggalan berupa kolam sebagai tempat wudu. Telaga berukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman sekitar 2,5 meter itu berada di dalam masjid hasil pemugaran. Letaknya di sisi kanan mimbar masjid lama. Hingga kini, air kolam tersebut dipercaya bisa mendatangkan berkah. Salah satunya sebagai obat. ’’Selain sebagai tempat wudu, banyak pengunjung yang membawa air untuk obat,” terang Mukhlasin, pengurus masjid yang lain.



Tidak banyak catatan sejarah yang membuktikan bahwa Masjid Pesucinan merupakan masjid tertua di Pulau Jawa. Ketua Masyarakat Sejarah Gresik Mustakim menyatakan, anggapan tersebut mengacu pada kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim pada 1389 Masehi. Tidak lama setelah di sana, wali pertama itu lantas membangun sebuah masjid di kawasan tersebut. Nama yang diberikan untuk masjid itu adalah Pesucinan. Dalam bahasa Jawa, nama tersebut berarti tempat menyucikan diri. ’’Nama Pesucinan berarti menyucikan masyarakat setempat dari pengaruh Majapahit yang masih memeluk Hindu-Buddha,” jelas Mustakim.



Pemerhati sejarah Dr Muhammad Toha punya pandangan serupa. Dia menyatakan, kala itu daerah Pesucinan merupakan tempat pendaratan kapal Syekh Maulana Malik Ibrahim ketika kali pertama datang pada 1389 Masehi. Daerah tersebut dijadikan sebagai dermaga karena posisinya persis di pinggir laut. Dugaan tersebut dikuatkan dengan penemuan batu tua setinggi 0,5 meter di sudut sisi timur masjid. Benda itu diyakini sebagai tambatan kapal Syekh Maulana Malik Ibrahim. Tempat tersebut juga diyakini menjadi tempat bersandar kapal Siti Fatimah binti Maemun pada 1081 Masehi. ’’Itulah mengapa desa ini diberi nama Desa Leran,” kata Muhammad Toha.



Namun, nama ’’Leran” muncul dari dua versi. Pertama, berasal dari kata ler-leran dalam bahasa kromo inggil Jawa kuno yang artinya wilayah utara. Makna itu tepat karena wilayah tersebut merupakan wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Ada juga versi lain yang menyebut Leran berasal dari bahasa Jawa ’’leren” yang artinya berhenti. Lalu, lama-kelamaan menjadi Leran. ’’Disebut leren karena tempat singgah atau berlabuhnya kapal,” papar Muhammad Toha. (umar wirahadi/c6/oni)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore