Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Juni 2017 | 03.30 WIB

Baca Doa, Bola Api pun Terasa Dingin

BERGEMBIRA: Santri Ponpes Sabilur Rosyad Al-Utsmani, Sidoarjo bermain bola api. - Image

BERGEMBIRA: Santri Ponpes Sabilur Rosyad Al-Utsmani, Sidoarjo bermain bola api.


JawaPos.com- Giring, umpan, tendang, dan Gol...! Suara bocah-bocah yang sedang bermain bola api itu terdengar lantang. Mereka adalah santri Ponpes Sabilur Rosyad Al-Utsmani, Sidoarjo.



Keceriaan tampak begitu jelas. Terlebih saat menggiring bola api yang cahayanya menyinari ekspresi girang dan penuh antusias itu. Percikan bunga api sesekali mencuat saat bocah-bocah tersebut menendangnya dengan kaki telanjang. Tanpa sepatu atau alas apa pun. Mereka tak merasakan panas atau merintih kesakitan sedikit pun.



Meski lampu-lampu mengelilingi lapangan, cahaya yang timbul dari bara bola api tampak begitu kuat. Cahaya bola api itu menerangi tubuh bocah-bocah yang mengenakan seragam hitam tersebut. Permainan bola api terbagi atas dua tim. Sama halnya dengan permainan bola pada umumnya. Tiap tim berisi enam hingga tujuh orang. Terkadang jumlahnya dapat lebih dari itu. Bergantung santri yang hendak bermain. Peraturan permainan sama halnya dengan sepak bola pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan bola api.



Bola api berasal dari bahan sederhana. Para santri mencari kelapa yang berukuran dan bentuknya menyerupai bola sepak. Kemudian, mereka merendam kelapa tersebut dalam minyak gas selama beberapa jam. Umumnya, perendaman memakan waktu lebih dari dua jam. Makin lama terendam, kelapa akan menyerap minyak dan terbakar dalam waktu lama.



Santri hanya memainkan bola api saat malam. Pada Ramadan, mereka kerap memainkannya setelah salat Tarawih dan mengaji. Mereka lebih sering memainkannya pada Sabtu malam. Terkadang mereka juga memainkannya ketika memasuki libur sekolah. Permainan itu memang bertujuan mengejar kegembiraan semata. Sambil menunggu waktu sahur tiba.



Tidak sembarang orang boleh memainkan bola panas tersebut. Sebab, kulit kaki bisa melepuh bila bersentuhan dengan bola api. Para pemain bola api umumnya adalah santri terlatih yang tergabung dalam perguruan pencak silat. Mereka telah mengantongi ilmu kanuragan.



Santri mendapatkan pelajaran mistis. Misalnya, berpuasa selama beberapa hari, menjauhi makanan-makanan tertentu, dan mengamalkan doa-doa khusus. Tujuannya, memperoleh restu dari Sang Pencipta. Termasuk izin merasakan yang panas menjadi dingin dan izin agar tubuh tak tersakiti selama bersentuhan dengan benda panas.



Tak terasa panas dan lepuh sedikit pun pada kulit mereka. Meski lubang-lubang kecil timbul di bagian celana dan baju hitam karena tersulut bunga api. ”Seru. Gak sakit dan gak panas nih. Kaya main bola biasa,” ucap salah seorang santri, Victor Ramadhan. Meski telah berbekal ilmu kanuragan, para santri tak lantas lupa diri. Mereka memanjatkan doa dan memohon izin kepada Allah sebelum memulai permainan.



Pembina Perguruan Silat Sabilur Rosyad Al-Utsmani yang juga wasit permainan Taufiq Hidayat memimpin jalannya doa. Mereka membentuk barisan melingkar dengan mata terpejam. ”Apa yang menurut kita panas itu dingin. Dengan rahmat Allah, semoga kita diizinkan. Bismillahirahmanirahim,” ujarnya.



Doa yang berjalan dua menit itu membuka jalannya pertandingan. Selanjutnya, dua tim mengambil posisi masing-masing. Begitu bola api menyala, wasit melemparnya ke atas. Dua tim mulai berebut. Mereka menggiring bola tersebut ke seluruh penjuru lapangan dengan penuh keceriaan. Mereka berupaya mencetak gol. Sambil menunggu giliran bermain, santri lain terlihat meneguk minyak, lalu menyemburkannya pada batang kayu api yang sedang menyala. Semburan api yang memanjang pun muncul.



Pembina Ponpes Sabilur Rosyad Al-Utsmani KH Amiruddin Mu’in menyatakan, tim silat beserta kesenian permainan bola api merupakan tradisi yang turun-temurun. Pihaknya melestarikan hal itu sebagai upaya menjaga tradisi dan budaya.



Perguruan Pencak Silat Sabilur Rosyad Al-Utsmani berdiri sejak 1977. Awalnya, pencak silat bertujuan menggaet warga sekitar agar kukuh memegang nilai-nilai agama Islam. Sebab, saat itu warga sekitar hidup dalam kubang kriminalitas. ”Kami tarik perhatian warga dengan atraksi silat,” jelasnya.



Perguruan Pencak Silat Sabilur Rosyad Al-Utsmani mengadaptasi aliran silat yang gerakan-gerakannya turun-temurun. Gerakan-gerakan dalam aliran silat banyak digunakan saat Perang Paregreg. Yakni. perang antarsaudara Kerajaan Majapahit yang berlangsung pada abad ke-14. Para pembina mempelajari aliran silat tersebut saat menempuh ilmu di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.



Total terdapat 15 jurus di perguruan itu. Penggunaan jurus-jurus tersebut bermaksud mematahkan serangan lawan dan melindungi dari kejahatan. Salah satu jurusnya bernama bunter. Itu adalah teknik memukul perut lawan untuk mematahkan serangan. Gerakan pada bunter berupa pukulan dan cengkeraman yang tertuju pada perut dan dada lawan.



Dalam perkembangannya, atraksi demi atraksi itu menarik perhatian warga. Lalu, mereka belajar pencak silat. Para pembesar pencak silat Sabilur Rosyad Al-Utsmani menyisipkan ilmu-ilmu agama. Mereka yang hendak mempelajari silat juga dibekali ilmu agama dan ibadah. Akhirnya, mereka memiliki pengetahuan agama yang kuat. Kasus-kasus kriminalitas tak lagi melekat pada kehidupan warga yang tinggal di sekitar ponpes. ”Akhirnya, banyak yang ingin belajar ilmu agama di sini,” ungkapnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore