Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Juni 2026 | 21.01 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Biarkan Angin Duduk, Bisa Sebabkan Serangan Jantung

Ilustrasi penderita angin duduk. (freepik /orion_production) - Image

Ilustrasi penderita angin duduk. (freepik /orion_production)

JawaPos.com – Angin duduk yang selama ini kerap dianggap sebagai masuk angin biasa dan diatasi dengan cara tradisional seperti kerokan ternyata bisa menjadi tanda penyakit jantung serius. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi serangan jantung hingga menyebabkan kematian mendadak apabila tidak segera ditangani.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, mengatakan angin duduk sebenarnya dalam dunia medis disebut dengan angina pektoris, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup.

Menurutnya, masyarakat perlu waspada apabila nyeri terasa seperti ditekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan, maupun muncul saat sedang beristirahat.

"Terutama bila nyeri terasa seperti ditekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan, atau muncul bahkan saat beristirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda peringatan angina tidak stabil atau infark miokard akut," katanya kepada wartawan, Selasa (9/6).

Risiko Serangan Jantung dan Kematian Mendadak
Oleh karena itu, dr. Pita memperingatkan bahwa mengabaikan gejala angin duduk dapat berakibat fatal.

"Jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak. Pasien perlu segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan memulai pengobatan yang sesuai," ungkapnya.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami nyeri dada yang mencurigakan agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Pentingnya Mengendalikan Kolesterol Jahat
Dalam kesempatan yang sama, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, menjelaskan bahwa pengendalian kadar LDL-C atau kolesterol jahat hingga di bawah 55 mg/dL menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengurangi risiko penyebab angina.

Menurutnya, bagi pasien yang sulit mencapai target kolesterol dengan terapi statin tunggal atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi, pendekatan kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan.

"Bagi pasien yang sulit mencapai target dengan terapi statin tunggal konvensional, atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi, pendekatan jalur ganda atau dual-pathway berbasis kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan yang efektif," ujar dr. Wicak.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore