Prof. Dr. dr. Teguh Santoso, SpJP(K)—dokter spesialis jantung intervens dalam sesi wawancara bersama awak media, Jumat (10/5)/(Foto: Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com – Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Meski pengobatan dan teknologi terus berkembang, tantangan dalam menangani penyakit ini tetap besar, terutama terkait risiko penyempitan ulang pembuluh darah setelah prosedur pemasangan stent (penyangga pembuluh darah).
Namun kini, dunia medis, khususnya Intervensi Jantung kedatangan teknologi baru bernama Bioadaptor yang dinilai bisa mengubah cara kita menangani penyakit jantung secara lebih alami dan berkelanjutan.
Salah satu rumah sakit yang telah menerapkan teknologi ini adalah RS Medistra Jakarta, tempat Prof. Dr. dr. Teguh Santoso, SpJP(K)—dokter spesialis jantung intervensi—telah menggunakan Bioadaptor dalam beberapa tindakan angioplasti koroner. Teguh menjelaskan potensi besar teknologi ini dalam memberikan harapan baru bagi pasien jantung.
“Bioadaptor berbeda dari stent konvensional dirancang untuk bisa menyesuaikan diri dengan gerak alami pembuluh darah. Dia menopang saat dibutuhkan, lalu memberi ruang bagi pembuluh darah untuk kembali bergerak secara fisiologis,” ujar Teguh dalam sesi wawancara dengan media pada Jumat (10/5).
Teknologi Bioadaptor dikembangkan oleh Elixir Medical Corporation, yang baru-baru ini dinobatkan sebagai perusahaan alat kesehatan paling inovatif oleh Fast Company. Dibandingkan stent jantung bersalut obat (drug-eluting stent/DES) yang umum digunakan, Bioadaptor hadir dengan mekanisme berbeda.
Perangkat ini menggunakan desain khusus berbahan polimer dan logam yang mampu “melepaskan diri” secara perlahan dalam jangka waktu tertentu, memungkinkan pembuluh darah untuk kembali fleksibel, berdetak, dan menyesuaikan diri seperti sebelum terkena sumbatan.
“Bioadaptor tidak sekadar membuka pembuluh yang tersumbat, tapi juga memberi peluang tubuh memperbaiki dirinya sendiri. Ini adalah pendekatan yang lebih fisiologis,” jelasnya.
Efektif Mencegah Komplikasi Jangka Panjang
Salah satu masalah umum dari pemasangan stent adalah risiko restenosis, yaitu penyempitan ulang yang bisa muncul beberapa bulan atau tahun setelah tindakan. Hal ini bisa menyebabkan pasien harus menjalani prosedur ulang yang tentu tidak hanya mengganggu kualitas hidup, tetapi juga menambah beban biaya pengobatan.
Namun berdasarkan dua uji klinis acak internasional (randomized clinical trials) yang melibatkan pasien dari berbagai negara, Bioadaptor menunjukkan performa yang stabil dalam periode pemantauan 12 bulan hingga 24 bulan. Hasilnya, pembuluh darah pasien tetap terbuka, lentur, dan berfungsi secara alami tanpa menunjukkan gejala sumbatan ulang yang berarti.
“Pasien yang kami tangani dengan Bioadaptor sejauh ini menunjukkan perkembangan sangat baik. Risiko komplikasi jangka panjang sangat rendah, dan tindakan tambahan pun bisa dihindari,” kata Teguh.
Lebih Mahal di Awal, Lebih Ekonomis dalam Jangka Panjang
Tak bisa dipungkiri, sebagai teknologi baru, Bioadaptor memang memiliki harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan stent konvensional. Namun menurut Teguh, justru di sinilah letak efisiensi sebenarnya.
“Kalau dihitung-hitung, biaya tambahan di awal akan tertutupi karena pasien tidak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit untuk pasang ulang stent. Ini jauh lebih ekonomis secara jangka panjang,” ujarnya.
Selain RS Medistra, teknologi Bioadaptor juga mulai diperkenalkan di beberapa rumah sakit besar lainnya di Indonesia yang memiliki fasilitas Cathlab (kateterisasi jantung) memadai. Seiring meningkatnya pemahaman tenaga medis dan pasien, kehadiran Bioadaptor diperkirakan akan semakin luas digunakan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
