
Gambaran dari Generasi N-Po yang Mudah Menyerah dan Kecil Hati (thumbsup.in.th)
JawaPos.com - Di tengah-tengah melonjaknya biaya hidup dan meningkatnya tingkat pengangguran, persaingan antara laki-laki dan perempuan semakin ketat di Korea Selatan.
Generasi muda, yang kini dikenal sebagai ‘Generasi N-Po’ atau secara kasar diterjemahkan sebagai ‘generasi yang telah menyerah’, merasa terbebani oleh ketidakmampuan mencapai impian yang dianggap remeh oleh generasi sebelumnya.
Bagi mereka, menikah, mempunyai anak, mendapatkan pekerjaan stabil, memiliki rumah, dan bahkan menjaga persahabatan tampak seperti impian yang semakin sulit diwujudkan.
Generasi N-Po merasakan keputusasaan yang mendalam akibat berbagai masalah dalam keluarga, pekerjaan, sosial, politik, akademik, atau lingkungan, sehingga terkadang mereka merasa hampir tidak mungkin untuk tidak menyerah.
Meskipun semua gender merasakan ketidakpastian dan rasa kecil hati, tindakan ‘menyerah’ telah memberikan beban tambahan pada perempuan.
Dilansir dari fortune.com oleh JawaPos.com, di dalam masyarakat terutama di Korea Selatan, perempuan yang belum menikah dan tidak memiliki anak dianggap sebagai sosok yang egois oleh pria.
Ketika perempuan mencoba bersaing dengan laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, dinamika ini dapat memicu reaksi negatif dari beberapa laki-laki yang merasa terancam dan bahkan marah, menciptakan suatu ketegangan gender yang semakin kompleks.
Situasi ini tidak hanya menciptakan rintangan lebih besar bagi perempuan dalam mencapai kesetaraan, tetapi juga menggambarkan betapa sulitnya bagi mereka untuk mengatasi stereotip dan ekspektasi gender yang membatasi potensi mereka di berbagai bidang kehidupan.
Fenomena yang mencemaskan lain yang muncul di mana banyak laki-laki mengambil jalur radikal dengan melakukan kejahatan seks digital sebagai bentuk balas dendam terhadap perempuan, yang menurut pandangan mereka, dianggap meninggalkan ‘tugasnya’.
Generasi muda Korea, atau yang dikenal sebagai generasi N-Po, terpaksa terlibat dalam pekerjaan paruh waktu untuk mengatasi beban biaya sekolah dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Meskipun beberapa ilmuwan berpendapat bahwa tertawa dapat menjadi penawar rasa sakit, generasi ini belum sepenuhnya yakin dengan pemikiran tersebut.
Mereka dihadapkan pada kenyataan sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus, yang tidak hanya merugikan kebahagiaan mereka, tetapi juga menambah ketidakpastian di tengah persaingan kerja yang ketat.
Bahkan bagi mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan, kekhawatiran tentang pernikahan menjadi beban tambahan.
Dengan kekhawatiran tentang kemampuan membeli rumah sebagai salah satu perhatian utama yang mewarnai pandangan masa depan mereka.
Di Korea, nilai posisi sosial dianggap lebih krusial daripada reputasi nama pribadi, konsultasi dengan psikiater kurang populer.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
