
Orang tua yang sedang memarahi anaknya. (Pexels/Photo by RDNE Stock project)
JawaPos.com - Kekerasan terhadap anak, atau yang dikenal dengan istilah child abuse, bukan hanya tindakan fisik yang meninggalkan luka. Dalam banyak kasus, penyiksaan terjadi secara emosional, verbal, bahkan dalam bentuk pengabaian yang tidak kasat mata.
Fenomena child abuse sering kali bermula dari dinamika keluarga, tekanan psikologis, hingga kurangnya pengetahuan orang tua tentang pola asuh yang sehat.
Dilansir dari Healthline pada Senin (26/05), berikut adalah penjelasan mendalam mengenai akar terjadinya child abuse serta berbagai penyebab yang menjadi faktor pemicu kekerasan pada anak. Dengan memahami hal ini, setiap orang tua atau pengasuh bisa lebih siap dalam mencegah terjadinya tindakan yang merugikan perkembangan anak secara fisik maupun mental.
Akar Terjadinya Child Abuse: Memahami Faktor Risiko dan Penyebabnya
1. Pengalaman Masa Kecil yang Kelam
Seseorang yang pernah mengalami kekerasan atau pengabaian saat kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi melakukan hal serupa saat dewasa. Luka masa lalu yang tidak sembuh bisa berubah menjadi pola pengasuhan yang menyakitkan, terutama jika tidak dibarengi dengan dukungan emosional atau bantuan profesional.
2. Gangguan Mental dan Ketergantungan Zat
Masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan cemas, atau PTSD, serta kecanduan alkohol atau obat-obatan, dapat memicu perilaku kekerasan. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah kehilangan kendali saat menghadapi tekanan dalam mengasuh anak.
3. Hubungan yang Tidak Harmonis dengan Anak
Minimnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak bisa jadi titik awal munculnya penyiksaan. Saat hubungan ini dipenuhi konflik, orang tua lebih mudah terpancing emosi dan menggunakan kekerasan sebagai bentuk “disiplin.”
4. Tekanan Ekonomi dan Sosial
Masalah finansial, kehilangan pekerjaan, atau penyakit serius dalam keluarga menciptakan stres luar biasa. Dalam kondisi seperti ini, anak sering kali jadi pelampiasan kemarahan atau frustasi orang tua.
5. Minimnya Pengetahuan tentang Perkembangan Anak
Sebagian orang tua memiliki ekspektasi tidak realistis terhadap anak, seperti menuntut anak usia balita untuk bersikap seperti orang dewasa. Ketidaktahuan ini bisa memicu rasa kecewa dan perlakuan kasar, padahal anak tersebut belum siap secara usia dan kemampuan.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
