
Ilustrasi gangguan mental./its.ac.id
JawaPos.com - Kesenjangan akan terjadi ketika gangguan mental mulai dianggap sebagai suatu hal yang normal, bahkan wajib untuk dinikmati.
Alih-alih berani menghadapi gangguan mental dengan cara merayakannya, seseorang malah akan terjebak dalam perasaan-perasaan depresi yang sebenarnya belum tentu mereka alami.
Menormalisasi perasaan gangguan mental sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, menjadi awal dari munculnya sebuah istilah yang amat sangat berbahaya bernama romantisisasi depresi.
Dikutip JawaPos.com dari web resmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Romantisisasi depresi merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengekspresikan gangguan mental sebagai sesuatu yang indah dan glamor.
Para penganut romantisisasi depresi seringkali menganggap gangguan mental adalah hal yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya.
Fenomena romantisisasi depresi yang sedang tren di kalangan milenial dan gen Z ini membuat gangguan mental menjadi sesuatu hal yang banyak diinginkan oleh orang-orang.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang dengan sengaja ‘memunculkan’ gejala gangguan mental tersebut agar terlihat benar-benar mengalaminya.
Pada dasarnya, seseorang yang mengalami romantisisasi depresi memiliki obsesi untuk diperhatikan banyak orang.
Tak jarang juga, mereka menganggap bahwa gangguan mental yang mereka alami membuat mereka menjadi unik karena berbeda dari orang kebanyakan.
Seseorang yang meromantisisasi depresi, acapkali menggunakan ungkapan-ungkapan yang tak dimengerti oleh orang awam untuk memberitahukan perasaannya, seperti “Setelah kenyang depresiku langsung hilang, aku unik ya?”atau bisa juga “Capek banget, waktunya ber-overthinking ria!”.
Jika fenomena ini tidak segera dihentikan, maka self diagnosed pun akan semakin ramai dilakukan.
Dalam hal ini, self diagnosed bukan hanya dapat membahayakan diri sendiri saja, tetapi juga orang lain.
Semakin banyak orang yang melakukan diagnosis mandiri, maka akan semakin banyak pula orang yang akan menganggap dirinya mengalami gangguan mental.
Di saat yang sama, orang-orang yang terdiagnosis mengidap gangguan mental secara profesional, justru berusaha keras untuk mengasingkan diri dari masyarakat.
Pada akhirnya, gangguan mental mulai dianggap sebagai sebuah kompetisi, dan yang akan menjadi pemenangnya adalah mereka yang paling menyedihkan.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Kirim Pulang Tuan Rumah
Kontroversial! Wasit Inggris Anthony Taylor Pimpin Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, Rekam Jejak Jadi Sorotan
Daftar 32 Negara Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dirilis Iran, Indonesia Tak Masuk, Warganet Bertanya-tanya
Arogan Tonjok Pengendara di Jalan Jagakarsa, 'Bang Jago' Tak Berdaya Ditangkap di Rumahnya
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
