Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Mei 2019 | 13.40 WIB

Caleg Terpilih Juga Bisa Stres

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Usai pemilu hampir dipastikan akan ada fenomena caleg yang stres lantaran tidak terpilih. Menurut pengamat politik Yasser Arafat, fenomena tersebut terjadi lantaran pada saat kampanye, sejumlah caleg menggelontorkan waktu, tenaga bahkan uang. Kebanyakan stres melanda caleg yang tidak terpilih.

"Fenomena atau hal seperti ini wajar terjadi, terutama bagi yang tidak terpilih. Jadi, mereka sudah menggelontorkan segalanya, tetapi hasil yang dicapai tidak sesuai keinginan," ungkapnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Kamis (9/5).

Yasser menuturkan, kebanyakan caleg yang gagal kemudian mengalami stres biasanya merupakan caleg yang memiliki tujuan. Artinya, para caleg beranggapan bahwa menjadi anggota legislatif untuk mencari penghasilan.

Tak dipungkiri, ada beberapa caleg yang memotivasi diri dengan harapan bisa balik modal saat mereka terpilih. "Sehingga saat tidak terpilih, ada ekspetasi yang tidak terpenuhi lalu menyebabkan stres. Jadi, seorang caleg harusnya bisa mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi," bebernya.

Stres juga bisa merundung caleg yang terpilih, imbuhnya. Yasser menjelaskan, stres caleg terpilih misalnya terjadi saat mereka menjadi anggota legislatif, terkadang kaget dengan tugas dan kerja yang harus dilakukan oleh anggota legislatif.

Para caleg terpilih juga perlu menyiapkan diri dengan tugas yang akan bersinggungan dengan aktivitas politik. "Mereka perlu penyesuaian diri. Jadi, salah satu cara menghindari adanya caleg yang tidak terpilih kemudian menjadi stres, dengan tidak melakukan praktik money politics," imbuhnya.

Diakui Yasser, pertarungan dalam konstestasi pemilu bisa membuat sejumlah caleg juga berpikir secara pragmatis. Hal tersebut juga muncul dari pikiran caleg, orientasi pada pemenangan.

Namun saat sudah terpilih juga, para caleg dihadapkan godaan untuk tidak korupsi. "Banyak anggota DPRD yang terlibat kasus korupsi. Hal itu terjadi lantaran para caleg yang terpilih lebih cenderung hedonis dan berorientasi kekuasaan dan memperkaya diri sendiri," tuturnya.

Untuk menghindari adanya money politics yang membuat caleg bisa stres, partai politik memiliki peran besar. Harusnya parpol bisa selektif dalam menjaring bakal calon caleg.

Di sisi lain, Yasser menilai banyaknya caleg muda yang menduduki DPRD Kota Tarakan perlu mendapatkan apresiasi. Apalagi mereka semua adalah pilihan masyarakat.

"Tentu baik tidaknya caleg muda ditentukan dari hasil kaderisasi partai," urainya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore