
Ilustrasi penyakit ginjal. Penyakit Ginjal Kronik (PGK) bisa menimbulkan komplikasi jika tidak tertangani dengan baik. Setidaknya ada lima tahapan sebelum mencapai gagal ginjal.
JawaPos.com - Seseorang dengan gangguan ginjal wajib menjalani terapi pengganti seperti cuci darah atau hemodialisa jika sudah mencapai stadium akhir. Jika tidak, maka racun-racun dari tubuhnya yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal sebagai penyaring darah tak bisa dibuang.
Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) dr. Aida Lydia, PhD., Sp.PD-KGH, menjelaskan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) bisa menimbulkan komplikasi jika tidak tertangani dengan baik. Setidaknya ada lima tahapan hingga akhirnya dikatakan gagal ginjal.
"Stadium 1-4 seseorang dan dokter masih punya waktu untuk mengobati ginjalnya, sedangkan jika sudah stadium 5 atau stadium akhir sudah harus dengan terapi pengganti," tegas dr. Aida dalam konferensi pers Hari Ginjal Sedunia baru-baru ini.
Data Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2017, menunjukkan jumlah pasien aktif yang menjalani hemodialisis sebanyak 77 892 orang. Sementara pasien baru adalah 30.843 orang. 59 persen diantaranya mengenai usia produktif 45-64 tahun.
Jika seseorang memasuki stadium akhir, maka ia akan membutuhkan suatu terapi pengganti ginjal. Seperti hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal.
Jenis terapi pengganti ginjal di antaranya, pertama adalah Peritoneal Dialysis atau Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis. Pengobatan ini dinilai lebih praktis dan efisien dibanding hemodialisa yang mengharuskan pasien meluangkan banyak waktu hanya untuk cuci darah.
Penderitanya bisa mengobati diri sendiri di rumah tanpa harus ke rumah sakit. Pengobatan ini tidak pakai mesin tapi pasien bisa melakukannya sendiri. Racun-racunnya dibuang lewat selang dari perut. Mirip seperti kateter dengan memasukkan cairan dialisa pada pasien. Pasien harus melakukannya minimal tiga kali sehari dengan 5 ribu CC cairan. Sebelumnya tentu pasien dilatih untuk bisa menggunakannya di rumah.
Kedua, adalah cuci darah. Terapi ini paling populer bagi penderita gagal ginjal. Fungsi ginjal menyaring darah diganti mesin. Penderita yang disiplin melakukan cuci darah, masih memiliki harapan hidup hingga bertahun-tahun.
Pilihan terakhir adalah transplantasi ginjal. Namun jenis pengobatan ini belum tentu cocok dengan tubuh pasien.
Sebelum melakukan ketiga terapi pengganti ginjal tersebut, dokter akan mengukur kondisi pasien berdasarkan tingkatan stadium kerusakan ginjal. Hal itu dilihat dari Penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Adalah laju rata-rata penyaringan darah yang terjadi di glomerulus yaitu sekitar 25 persen dari total curah jantung per menit,± 1,300 ml.
Deskripsi
Stadium 1 : > 90 LFG normal atau meningkat, dengan lainnya, ada bukti kerusakan ginjal
Stadium 2 : 60–89 penurunan LFG sedikit, dengan lainnya, ada bukti kerusakan ginjal
Stadium 3a : 45–59 penurunan LFG sedang, dengan atau tanpa bukti kerusakan ginjal lainnya.
Stadium 3b : 30-44 penurunan LFG

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
