Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Agustus 2017, 21.00 WIB

Memutihkan Gigi dan Risikonya

NAIKKAN TINGKAT: Proses pemutihan gigi bisa juga dilakukan di rumah asal mengikuti prosedur yang ditetapkan. - Image

NAIKKAN TINGKAT: Proses pemutihan gigi bisa juga dilakukan di rumah asal mengikuti prosedur yang ditetapkan.

JawaPos.com - Gigi yang sehat, kuat, dan terawat sebenarnya sudah cukup. Namun, tidak sedikit yang kurang puas dengan kondisi tersebut. Muncullah tren bleaching. Dengan berbagai bahan di pasaran, bleaching kini juga bisa dilakukan di rumah.


---


PRODUK memutihkan gigi kini bisa didapat dengan mudah. Bentuknya pun beragam. Mulai pasta gigi sampai gel yang dilengkapi lampu khusus. Menurut drg Ervina Purwantari SpKG, teknik bleaching bukan hal baru di dunia kedokteran gigi. ’’Bleaching diterapkan untuk mendapatkan gigi putih dengan bantuan bahan tertentu,’’ ujarnya.


Menurut Ervina, teknik itu biasanya diterapkan untuk mengatasi warna suram, kekuningan, hingga hitam pada gigi. ’’Nggak sedikit juga yang giginya sehat, tapi minta bleaching. Putih atau tidaknya gigi kan bergantung persepsi pribadi,’’ tuturnya.


Dokter gigi yang berpraktik di RS Husada Utama itu menyatakan, prosedur tersebut bisa dilakukan di rumah (at home bleaching) atau oleh dokter gigi (in office bleaching). Namun, dia menegaskan, sebelum melakukan pemutihan, gigi harus dalam kondisi sehat. ’’Harus diperiksa, apakah ada karies, karang gigi, tambalan, atau gigi mati. Sebab, kondisi tersebut bakal memengaruhi hasil akhir bleaching,’’ ungkapnya. Bahan aktif dalam bleaching hanya bekerja pada gigi asli yang sehat. ’’Kalau ada yang bermasalah, setelah bleaching warnanya nggak rata,’’ katanya.


Selain itu, spesialis konservasi gigi tersebut menjelaskan, terlewatnya tahap periksa itu juga bisa memicu gangguan gigi. Dia mencontohkan, pasien yang mengabaikan karies gigi. ’’Gigi pasien bisa nyeri dan linu karena terkena hidrogen peroksida yang dipakai buat bleaching,’’ lanjutnya.


Setelah semua gangguan ditangani, tahap bleaching baru dilaksanakan. Gusi pasien bakal dilindungi gel atau catalase untuk meminimalkan iritasi. Setelah itu, gigi dilapisi bahan bleaching. ’’Diratakan, kemudian gigi disinar selama minimal 45 menit atau sejam, bergantung hasil yang diinginkan,’’ kata Ervina. Setelah disinar, lapisan tersebut bakal dibersihkan. ’’Prosedurnya aman selama dilakukan ahli,’’ tuturnya. Dibanding at home bleaching, pemutihan di dokter gigi berlangsung lebih cepat. ’’Soalnya, persentase bahan aktifnya beda,’’ papar Ervina.


Sementara itu, drg Amelia Tanjung SpKG menambahkan, untuk mendapatkan hasil maksimal, pasien yang memilih bleaching di rumah harus melakukan treatment setidaknya 1–2 jam sehari selama satu atau dua pekan. Dengan catatan, pasien menggunakan produk sesuai dengan ketentuan. ’’Tapi, secara umum bleaching at house lebih efektif ketimbang memakai pasta gigi whitening,’’ jelasnya.


Risiko bleaching gigi terbilang minim. ’’Biasanya, gigi terasa ngilu dan lebih sensitif, area mulut terasa kering, serta kadang mual. Tapi, cuma berlangsung 1–2 hari saja kok,’’ ungkap Amelia.


Dokter yang berpraktik di RKZ Surabaya tersebut menyatakan, pasien disarankan kontrol seminggu setelah bleaching atau ketika muncul keluhan. Dokter biasanya juga menyarankan penggunaan pasta gigi yang ber-fluoride atau khusus gigi sensitif untuk perawatan. ’’Selain itu, pasien pantang mengonsumsi makanan dan minuman berwarna. Plus, dilarang merokok,’’ tegasnya.


Amelia menjelaskan, konsumsi yang asal-asalan bisa membuat noda kembali muncul di permukaan gigi. Akibatnya, hasil bleaching tidak bakal bertahan lama. Baik Amelia maupun Ervina mengungkapkan, prosedur bisa diulang jika tingkat keputihan gigi mulai menurun. ’’Namun, sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter supaya minim risiko iritasi,’’ tambah Amelia.


Metode memutihkan gigi tidak cuma bleaching. Buat yang ingin gigi awet putih dalam jangka waktu lebih lama, ada prosedur veneer. Berbeda dengan bleaching yang memutihkan warna alami gigi, veneer memungkinkan pasien punya gigi yang selalu putih berkilau. ’’Soalnya, giginya dilapis atau ditempel composite. Jadi, hasilnya lebih awet dan nggak terpengaruh makanan,’’ ungkapnya.


Veneer dilakukan dengan mengikis lapisan gigi pasien. ’’Untuk direct composite, enamel gigi dikikis kira-kira 0,5 mm. Baru dipasang composite,’’ lanjut Ervina. Ada pula yang indirect, yakni veneer yang ditempel bak nail art.


Warnanya tidak cuma alami khas gigi. Tetapi bisa juga sangat putih. Bahkan tidak terlihat natural. Hal tersebut, menurut Ervina, bergantung material composite. ’’Ada yang mengandung jenis batu mulia zircon. Hasil veneer-nya putih banget dengan pendar cenderung biru atau ungu,’’ paparnya.


Meski lebih mahal, pantangan untuk pasien yang memilih veneer justru jauh lebih sulit. ’’Mereka nggak boleh makan makanan yang terlalu keras dan menggigit atau mengunyah dengan gigi depan,’’ kata Amelia. Sebab, hal itu bisa membuat lapisan veneer rawan lepas. Untuk direct composite, lanjut dia, gigi juga berisiko mengalami perubahan warna dan butuh di-retouch. (*)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore