
KRI Prabu Siliwangi-321 memasuki Perairan Indonesia. Kapal itu sudah menuntaskan pelayaran panjang dari Italia. (TNI AL)
JawaPos.com - Penguatan TNI melalui penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) menghadapi tantangan di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian global. Untuk itu, penambahan persenjataan strategis seperti kapal perang harus dipastikan value for money. Termasuk penambahan kapal perang yang saat ini dibutuhkan untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia.
Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono yang pernah bertugas sebagai asisten perencanaan umum panglima TNI menyampaikan bahwa saat ini Indonesia perlu memperkuat kemampuan pertahanan laut melalui penambahan fregat kelas besar. Misalnya fregat PPA dari Italia seperti KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
”Kalau bicara prioritas, maka nilai manfaat harus menjadi pertimbangan utama. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, penambahan fregat PPA penting untuk memperkuat kemampuan penangkalan dan menjaga wilayah ZEE,” kata dia dikutip dari akun YouTube Marapi Consulting & Advisory pada Kamis (9/7).
Purnawirawan TNI AL dengan pangkat terakhir laksamana muda tersebut menilai, kapal fregat PPA dibutuhkan sebagai bagian dari strategi anti-access, utamanya dalam menjaga Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Dia menyebut, kapal fregat berukuran 3.000–6.000 ton lebih efektif ditempatkan di wilayah terluar sebagai garis pertahanan depan dibandingkan mengandalkan kapal berukuran kecil.
Mantan panglima Komando Armada Timur (Koarmatim) itu menjelaskan bahwa keberhasilan modernisasi pertahanan sangat bergantung pada kualitas perencanaan. Menurut dia, keputusan penggunaan pinjaman luar negeri harus menjadi bagian dari proses perencanaan strategis, bukan sekadar keputusan finansial.
”Perencanaan yang baik harus dijalankan secara konsisten dan berkomitmen agar mampu menghasilkan kekuatan pertahanan yang efektif sekaligus mendukung tumbuhnya industri pertahanan nasional,” ujarnya.
Dalam dialog bertajuk Pengadaan Alutsista Berbasis Value for Money tersebut, Alman Helvas Ali sebagai konsultan pertahanan dari Marapi menyampaikan bahwa menilai tantangan terbesar pengadaan alutsista saat ini adalah lemahnya konsistensi perencanaan.
Menurut Hevas, perubahan Blue Book pinjaman luar negeri yang berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perlunya sinkronisasi yang lebih kuat antara Kementerian Pertahanan (Kemhan), Mabes TNI, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Bappenas.
”Kapasitas fiskal harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas pengadaan sehingga setiap pinjaman benar-benar menghasilkan kemampuan tempur yang dibutuhkan,” ujarnya.
Ketimbang menjalankan proyek baru, Alman menambahkan bahwa penggunaan pinjaman luar negeri seharusnya diprioritaskan untuk menyelesaikan program-program yang sudah berjalan, termasuk pemenuhan Integrated Logistics Support (ILS) untuk alutsista yang sudah dibeli. Dia juga setuju dengan Agung untuk memperkuat kemampuan maritim lewat penambahan kapal perang.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
