Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Juni 2025 | 03.35 WIB

Kemhan Ungkap Alasan Indonesia Lirik Pesawat Tempur KAAN Buatan Turkiye, Salah Satunya Hubungan Baik Prabowo dengan Erdogan

Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas. (Syahrul Yunizar/JawaPos.com) - Image

Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas. (Syahrul Yunizar/JawaPos.com)

JawaPos.com - Ketetarikan Indonesia terhadap pesawat tempur KAAN buatan Turkiye semakin nyata. Tidak hanya lewat ucapan Presiden Prabowo Subianto dalam lawatan ke Turkiye beberapa waktu lalu, kini nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) sudah ditandatangani. Meski belum sampai pada level kontrak pengadaan, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkap beberapa alasan yang membuat Indonesia tertarik mendatangkan KAAN. 
 

Pertama, peluang kerja sama antara Indonesia dengan Turkiye terbuka lebar. Menurut Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kemhan Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas, hubungan baik antara Presiden Prabowo dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan sangat baik. Sehingga membuka peluang kerja sama di antara kedua negara. 

Kedua, KAAN merupakan pesawat tempur generasi kelima yang belum dimiliki Indonesia. Jet tempur tersebut juga memiliki kemampuan siluman. Frega menyatakan bahwa pengadaan KAAN bakal membawa hal baik bagi Indonesia. Sebab, alih teknologi yang belum dimiliki bakal terjadi. Tidak heran pesawat tempur tersebut begitu memikat bagi Indonesia. 

”Tentunya itu menjadi sebuah nilai tambah, termasuk juga beberapa kerja sama yang sudah dilakukan dengan Turkiye,” imbuhnya. 

Saat ini, PT Pindad sudah menjalin kerja sama dengan Turkiye untuk memproduksi medium tank pertama buatan dalam negeri. Medium tank itu diberi nama Harimau. Frega menyatakan bahwa kerja sama tersebut menjadi jalan untuk terus menguatkan hubungan baik antara Indonesia dengan Turkiye. Apalagi KAAN adalah alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis. 

”Kami berharap nantinya produksi ini bisa terus dilanjutkan. Karena bicara pesawat tempur, kemudian kapal, ataupun produksi alutsista itu prosesnya tidak mudah, panjang, waktunya bisa 5-10 tahun, bahkan lebih,” ungkap Frega. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore