
Pesawat tempur KF-21 Boramae yang dikembangkan bersama oleh Indonesia dan Korsel menegaskan kemitraan strategis kedua negara. (Korean Aerospace Industries)
JawaPos.com - Hubungan baik antara Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) berlangsung melalui berbagai kerja sama. Termasuk diantaranya pada bidang industri pertahanan seperti pengembangan dan produksi pesawat atau jet tempur KF-21 Boramae yang sampai saat ini masih terus bergulir.
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Santo Darmosumarto, kerja sama tersebut menegaskan bahwa Korsel adalah salah satu mitra strategis utama dalam kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Santo menyampaikan, hubungan kedua negara memiliki dimensi strategis yang semakin luas. Mulai dari ekonomi, industri pertahanan, hingga penguatan stabilitas kawasan. Bagi Indonesia, Korsel bukan sekadar mitra ekonomi, melainkan sudah berkembang menjadi special strategic partner dengan hubungan historis yang kuat.
”Korea Selatan selalu menjadi negara strategis bagi Indonesia. Tidak hanya karena investasi dan perdagangan, tetapi juga kerja sama yang bersifat historis, termasuk pengalaman demokratisasi, governance, hingga pembelajaran pembangunan ibu kota baru,” kata dia dalam acara sosialisasi lomba menulis Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Senin (18/5).
Lomba bertema Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM tersebut sejalan dengan jalinan hubungan baik antara kedua negara. Santo menjelaskan bahwa dalam arsitektur geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif, Indonesia dan Korsel dipandang memiliki posisi serupa sebagai middle power yang berperan menjaga keseimbangan kawasan.
Bersama Australia, kedua negara tersebut pernah dikenal dalam konsep kerja sama negara menengah dengan akronim KIA atau Korea, Indonesia, Australia, sebuah kelompok negara yang memiliki perspektif sejalan dalam menjaga stabilitas regional di Kawasan Indo-Pasifik.
”Negara-negara middle power dapat menjadi motor kerja sama kawasan sekaligus penyeimbang di tengah dinamika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Jepang,” ujarnya.
Pejabat yang pernah bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kamboja itu menyampaikan bahwa, setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu, pemerintah menegaskan tidak ada perubahan dalam cara Indonesia memandang Korsel.
Santo menyatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk memastikan Korsel tetap berada di halaman pertama diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia. Kunjungan itu juga menjadi sinyal kuat dari Indonesia.
”Kunjungan presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” bebernya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
