
Densus 88 saat penangkapan pelaku bom teror di Bekasi beberapa waktu lalu
JawaPos.com - Salah satu bentuk ancaman keamanan Indonesia di 2016 yakni dari teroris. Bahkan pergerakannya tidak pernah kendur dari awal hingga akhir tahun ini. Tentunya Polri melalui Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 melakukan perburuan terhadap pelakunya.
Di tahun 2016 ini, ada dua kelompok yang menjadi pusat perhatian publik, yakni kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) dan jaringan Bahrun Naim.
Kelompok MIT ini berada di bawah komando Santoso alias Abu Wardah. Dia sempat menjadi orang nomor satu paling dicari di Bumi Pertiwi atas serangkaian aksi terornya di kawasan Poso, Sulawesi Tengah.
Bermarkas di pegunungan, membuat Polri dan TNI menggelar operasi khusus untuk memburu mereka beragam bentuk operasi. Pertama, Operasi Camar Maleo, dan kini sudah berganti menjadi Operasi Tinombala.
Pada Operasi Tinombala aparat keamanan melibatkan pasukan elite dari TNI dan Polri. Mulai dari Brimob, Kostrad, Marinir, Raider hingga Kopassus. Tentunya pada pasukan elite itu bertugas utnuk membatasi ruang gerak kelompok Santoso dan membuat mereka berada dalam kondisi terjepit dan kelaparan.
Pada 2015, operasi ini masih bernama Camar Maleo. Dari operasi ini berhasil ditangkap sekitar 28 anggota kelompok Santoso termasuk salah satu petingginya yakni Daeng Koro.
Daeng Koro merupakan ketua pelaksana beberapa latihan militer yang digelar MIT di tiga tempat. Yakni, Tuturuga, Kabupaten Morowali dan Gunung Tamanjeka Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah serta Mambi Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat.
Pada 9 Januari 2016, rangkaian operasi perburuan kelompok MIT ini berganti nama sandi operasi bertajuk Operasi Tinombala yang melibatkan 3.000 personel.
Berikut rangkuman terkait Operasi Tinombala sepanjang tahun 2016:
Anak Buah Santoso Tembak Mobil Polisi
Terjadi baku tembak antara kelompok Santoso dengan Polri pada Selasa 9 Februari 2016, saat berlangsungnya razia sepanjang jalan wilayah Nepu dan Poso.
Kejadian ini berawal ketika mobil misterius dengan kaca tertutup berhenti di kios dan membeli perbekalan di luar batas wajar. Pemilik kios curiga dan melaporkan mobil tersebut kepada Satgas Tinombala.
Alhasil kelompok Santoso dari dalam mobil menembak ke arah polisi. Akibatnya anggota Polri bernama Brigadir Wahyudi mengalami luka tembak di dagu hingga tewas.
Selanjutnya lima anggota Polri melakukan penyergapan. Petugas pun melakukan tembakan balasan dan menyasar dua pengikut Santoso. Alhasil berhasil disita pucuk senjata api rakitan dari mereka.
Kecelakaan Helikopter TNI AD Bell 412 EP nomor HA 5171
Pada Minggu 20 Maret 2016, Helikopter milik TNI AD tersambar petir di Kelurahan Kasiguncu, Poso Pesisir, Poso. Kecelakaan ini menewaskan Danrem 132/ Tadulako Kolonel Inf Syaiful Anwar. Di dalam helikopter itu juga terdapat 12 awak lainnya.

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
