Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 22.09 WIB

Cak Imin: SARA, Intoleransi dan Radikalisme Ganggu Perekonomian Nasional 

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar - Image

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar

JawaPos.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan komitmen partainya untuk tak mentolerir segala macam bentuk SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), intolerasin, serta radikalisme. 


Menurutnya, ketiga hal ini bisa menghantam urat nadi perkekonomian nasional.  


"Ketegasan positioning ini menjadi semakin mendesak guna melindungi perekonomian rakyat. PKB sebagai partai modern, pembela 


Pancasila dan propembagian ekonomi dengan tegas menolaknya," ujar dia  di Jakarta, Minggu (22/1/).


Menurut Muhaimin, sikap tegas seperti ini penting sebagai upaya melindungi perekonomian nasional.  Ajakan rush-money, boikot 


Sari Roti dan fitnah serbuan Tenaga Kerja Asing asal Tiongkok merupakan contoh sentimen terhadap laju pertumbuhan economi.


"Dampak terhadap berita-berita seperti itu menyebabkan dunia usaha dan dunia keuangan was-was. Itu artinya, urat nadi ekonomi nasional tengah dibidik untuk dihancurkan," tegas dia. 


Cak Imin-sapaannya- menambahkan, bergejolaknya pasar keuangan Indonesia di mulai pada bulan November 2016, di mana muncul dua sentimen negatif. 


Pertama,  terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS dan kedua, merebaknya sentimen SARA menyusul kasus tuduhan penistaan agama terhadap Ahok.


"Akibatnya rupiah melemah cukup dalam, dibandingkan mata uang negara lain di kawasan. Tak hanya itu, sejak awal November 2016 dana investor asing hengkang dari pasar saham (Rp18  triliun) maupun obligasi (Rp24 triliun), " ucapnya. 


Cak Imin lebih jauh menuturkan, sentimen SARA dan radikalisme agama mulai secara riil menghantam sektor bisnis dan dunia keuangan, saat mencuatnya isu rush money dan juga boikot Sari Roti.


"Kedua isu tersebut sempat menekan pergerakan saham kedua perusahaan, yang mencerminkan kekhawatiran investor akan dampak negatif dari isu tersebut terhadap pendapatan dan kinerja perusahaan," tandasnya.(mam/JPG)  

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore