
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Oleh RIRIE RENGGANIS
---
Selain sebagai puncak refleksi spiritual dan kultural umat Islam, Idul Fitri menjadi momen memperbarui ikatan sosial melalui tradisi silaturahmi yang khas dan panggung budaya serta dinamikanya.
SALAH satu dinamika budaya yang muncul adalah joget velocity. Sebuah bentuk joget yang muncul sebagai metafora yang memadukan kelenturan budaya tradisional dengan percepatan interaksi di era digital. Fenomena ini menjadi simbol respons masyarakat terhadap modernitas tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Joget merupakan istilah tarian tradisional di Jawa dan Bali. Joget adalah simbol kelenturan budaya yang mampu menyerap perubahan tanpa kehilangan identitas. Penari joget mampu bergerak luwes mengikuti irama gamelan sembari berimprovisasi, penari joget memiliki kemampuan untuk tetap bergerak dalam harmoni meski ritme berubah. Filosofi ini selaras dengan cara masyarakat Indonesia menjaga tradisi Lebaran, yaitu mempertahankan nilai inti seperti permintaan maaf, kebersamaan, dan rasa syukur, tetapi terbuka terhadap inovasi bentuk.
Dalam konteks tradisi, Idul Fitri identik dengan tradisi sungkem, kunjungan ke rumah kerabat, dan berbagi hidangan khas Lebaran sebagai ”joget” sosial diwariskan secara turun-temurun. Namun, ”joget” sosial ini menghadapi tantangan baru karena kehadiran teknologi menggeser ritme tradisional menjadi lebih cepat, instan, dan terfragmentasi.
Istilah velocity dalam konteks modern merujuk pada tekanan untuk melakukan segala sesuatu secara efisien. Teknologi memungkinkan ucapan ”Mohon Maaf Lahir dan Batin” dikirim ke ratusan orang dalam sekejap, sedangkan media sosial menjadi panggung unggahan foto keluarga yang serbainstan. Fenomena ini ibarat mempercepat tempo joget tradisional menjadi tarian elektronik yang dinamis, tetapi kerap menghilangkan nuansa personal.
Joget velocity sebagai cerminan masyarakat yang hidup di dua dunia: dunia tradisi yang mengakar dan dunia modern yang menuntut adaptasi cepat. Masyarakat ditantang menciptakan ”koreografi baru” dalam merayakan tradisi Idul Fitri sekaligus mengakomodasi gaya hidup kontemporer.
Ada tiga hal mendasar yang menjadikan joget velocity sebagai simbol dialog antara modernitas dan tradisi. Pertama, personalisasi dalam efisiensi. Joget velocity adalah upaya memadukan efisiensi dengan sentuhan personal. Misalnya, penggunaan fitur merge tag pada pesan digital untuk menyebut nama penerima atau mengirim rekaman video pendek berisi ucapan maaf yang tulus sebagai bentuk ”improvisasi gerakan” agar tradisi permintaan maaf tetap hidup meski mediumnya berubah.
Kedua, silaturahmi hybrid yang diterapkan keluarga masa kini dengan menggabungkan kunjungan fisik dan interaksi virtual. Misalnya, mengunjungi orang tua secara langsung, tetapi menggunakan video call untuk menyapa saudara/kerabat di luar kota. Pola ini menyerupai joget yang bergerak antara pola tradisional dan improvisasi modern, tetap berusaha mempertahankan esensi kebersamaan meski dengan cara berbeda.
Ketiga, revitalisasi tradisi melalui kreativitas, upaya generasi muda mengadopsi teknologi untuk menghidupkan kembali tradisi dengan cara baru. Misalnya, membuat challenge TikTok bertema ”Basa-Basi Lebaran Kekinian” atau lomba memasak ketupat secara virtual. Upaya ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kaku, tradisi bisa ”menari” mengikuti irama zaman.
Joget velocity membawa paradoks. Peluang untuk mempertahankan tradisi di tengah keterbatasan waktu dan jarak melalui pemanfaatan teknologi yang memungkinkan tradisi Lebaran menjangkau wilayah lebih luas melalui platform digital. Juga sebagai sarana ekspresi rasa syukur generasi muda di media sosial. Sekaligus menjadi tantangan berupa risiko reduksi makna jika interaksi hanya dilakukan sebagai formalitas, menjadikan tradisi sebagai komoditas estetika semata melalui banjirnya pesan massal dan konten Lebaran serbainstan. Keintiman ucapan maaf berubah menjadi formalitas tanpa kedalaman makna.
Baca Juga: Si Kucing yang Sangat Anjing
Perlu kesadaran kolektif menyeimbangkan modernitas dengan keautentikan roh tradisi agar joget velocity tidak sekadar menjadi simbol modernitas kosong. Pertama, melalui kesadaran niat (intentionality). Setiap interaksi digital maupun fisik harus dilandasi tujuan mempererat hubungan, bukan sekadar memenuhi kewajiban. Kedua, selektivitas. Tidak semua tradisi harus diakselerasi. Ritual sungkem dan makan bersama keluarga tetap dapat dilakukan dengan khidmat tanpa terdistraksi gawai. Ketiga, edukasi lintas generasi. Generasi tua perlu memahami bahwa modernitas bukan ancaman. Sebaliknya, generasi muda harus diajak menghargai filosofi di balik setiap tradisi.
Sebagai identitas budaya baru, joget velocity bukan sekadar fenomena sosial, melainkan identitas budaya masyarakat yang sedang bertransformasi. Ia menunjukkan bahwa tradisi tidak statis, dapat berevolusi, dan menyerap nilai-nilai baru tanpa kehilangan jati diri. Seperti joget yang tetap memikat meski diiringi musik modern, Idul Fitri akan tetap bermakna selama esensi permintaan maaf, kebersamaan, dan rasa syukur tidak tergantikan.
