
ILUSTRASI
Keramaian peredaran film horor Indonesia akhir-akhir ini menstimulasi orang untuk melihat horor lewat banyak mata. Horor –dalam berbagai mediumnya– dianggap sebagai bagian dari khazanah budaya yang harus dikembangkan. Lalu diadakanlah diskusi sastra horor di Jakarta bulan lalu (23/4). Dari diskusi itu digarisbawahi penelitian sastra horor harus serius dilakukan. Pengembangan horor dalam lingkup kesenian mesti terus digalakkan.
Sementara itu, data menjelaskan bahwa jejak horor di Indonesia sangat terasa dalam 15 tahun terakhir dengan diaksentuasi oleh barisan film horor. Serentetan letupan produksi (dan pasar) yang merupakan pengulangan dari tren film horor pada 1980–1990. Tapi kemudian raib dalam gelap hampir 20 tahun sampai muncul lagi menjelang 2010.
Namun, jika membicarakan horor dalam seni hanya pada lingkup sastra dan film, rasanya tidak lengkap. Sebab, fenomena horor juga sudah ada dalam dunia seni rupa sejak menjelang 1980. Dan itu dimulai kala aliran surealis mulai mendominasi kanvas-kanvas para perupa akademi ternama –terutama di Jogjakarta.
Fenomena horor itu semakin masif pada pertengahan 1990-an sampai memasuki 2000-an. Tanda-tanda dari semua itu tampak di kanvas para pelukis yang ikut kompetisi seni lukis Indonesia Philip Morris Art Awards (PMIAA). Menariknya, lukisan bertema horor itu mendapat tempat tertinggi. Suatu hal yang menandai bahwa horor adalah tema yang disukai dan diseriusi. Tak hanya oleh para perupa, tetapi juga oleh para pengamat, kritikus, dan peneliti yang cum juri kompetisi.
Lukisan Effendi, Balbos-Kania, misalnya, yang memenangi PMIAA 1995. Lukisan Indonesia Kini Sedang Luka karya Isa Perkasa, pemenang PMIAA 1998. Dalam jajaran pemenang PMIAA 2000, muncul lukisan Negeri tanpa Identitas karya Hayatuddin yang menggambarkan horor manusia jadi monster. PMIAA 2001 memenangkan seni cetak RM Sony Irawan, Waking from Lovely Nightmare, yang menggambarkan horor bunuh diri di balik kelambu. Lukisan No.1 The Greatest Story karya Ayu Arista Murti, pemenang PMIAA 2003, menggambarkan kapal kandas di tengah daratan yang remuk redam. Di situ lalu muncul hantu-hantu manusia yang siap menebar horor pada siang dan malam.
Di luar kompetisi, pelukis Wara Anindyah memiliki periode penciptaan lukisan horor yang menghidupkan roh orang-orang ratusan tahun lalu. Agus Suwage kerap menggubah horor dengan mengunggah tengkorak dan kerangka manusia. Entang Wiharso sering melukis horor kepala manusia terpenggal. Juga Tisna Sanjaya yang dengan riuh mempresentasikan horor politik di dalam jajaran karya etsanya. Dalam berbagai referensi diketahui, penciptaan karya-karya seni rupa horor Indonesia diberangkatkan dari pengalaman gelap kehidupan seniman masing-masing. Atau ditolakkan dari fantasi seniman atas kehidupan suram orang-orang di sekitarnya.
Sejalan dengan perkembangan zaman, horor lantas dapat dibagi dalam banyak macam.
Horor ilmu gaib (occult horror) biasanya dibawa oleh kelompok penganut kepercayaan tertentu. Horor di sini selalu dikaitkan dengan mistis sehingga sering melibatkan ilmu hitam atau black magic. Lukisan para pelukis Batuan, Bali, tahun 1940 seperti I Ketut Keteg dan I Made Djata adalah contoh yang paling persis. Horor pedusunan (rural horror) adalah horor yang mengantar kengerian di desa, dusun, atau lokasi tertentu. Lukisan Ivan Sagita dan Abdul Rachman yang mengeksplorasi horor pedalaman Jawa adalah contohnya.
Horor kosmik (cosmic horror) adalah cerita menegangkan yang tidak punya wilayah kejadian dan mengabaikan sejarah asal-usul sumber horor itu. Contohnya adalah lukisan Agus Kamal yang menceritakan tragedi dan maut di tempat tak berwilayah. Horor apokaliptik (apocalyptic horror) adalah narasi yang menghadirkan rasa takut atas berakhirnya kehidupan semesta akibat datangnya bencana yang luar biasa. Sejumlah lukisan surealis Lucia Hartini dan Ayu Arista Murti bisa dipungut sebagai amsal.
Horor mimpi (surreal horror) adalah jenis horor yang bersumber dari narasi yang timbul di alam mimpi dengan keadaan yang sangat bertolak belakang dengan realitas. Surealisme ini kadang melantunkan perasaan takut dan ngeri. Simak lukisan Hening Purnamawati dan I Wayan Cahya. Horor psikologi (psychological horror) adalah horor yang bertujuan untuk mengguncang sisi mental dan emosional seseorang dengan narasi yang dibikin penuh misteri. Gubahan Wara Anindyah dan karya seni rupa horor Agus Suwage bisa mewakili.
Horor banal (visceral horror) adalah horor yang memunculkan adegan mengejutkan untuk meneror kehidupan tenteram. Sejumlah seni instalasi dan happening art Tisna Sanjaya adalah contohnya. Lukisan-lukisan Entang Wiharso juga berada di kategori ini. Sementara itu, horor kriminal (crime horror) adalah cerita menegangkan dan meresahkan karena semuanya berkait dengan perbuatan seseorang yang sangat jahat dan bertindak sadis. Seni instalasi Luxury Crime (After Agus Suwage) ciptaan Sigit D. Pratama –yang pada pekan terakhir April 2024 dipamerkan di Jakarta Art Gardens– sangat bisa dimasukkan kategori ini.
Melebihi kelindan horor dalam film Indonesia, horor dalam seni rupa Indonesia selalu ada sejak 50 tahun lalu. (*)
---
AGUS DERMAWAN T., Pengamat seni. Narasumber Ahli Koleksi Benda Seni Istana Presiden.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
