Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Agustus 2023 | 16.15 WIB

Ikonisitas Kemerdekaan dalam Film Kita

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Kemerdekaan adalah gagasan, dan perang hanyalah salah satu alat untuk mengupayakan gagasan itu menjadi kenyataan.

SELAMA Orde Baru, perang menjadi wahana utama perjuangan dalam wacana tentang kemerdekaan RI. Hal ini sangat tampak dalam film-film tentang kemerdekaan Indonesia di masa Orba, dan berlanjut di sana-sini hingga kini. Jarang film kita memberi tempat pada perjuangan diplomasi sebagai pusat narasi perjuangan kemerdekaan. Apalagi yang menggambarkan tema kemerdekaan sebagai sebuah dialektika gagasan.

Rezim Soeharto memang mencekoki warga dengan militerisme sejak dalam pikiran. Tepatnya sejak dalam imajinasi. Karena itu, imajinasi para pahlawan kemerdekaan selalu lekat dengan imajinasi para pejuang militer. Ketika film-film hendak menutur revolusi kemerdekaan Indonesia, yang terbayang di benak kebanyakan pembuat film Indonesia adalah genre perang serta adegan-adegan laga. Ikonisitas militerisme menjadi materi yang dianggap cocok dengan kepentingan pasar.

Film perang, dalam pertimbangan pasar yang gampangan, bukan dianggap sebagai film tentang perang, tapi film yang berisi adegan-adegan laga perang. Dengan kata lain, sebuah subgenre dari film laga. Kita tahu, film laga adalah sebuah genre yang dianggap punya nilai komersial tinggi. Dalam film laga yang diniatkan murni komersial, aspek gagasan memang sering kali dikorbankan. Padahal, belum tentu film gagasan tak punya pasar.

***

Film yang ditahbiskan sebagai ”film Indonesia pertama” dalam proyek politik bertajuk ”film nasional” dan ”hari film nasional” adalah Darah dan Doa (Long March) (sutradara: Usmar Ismail, 1950). Film ini bercerita tentang batalyon Siliwangi bersama keluarga mereka yang melakukan long march dari Jogjakarta ke Jawa Barat setelah Jogjakarta diduduki pasukan Belanda dalam Aksi Polisionil mereka.

Produksi film dibantu oleh Tentara Republik Indonesia saat itu. Dalam kredit awal, tertulis bahwa: ”Dipersembahkan pada para patriot Indonesia jang dengan segala kedjudjuran telah mengorbankan djiwa dan raga memperdjuangkan tjita2 Kemerdekaan, Persatuan, dan Kebahagiaan Nusa dan Bangsa.”

Kata ”patriot” tentu saja bisa dikerangkeng dalam makna terkait ”nasionalisme” yang kadang meleset ke wilayah ”ultra”, dan dilekatkan dengan ”bela negara” –istilah yang lazimnya dilekatkan dengan imaji atau konsep militeristik dari nasionalisme.

Tapi, di adegan awal saja telah tampak bahwa film ini memaknai kemiliteran dalam revolusi secara ironis. Pada satu adegan, para pemberontak komunis di Madiun, 1948, yang terkepung, menyebut Darto, tokoh utama film ini, adalah ”...orang edan yang baik, kesasar masuk tentara.” Pemerian Darto itu seakan menggambarkan tentara sebagai sebuah habitus yang tak cocok bagi ”orang baik”.

Sepanjang film, tokoh Darto, sang komandan batalyon, digambarkan selalu bertanya-tanya tentang makna perang yang ia lakoni dan makna kemerdekaan yang diperebutkan semua orang saat itu. Darto terhantui peristiwa Madiun, yang ia sebut ”perang saudara”. Dalam long march pada 1948, ia tak paham kenapa DI (Darul Islam) menyerang TNI, atau kenapa anak menembak mati ayahnya yang divonis pengkhianat. Ketika tiba di tujuan, tentara KNIL memenjaranya dan meledek, nikmati kemerdekaanmu dalam sel! Narator berkata, revolusi berjalan terus, tak memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan sentimentil.

Sitor Situmorang menulis kerangka cerita Darah dan Doa. Kita bisa menduga, kepekaan Sitor sebagai seorang penyair modernis memberi bangun cerita yang lebih condong melakukan abstraksi isu-isu di dalam perang ketimbang mengglorifikasi perang semata. Tapi, Usmar Ismail dan rekan sezamannya pada periode tak jauh dari proklamasi 1945 dan usainya perang pada 1949 menghasilkan film-film lain yang menyoal makna kemerdekaan secara filosofis.

***

Dalam periode 1950–1960-an, Usmar Ismail membuat Enam Djam di Jogja (1951), Lewat Djam Malam (1954, dipuji Martin Scorsese saat direstorasi pada 2012), Pedjuang (1960), Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961), dan Anak-Anak Revolusi (1964). Pada periode ini juga ada Pagar Kawat Berduri (Asrul Sani, 1961). Film ini ditulis Asrul, bersama Wahyu Sihombing dan Trisnoyuwono, tentang para gerilyawan yang menjadi tahanan perang Belanda, lebih banyak berisi percakapan eksistensialis dan etis tentang apa arti ”merdeka” daripada adegan perang.

Bachtiar Siagian membuat Turang (1957) dan Violetta (1962) yang bertema romansa dalam perang. Turang terpilih menjadi film terbaik FFI 1960. Semua film Bachtiar sebelum 1965 dimusnahkan Orba karena ia anggota Lekra. Hanya Violetta yang selamat, ditemukan tak sengaja kopi positifnya dan didigitalisasi pada 2013. Keduanya menghadirkan sosok militer di pusat cerita.

Kehadiran sosok TNI dalam film-film bertema revolusi kemerdekaan pada periode ini adalah sebuah akibat dari kedekatan film-film itu dengan masa perang kemerdekaan. Ikonisitas militer hadir untuk berdialektika dengan situasi sosial yang berubah cepat pasca-era kolonial. Para tentara gerilya hadir dengan penuh kekurangan, dan berada dalam kancah pemikiran tentang hakikat kemanusiaan di alam merdeka. Seakan upaya memahami kebebasan modern yang baru didapat. Ikonisitas militer itu bukan menjadi aparatus militerisme seperti di masa Orba.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore