Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 April 2023 | 00.00 WIB

Nada & Dakwah, setelah Tiga Dekade

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Rasanya hanya akan mengulang menjelaskan dampak sosial-kultural, juga politik, yang ditimbulkan Rhoma Irama dan KH Zainuddin M.Z., dua jualan utama film ini, sekaligus dua ikon Islam politik. Maka, sebaiknya kita meniliknya melalui nama lain, yaitu Chaerul Umam dan Deddy Mizwar. Saya akan tunjukkan, lewat keduanya, kita akan tahu bahwa apa yang kita lihat hari ini bukan sesuatu yang sama sekali baru dan tanpa muasal.

Chaerul Umam (Mamang) adalah sedikit dari raksasa sinema kita yang masih terus berkarya setelah era reformasi. Dengan filmografi yang mencakup film-film semacam Al Kausar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Kejar Daku Kau Kutangkap, Sama Juga Bohong, hingga Ketika Cinta Bertasbih, kita bisa lekatkan predikat apa pun kepadanya. Namun, simpulan Ikranagara, aktor yang banyak bermain di film-filmnya, di hari kematian Mamang sangat memberi gambaran. ”Ia jago bikin cerita komedi,” kata Ikra seperti dikutip Tempo.co pada 2013. ”Belakangan ia banyak menggarap film dan sinetron Islami.”

Sebut saja film-film seperti Arie Hanggara, Opera Jakarta, Kejar Daku Kau Kutangkap, dan Naga Bonar, maka akan mudah menyimpulkan, Deddy Mizwar adalah salah satu aktor paling berbakat yang dimiliki Indonesia. Sejak 1997, ia mendirikan rumah produksi Demi Gisela Citra Sinema. Dari sinilah ia kelak akan sangat menentukan merah-hijaunya tontonan yang masuk ke ruang keluarga kita, dalam corak yang sangat khas.

Sukses dengan tontonan sahur Lorong Waktu (1999–2006), awal 2000-an Demi Gisela memproduksi beberapa film televisi (FTV) yang menarik, yang menggarap sejumlah karya sastra yang menonjol. Salah satu yang sangat saya ingat adalah Gerobak Itu Berhenti di Muka Rumah (2001), yang diadaptasi dari cerpen sufistik Kuntowijoyo. Gerobak ditulis naskahnya oleh Misbach Yusa Biran dan disutradarai Chaerul Umam.

Meskipun sulit melacak datanya, Mamang pastilah menggarap lebih dari satu judul FTV untuk Deddy. Toh duo ini kemudian bekerja sama untuk proyek ”besar”, Ketika Cinta Bertasbih. Bukan hanya Islami filmnya, konon juga mesti Islami pemainnya. Film ini, bersama Ayat-Ayat Cinta tentunya, adalah ekspresi-ekspresi yang, jika bukan paling mewakili, pasti paling menonjol dari corak keislaman di Indonesia dalam dua dekade ini.

Dengan corak ekspresi serupa, Mamang juga ada di balik beberapa sinetron Islami seperti Maha Kasih dan Dalam Mihrab Cinta. Maha Kasih barangkali perlu disebut secara khusus. Sinetron berformat lepas ini punya satu episode yang nantinya dikembangkan menjadi sinetron panjang yang penggemar dan usia tayangnya sangat fenomenal: Tukang Bubur Naik Haji.

Di tayangan sahur, tak ada yang menandingi Deddy Mizwar. Menonton atau tidak, Anda akan sulit mengabaikan judul-judul seperti Kiamat Sudah Dekat (serial) dan terutama Para Pencari Tuhan yang bertahan hingga hari ini. Dan Anda tak bisa menyebut satu sinetron Islami pun, baik di jam sahur maupun di jam utama dalam 15 tahun terakhir, tanpa menautkannya dengan pengaruh Deddy Mizwar. (*)

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore