
ILUSTRASI
Rhoma Irama dan KH Zainuddin MZ bahu-membahu membantu sebuah desa bertahan dari rongrongan kelemahan ekonomi dan kerapuhan moral. Pada saat yang sama, perusahaan dari kota mengincar tanah desa tersebut. Di satu tangan ada industrialisasi, di tangan lain orang-orang kota bejat membayangkan keuntungan dengan merusak akhlak pemuda-pemuda desa. Pada akhirnya, persoalan agraria dan desakan industrialisasi yang pelik dapat diselesaikan dengan ceramah dan lagu dakwah.
BEGITULAH gambaran ringkas Nada & Dakwah (1991), film yang dari banyak hal boleh dianggap sebagai film ”paling serius” yang pernah dibintangi Rhoma Irama. Film ini diperkuat oleh para big wig dalam perfilman Indonesia masa itu: sutradara Chaerul Umam, penulis naskah Asrul Sani, dan aktor-aktor pendukung yang sangat disegani pada diri Deddy Mizwar dan Amak Baldjun. Bersama nama-nama itu, tidak mengejutkan film ini memenangkan beberapa Piala Citra.
Barangkali karena ”keseriusannya”, film ini tak cukup populer di kalangan penggemar Rhoma, tak seperti Kelana atau Cinta Segitiga misalnya. Nada & Dakwah boleh disebut keluar dari formula kebanyakan film Rhoma. Alih-alih musikal sebagaimana biasa, film ini mungkin lebih cocok apa yang dalam khazanah sinema India disebut sebagai Muslim Social Cinema.
Film ini juga tak sepenuhnya bertumpu pada pesona sang raja dangdut. Ia jelas menunggangi gelombang yang sedang menyapu umat Islam Indonesia di akhir ’80-an, yaitu munculnya Zainuddin MZ, dai sejuta umat. Meskipun Zainuddin hanya jadi ”pemeran pembantu”, Rhoma toh harus berbagi ruang dengannya. Dalam beberapa hal, justru Rhoma-lah yang ”membantu” Zainuddin.
”Ketersisihan” Rhoma segera bisa dilihat dari sedikitnya lagu soundtrack pada film ini, yaitu empat lagu Soneta dan satu lagu gambus yang dinyanyikan Rhoma dengan iringan OG Al Ussaq. Seingat saya, ini adalah film Rhoma dengan lagu soundtrack paling sedikit. Seluruhnya lagu dakwah, tanpa satu pun lagu cinta.
Bagi para penggemar Rhoma, Nada & Dakwah barangkali ”kurang seru” jika dibanding film-film Rhoma lain. Namun, film ini sangat menarik untuk dipakai meneropong dan membaca ekspresi keislaman di Indonesia, baik di masanya maupun hari ini.
***
Nada & Dakwah jelas bukan puncak ekspresi keislaman di lapangan budaya akhir ’80-an–awal ’90-an, yang menandai peralihan corak politik Orde Baru di fase terakhir kekuasaannya. Namun, kita bisa melihatnya sebagai salah satu yang paling mewakili.
Rhoma, sejak memasuki dunia film dan menegaskan ideologi Sound of Muslim bagi musiknya, tak pernah menyembunyikan ekspresi keislamannya. Konservatismenya yang tanpa tedeng aling-aling mudah kita temukan sejak sangat awal, baik lewat film-filmnya maupun lirik lagunya. Namun, dalam konteks film, ekspresi-ekspresi keislaman itu tak pernah mengambil alih keseluruhan film; ia tak pernah lebih dari ”hal yang tak terpisahkan” dari persona Rhoma, baik sebagai muslim, lelaki ideal bagi kekasih/istri, maupun superstar dengan berbagai permasalahannya. Nada & Dakwah tampaknya menunjukkan tahap yang lebih lanjut.
Apa yang dikenakan Ida Iasha di film bisa menggambarkan banyak hal. Berperan sebagai Latifah, istri Rhoma sekaligus putri dari konglomerat Bustomi (W.D. Mochtar), Ida Iasha tampil sepenuhnya berjilbab, dengan jenis kain dan cara pemakaian yang berbeda dibanding apa yang biasa disebut kerudung.
Perbedaan itu segera terasa jika kita sandingkan dengan yang dipakainya di film bersama Rhoma sebelumnya, Bunga Desa (1989). Di film itu, berperan sebagai Sumi si bunga desa, Ida Iasha hanya berkerudung secara longgar. Itu pun cuma di saat tertentu, semisal ketika mengajar mengaji. Pada sampul kaset soundtrack Bunga Desa malah diperlihatkan, kerudung itu bahkan tak dikenakan, melainkan dipegang berdua dengan Rhoma dalam ekspresi malu-malu.
Penting ditambahkan, di Nada & Dakwah Ida Iasha tak berjilbab sendirian. Ada jilbab di mana-nama. Dalam salah satu adegan, ketika Rhoma Irama dan Zainuddin M.Z. datang ke sebuah pesantren, keduanya disambut oleh ratusan santri perempuan yang sepenuhnya berjilbab. (Kerudung hanya tampak dipakai perempuan warga desa yang datang mendengarkan pengajian.) Sangat sulit memisahkan gambaran ini dengan beberapa fenomena kebudayaan yang mengekspresi hal serupa di masa-masa itu, mulai puisi Lautan Jilbab Cak Nun (1986) hingga album Jilbab Putih (1993) yang ikonik dari grup kasidah Nida Ria.
Namun, tanpa penjelasan berpanjang-panjang soal jilbab pun, film ini sangat gamblang ekspresi keislamannya. Nada & Dakwah menjadikan semboyan ”Amar Ma’ruf Nahi Munkar” sebagai anak judul. Sementara salah satu lagu Soneta yang menjadi soundtrack adalah ”Pembaharuan”, salah satu lagu paling konservatif yang pernah digubah Rhoma. Meskipun tak pernah menyimaknya, membaca lirik semacam ”Tegarkan hatimu! Tegarkan sikapmu!// Terhadap pengaruh asing yang bisa melanda kepribadian kita// Yang tiada sejalan dengan budaya bangsa”, Anda akan mudah membayangkan ia keluar dari kalangan jenis apa.
***
Sekarang mari kita runut apa yang menghubungkan Nada & Dakwah dengan ekspresi keislaman di Indonesia di ranah budaya hari ini, tiga dekade lebih setelah film itu rilis.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
