
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Manusia Indonesia itu secara umum memiliki sifat suka berbuat, tetapi tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang ia perbuat. Apalagi jika perbuatan itu menimbulkan kerugian bagi orang lain, ia lebih suka melarikan diri menjauh dari persoalan yang ia ciptakan daripada menyelesaikannya dengan baik. Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu beredar sebuah video yang menggambarkan cekcok di jalanan karena ada satu pihak yang berkendara dengan menyalahi aturan. Melawan arus. Ketika ditegur, ia lebih suka menyelesaikannya dengan percekcokan daripada dengan tindakan yang mengatasnamakan tanggung jawab.
Sikap lari dari tanggung jawab di kalangan masyarakat Indonesia sudah sedemikian luas, mulai kalangan atas sampai bawah. Contoh paling akhir adalah tindakan barbar memagari laut sepanjang lebih dari 30 kilometer. Ketika tindakan berbau kriminal itu diketahui oleh masyarakat, tidak ada satu pun pihak yang mau mengakui sebagai pelaku dari tindakan itu. Masyarakat dibiarkan berspekulasi, menebak-nebak siapa pelakunya, sementara pihak pemerintah yang memiliki otoritas malah sibuk menangkis sana-sini agar tidak terlihat berlepotan.
Tindakan pemagar laut tidak ada bedanya dengan tersangka kejahatan yang memilih kabur ke luar negeri atau yang mencoba melakukan perlawanan hukum dengan caranya sendiri. Tindakan lain adalah dengan mencari sosok lemah yang bisa dijadikan tumbal atas perbuatan yang ia lakukan, lazim disebut kambing hitam. Tindakan tidak bertanggung jawab dalam budaya Jawa disebut tinggal glanggang colong playu. Kalimat itu memiliki arti sebagai orang-orang yang lebih memilih melarikan diri dari perbuatan liciknya daripada mempertanggungjawabkannya secara kesatria.
Sikap culas semacam itu bukan hanya terjadi pada akhir-akhir ini saja, walaupun memang terasa ada peningkatan tajam. Almarhum Mochtar Lubis, seorang wartawan senior, penulis, dan sastrawan, pernah menulis buku yang menyulut kehebohan masyarakat Indonesia. Buku yang berjudul Manusia Indonesia (2001) merangkum ciri-ciri (negatif) manusia Indonesia. Naskah asli buku itu pada awalnya adalah sebuah naskah pidato yang dibawakan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1977.
Menurut Lubis, minimal ada tujuh ciri negatif manusia Indonesia, dan ciri yang kedua adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan lain-lain. Rasa tanggung jawab menjadi beban yang sangat berat bagi manusia Indonesia karena sikap semacam itu membawa konsekuensi yang tidak ringan, baik yang bersifat material maupun nonmaterial.
Lebih lanjut, Lubis menjelaskan bahwa ”bukan saya” adalah kalimat yang populer di Indonesia sebagai penangkis paling ampuh saat seseorang ditagih tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jawaban tersebut, seseorang mencoba menggeser tanggung jawab kepada orang lain atas apa yang mestinya ia lakukan. Dalam budaya kita yang masih diliputi suasana feodal yang kental, menggeser tanggung jawab sering sekali dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya memiliki kekuasaan dan kewenangan besar. Istilah kambing hitam biasanya ditujukan kepada orang-orang lemah yang bisa dibebani tanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah ia perbuat. Karena posisinya yang lemah itulah, ia harus ketiban awu anget walaupun berada di tepi gelanggang.
Orang-orang yang memiliki sikap tidak mau bertanggung jawab adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang lemah dan tidak teguh pada pendirian alias tidak memiliki prinsip yang kuat. Terdapat satu tembang Jawa ciptaan Ki Narto Sabdo yang berjudul Ladrang Ubaya. Tembang tersebut menggambarkan keutamaan atau kemuliaan orang-orang yang mau memikul tanggung jawab atas segala perbuatannya. Tembang tersebut memberikan pesan, apabila telah memberikan kesanggupan janganlah gugup, disertai dengan kejujuran sikap dan perilaku. Jika melalaikan dua hal itu, apabila dihadapkan pada permasalahan/kesulitan, tidak dapat mewujudkan kesanggupan alias mengingkari janji (lari dari tanggung jawab).
Dalam sejarah Indonesia, terdapat perbuatan para tokoh yang bisa menjadi contoh mengenai tindakan bertanggung jawab, tidak tinggal glanggang colong playu. Salah satu contoh paling fenomenal adalah tindakan Jenderal Sudirman yang lebih memilih untuk bergerilya daripada menyerah kepada Belanda saat agresi militer kedua pada tahun 1948. Sebagai sosok yang telah diberi tanggung jawab untuk memimpin tentara, ia lebih memilih menghadapi pasukan Belanda daripada mengikuti pemimpin sipil yang menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Itulah sifat dan sikap kesatria Jenderal Sudirman. Walaupun tubuh digerogoti penyakit, tetapi lebih memilih menghadapi musuh daripada tergeletak di tempat tidur menyerah kepada nasib.
Dalam situasi di mana harta menjadi junjungan, tidak mudah membentuk sikap bertanggung jawab. Namun, membiarkan negara mengalami kebobrokan di tangan-tangan orang-orang yang bertubuh gempal tetapi berjiwa ringkih adalah sikap yang lebih tidak bertanggung jawab. Dibutuhkan tekad baja dan kerja bersama untuk menumbuhkan kembali sikap bertanggung jawab. Kemuliaan sebuah bangsa dimulai dari kemuliaan warga negaranya karena memiliki sikap kesatria untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Jangan menjadi pribadi yang mendekat paling cepat saat ada kebahagiaan, tetapi menyingkir paling cepat saat datang kesusahan. (*)
---
*) PURNAWAN BASUNDORO, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Resmi! Link Live Streaming Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
Jadwal Clash of Legends Barcelona Legends vs DRX World Legends: Siaran Langsung, Live Streaming dan Daftar Skuad Kedua Tim!
Disiarkan di Televisi? Informasi Lengkap Clash of Legends Jakarta 2026! Patrick Kluivert Siap Comeback di GBK
Jadwal Clash of Legends Jakarta 2026! Duel Epik Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
