
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Jika dewasa ini publik disuguhi fenomena manuver seorang ayah demi memuluskan masa depan anak lelakinya, hal tersebut semestinya disikapi wajar saja. Bukankah naluri seorang ayah memang berjuang dan berkorban demi putra-putrinya?
PERTANYAAN apakah perjuangan itu dilakukan secara elok dan berintegritas atau tidak, itu soal tafsir saja. Juga apakah pengorbanan itu berbuah kegemilangan ataukah air mata, sepadan atau tidak dengan risiko di masa depan, itu soal spekulasi. Meski demikian, terlepas dari tafsir dan spekulasi, para ayah di republik ini kiranya tertarik menjadikan penggalan kisah pewayangan dan sejarah sebagai refleksi atau mawas diri.
Kasih ibu sepanjang masa, kasih ayah sepanjang jalan.
Dalam kisah pewayangan Ramayana, misalnya. Prabu Danareja, raja muda Negeri Lokapala yang sedang mabuk asmara itu, memohon kepada ayahnya, Begawan Wisrawa, agar meminangkan untuknya gadis jelita bernama Dewi Sukesi, putri kesayangan Prabu Sumali, raja Negeri Alengka. Dikisahkan, Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang mampu mengungguli kesaktian sang paman, Arya Jambumangli. Wisrawa sadar, putranya belum berpengalaman, apalagi mumpuni untuk beradu sakti tingkat tinggi. Namun, Wisrawa pun paham, seorang raja tanpa permaisuri dan keturunan mustahil dapat melanjutkan dinasti. Wisrawa pun memantapkan tekad menemui Prabu Sumali untuk mencari jalan meluluskan keinginan putra kesayangannya.
Singkat cerita, Sukesi memberi syarat kepada Wisrawa: tak perlu lagi pertarungan berdarah-darah melawan Arya Jambumangli. Dia berkenan menikah dengan Danareja bila Wisrawa berkenan mewedarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu untuknya. Dikisahkan, tidak semua orang boleh atau dapat mewedar dan belajar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu karena ilmu tersebut konon menguak rahasia tatanan alam semesta.
Dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin, Sindhunata (1983) menyadur kisah pewayangan tersebut amat elok dan dramatis. Khususnya pada momen ketika Wisrawa yang awalnya berniat mendapatkan Sukesi untuk putranya ternyata justru terpikat sendiri oleh pendar aura kecantikan sang putri. Wisrawa yang paripurna dalam kecendekiawanan ternyata semenjana terhadap nyala kama dalam kelelakiannya. Narasi pengorbanan seorang ayah pun lantas berbelok tajam menjelma adegan pengkhianatan yang teramat pilu dirasakan keduanya.
Kasih ibu sepanjang masa, kasih ayah sepanjang jalan.
Jika kisah Danareja dan Wisrawa dimulai dari kehendak si anak, ada pula kisah perjuangan ayah yang bermula dari kehendak sang ayah sendiri. Sebagai kepala keluarga, kehendak ayah memang kerap diklaimkan sebagai kehendak putranya, bahkan ketika putranya tak benar-benar menginginkannya.
Bung Karno, misalnya. Dia mengisahkan bagaimana ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, hendak menyekolahkan dirinya ke Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar khusus anak Eropa. Bung Karno yang saat itu sekolah di Eerste Indlandsche School (EIS) atau sekolah dasar untuk pribumi awalnya enggan. Bung Karno lantas diberi tahu Soekeni, masa studi sekolah di EIS hanya lima tahun (kelas 5) sehingga tidak bisa lanjut ke jenjang sekolah tinggi. Sementara itu, Soekeni berharap Bung Karno melanjutkan sekolah hingga ke sekolah tinggi. Satu-satunya jalan adalah pindah ke ELS yang masa studinya tujuh tahun (kelas 7).
Dalam artikel Pemuda Sukarno, Kawan Sekolah dan Kawan Mainku Selama 1909–1919, Herman Kartowisastra (2015), sobat Bung Karno sejak sekolah di Mojokerto hingga Surabaya, menggambarkan uletnya perjuangan Soekeni mencari jalan di satu sisi dan keengganan Bung Karno mengulang kelas di sisi lain. Menurut Herman, Soekeni berkali-kali mengirimkan surat permohonan ke Residen Surabaya agar bisa mendaftarkan Bung Karno ke ELS. Ketika upaya Soekeni membuahkan hasil, Bung Karno malah memprotes karena dirinya dinyatakan mesti mengulang kelas. Dalam Penjambung Lidah Rakjat, Bung Karno (1966) menuturkan:
”Umur saja sudah empat belas,” aku memprotes, ”Terlalu tua untuk kelas lima. Tentu orang mengira saja tinggal kelas karena bodoh. Saja tentu diberi malu.”
”Baiklah,” bapak memutuskan di saat itu djuga, ”Kalau perlu kita membohong. Akan kita kurangi umurmu satu tahun. Kalau sudah mulai tahun peladjaran baru engkau didaftarkan dengan umur tiga belas.”
Bukti usia Bung Karno dimudakan satu tahun tercatat di dokumen, salah satunya di buku induk tempat dirinya berkuliah. Dari yang sebenarnya terlahir 1901, dalam dokumen itu tertulis 1902 –hal yang kerap dijadikan bahan spekulasi soal tahun kelahiran Bung Karno, meski sesungguhnya sudah terjelaskan secara gamblang dalam otobiografi dan terkonfirmasi oleh kesaksian teman sekolahnya sendiri.
Selanjutnya, Soekeni harus menyisihkan uang lebih demi membayar guru les privat bahasa Belanda untuk putranya. Karena perjuangan dan pengorbanan Soekeni itulah Bung Karno kemudian mahir berbahasa Belanda. Lalu, melanjutkan sekolah menengah ke Hoogere Burgereschool di Surabaya, berkuliah di Technische Hoogeschool Bandung, hingga menjadi proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
