
Foto-foto Busan Biennale 2024. (NINA/JAWA POS)
Setelah perjalanan panjang dari Jakarta, saya sampai di Busan tepat pada sebuah sore yang cukup teduh. Perkenalan pertama saya dengan Busan dilakukan lewat kaca jendela bus. Sepintas lanskap kota ini terlihat sangat kontras. Jajaran gedung yang amat tinggi terletak dekat sekali dengan bibir pantai.
BUSAN memang wilayah pesisir. Ia terletak di bagian tenggara semenanjung Korea. Selain dikenali sebagai kota tujuan para pelancong, Busan adalah salah satu kota kreatif di Korea Selatan. Berbagai festival seni dan budaya rutin diselenggarakan. Satu-satunya tujuan saya pergi ke Busan adalah Busan Biennale. Ia adalah pameran seni kontemporer berskala besar yang dihelat dua tahunan. Masih dengan bus dan amatan lanskap lewat jendelanya, saya berkeliling mengunjungi beberapa titik pameran Busan Biennale.
Beberapa tempat pameran yang saya kunjungi cukup unik. Mulai rumah dalam sebuah gang bernama Coryang, lalu ruang bawah tanah bekas Bank of Korea, hingga museum seni kontemporer. Lokasi pameran utama adalah Museum of Contemporary Art (MOCA) Busan, sebuah museum seni kontemporer bertingkat tiga yang jelas tak pernah saya temui di Indonesia.
Menyusuri Busan Biennale
Ketika memasuki lantai pertama, sayup-sayup saya mendengar sebuah lagu dangdut dengan suara cempreng. Ternyata sebuah pengeras suara memutar lagu dangdut. Tepat di sekitarnya ada wayang berbahan kardus dan tumpukan karung beras. Instalasi ”Memedi Sawah” dari Taring Padi merespons harga beras yang melonjak saat masa Pemilu 2024. Karya ini semacam upaya kontekstualisasi dari inisiasi seni Taring Padi di Klaten tahun 1999.
Tepat di seberang karya Taring Padi ada belasan lukisan berukuran dua kali satu meter karya Yun Suknam. Ia melukis sosok-sosok perempuan secara portrait pada kertas tradisional Korea bernama hanji. Yun melukis ibunya, para buruh perempuan, tokoh perempuan dalam legenda, hingga para aktivis perempuan. Di lantai pertama MOCA itu karya-karya yang dipamerkan memiliki ragam bentuk dan isu yang luas. Ada Subversive Film dengan proyek jangka panjang soal restorasi film progresif, Kanitha Tith dengan instalasi kawatnya, Song Cheon dengan lukisan spiritual kritisnya yang berukuran delapan meter, dan banyak karya seniman lain.
Pada lantai berikutnya, ada karya dari Hong Jin-hwon yang merefleksikan arsip-arsip foto perjuangan para buruh Hyundai di Korea Selatan sejak 1980-an. Isu hak hidup ulayat dan kelompok yang dipinggirkan juga muncul pada karya Abigail Aroha Jensen tentang masyarakat Maori di Selandia Baru, Rajyashri Goody tentang kelompok Dalit di India, dan Ayoh Kré Duchâtelet tentang masyarakat Kongo.
Saya berhenti cukup lama pada karya seniman asal Thailand bernama Pratchaya Phintong. Ruang redup itu berisi instalasi kaca yang dibuat dari temuan ranjau darat dan sisa bom dari Perang Dingin di kawasan Laos. Pratchaya Phintong bekerja dengan masyarakat Desa Napia di Laos untuk membuat kaca dari sisa alat peledak. Ia menguji batasnya sebagai seniman dan berurusan dengan dampak berkepanjangan dari sejarah peperangan.
Ada tiga lantai pameran yang menyajikan ragam isu dan karya yang reflektif, provokatif, hingga interventif. Melibatkan enam puluh dua seniman, Busan Biennale seperti menawarkan narasi alternatif tentang kondisi terkini dunia kita. Rangkaian pameran ini dikuratori Vera Mey dan Philippe Pirotte. Kerangka kuratorialnya merespons krisis iklim, ekonomi, politik, hingga berbagai penindasan yang terjadi sepanjang sejarah.
Ragam Kisah, Ragam Siasat
Bukan sekadar menyuarakan penindasan, berbagai karya di Busan Biennale juga saya lihat sebagai upaya bersiasat dan merayakan resiliensi. Mulai perjuangan buruh di Korea Selatan, resiliensi harian masyarakat Laos, perlawanan para petani di Wadas dan Kendeng, hingga berbagai luka sejarah masyarakat tanah jajahan. Seeing in the Dark adalah kerangka tematik dalam Busan Biennale tahun ini. Tema ini berangkat dari pembacaan kritis terhadap Abad Pencerahan yang dilihat dari spiritualisme kritis Buddha dan imaji soal masyarakat otonom. Seeing in the Dark menekankan bahwa tiap wilayah dan konteks memiliki siasatnya untuk bertahan dari gempuran, terutama untuk merebut ulang hak dan otonominya.
Siasat kemudian jadi kata kunci penting sebab para kurator Busan Biennale merangkum berbagai karya seni dalam istilah utopia bajak laut (pirate utopia). Imaji soal bajak laut itu membayangkan tatanan masyarakat otonom yang melampaui berbagai sekat dan teritori. Sebab, dalam sejarahnya, bajak laut selalu punya siasat untuk otonom dalam ketidakpastian dan keterpinggiran. Bajak laut jadi semacam metafora bagi resistansi yang kosmopolit ketika sekat identitas hingga kewilayahan memudar dan melebur satu dengan yang lain.
Dari berbagai karya dan kisah-kisah di dalamnya, kita seakan diajak merajut kembali solidaritas. Saya pikir seni kontemporer memang selalu terbuka pada imaji baru atas persaudaraan dan persaudarian yang melintas batas. Busan Biennale mengingatkan bahwa kita perlu turut ambil bagian dalam krisis dan ketertindasan yang terjadi di belahan bumi mana pun. Toh, kita adalah anak segala bangsa, kita dilanda kesulitan yang sama dan harus bersiasat bersama-sama. Gejolak krisis iklim, jalinan sengkarut politik dan korporasi, hingga opresi terus menggempur kita. Sedangkan, apa yang kini tersisa hanyalah imaji dan lelaku solidaritas. Merancang siasat bersama dan bersolidaritas adalah dorongan untuk tetap bertahan hidup meski digempur lapisan krisis. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
