Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Agustus 2024 | 00.33 WIB

Boros Pangan: Antara Distansi dan Moderasi

ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)

BELUM lama ini Badan Pangan Nasional (Bapanas) meluncurkan kampanye ’’Stop Boros Pangan”. Dasar dari kampanye itu adalah tingginya pemborosan pangan di Indonesia. Badan Pusat Statistik memperkirakan bahwa setiap tahun sampah makanan di Indonesia mencapai sekitar 30 persen. Angka tersebut seharusnya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan 60 hingga 120 juta orang di Indonesia.  

Di samping berdampak pada pencemaran lingkungan, sampah makanan merugikan sektor perekonomian dan secara sosial memunculkan ketimpangan konsumsi antarkelas masyarakat. Masyarakat dari kalangan menengah ke bawah makin menderita akibat tidak meratanya distribusi makanan yang dihasilkan dari food loss & waste di sebagian kalangan masyarakat menengah ke atas. Dan, sampah makanan bukan semata persoalan konsumsi, namun bertemali dengan kian terputusnya moral manusia terhadap nilai-nilai kearifan pangan yang sudah mengakar lama dalam tradisi masyarakat. 

Tren Kuliner dan Selera Konsumsi

Hal yang tidak terpisahkan dari sampah makanan adalah aktivitas kuliner. Kian masifnya kapitalisme industri kuliner di Indonesia setidaknya turut andil dalam membentuk selera kolektif serta bahkan mengubah budaya makan masyarakat. Jika menelaah Pierre Bourdieu dalam Distinction; a Social Critique of the Judgment of Taste (1984) dalam konteks sosial terdapat distingsi antara selera atas dan selera bawah antarkelas masyarakat. Dalam wacana identitas, distingsi selera itu justru menghasilkan keabsenan pengetahuan terkait seni bagaimana seharusnya manusia makan. Hal itulah yang menyisakan berbagai masalah terkait konsumsi makanan, salah satunya sampah makanan.

Mereka yang melek gastronomi sedianya paham pemikiran fisiologi rasa-nya Jean Anthelme Brillat-Savarin (1755–1826). Menurut dia, dalam hal konsumsi makanan terkandung aturan hukum dan seni makan yang tidak boleh diabaikan. Renungannya terhadap makanan terpancar dari dua puluh aforismanya yang sarat akan nilai-nilai filosofi, estetika, sejarah, serta religiusitas. Salah satu aforismanya berbunyi: ’’Katakan kepada saya apa yang Anda makan dan saya akan katakan siapa diri Anda” (Dis-moi ce que tu manges, je te dirai ce que tu es).

Makna aforisma tersebut kini lebih populer melalui ungkapan ’’you are what you eat” yang banyak digunakan penciri identitas para penikmat kuliner. Masalahnya, bukan soal ’’apa yang dimakan”, melainkan Brillat-Savarin sebenarnya bersarkas tentang: ’’bagaimana kita makan” 

Distansi dan Moderasi

Perihal ’’bagaimana kita makan” menjadi menarik jika dihubungkan dengan refleksi Driyarkara. Dalam tulisannya, Badan dan Dinamika Manusia (1969), ia menyatakan bahwa makan bagi manusia adalah suatu keharusan sekaligus juga risiko. Akan menjadi bahaya apabila manusia berlebihan dalam aktivitas makannya. Dengan segala keluhuran akal dan budinya, menurut Driyarkara, manusia memiliki distansi dan moderasi yang membedakan dirinya dengan hewan. Itu sejalan dengan aforisma Brillat-Savarin: ’’Hewan makan sekadar kenyang; manusia juga makan, tapi hanya manusia berakal tahu bagaimana adab makan” (II les animaux se repaissent; l’homme mange; seul l’homme d’esprit sait manger).

Dalam konteks distansi, manusia sebagai subjek menghadapi makanannya sebagai objek. Ketika menghadapi makanan, ia bisa memikirkan nilai dari makanan yang dikonsumsinya. Dari distansi pula, berkembang berbagai gagasan terkait makanan, seperti menu, gizi, rasa, dan estetika yang mewujudkan konsep kuliner dan gastronomi sebagai hasil dari puncak peradaban manusia. Adapun moderasi memiliki arti penguasaan diri. Dalam hal ini, manusia memiliki kekuasaan ketika dirinya menghadapi makanan. Maksudnya, ia bisa menentukan apakah ia akan makan atau tidak; kapan waktunya berhenti makan; serta bisa menentukan secara kuantitas akan berapa banyak makanan yang dimakannya. Distansi maupun moderasi sejatinya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antar keduanya.

Apa yang direfleksikan Driyarkara dengan kata lain menunjukkan perlunya manusia memiliki pemahaman aturan dalam praktik mengolah makanan hingga konsumsinya. Hal itu sebenarnya telah berlaku sejak lampau dan termaktub dalam berbagai pesan bijak mulai dari teks-teks agama, filsafat, hingga tradisi yang membentuk seni bagaimana sejatinya manusia makan, seperti larangan menyia-nyiakan, menyisakan, dan membuang makanan; anjuran berhenti makan sebelum kenyang; serta khasiat berpuasa sebagai ’’makanan jiwa”. 

Kearifan yang Terlupakan

Kearifan dalam konsumsi makanan juga telah terkandung dalam nilai-nilai filosofi tradisi pangan di Nusantara semisal folklor dan mitos yang dahulu diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat agraris, ada folklor dewi kesuburan atau dewi padi. Di Jawa dan Bali dikenal cerita mitos Dewi Shri (Dewi Sri) dan di Sunda dikenal sosok Nyai Pohaci Sanghyang Asri. Sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, Majapahit, dan Pajajaran, sosok dewi kesuburan tersebut memiliki kesamaan, yakni dipuja sebagai pelindung kehidupan serta pengendali ketersediaan bahan makanan bagi manusia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore