
ILUSTRASI
Ada dua film dokumenter yang pada beberapa minggu terakhir ini menyita perhatian publik. Film pertama berjudul Eksil. Lola Amaria sebagai produser sekaligus sutradara bersama timnya telah melakukan riset sejak 2015. Pada 2022, film tersebut pada akhirnya rampung.
FILM Eksil memotret mengenai kisah mantan mahasiswa di tahun 1965 yang dikirim kuliah ke luar negeri. Mereka adalah generasi emas yang diberi beasiswa dan sangat diharapkan oleh pemerintahan Soekarno saat itu untuk kembali membangun negerinya.
Gejolak politik di Indonesia pada akhir 1965 rupanya ”memaksa” mereka untuk tidak boleh pulang ke Indonesia. Keputusan sekaligus kesetiaan mereka yang berwujud untuk tidak ikut mengutuk Soekarno pasca-G 30 S membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan yang jelas.
Hilangnya kewarganegaraan membuat mereka tercerabut dari hubungan sosial pada keluarga dan sahabat di Indonesia. Lebih dari 30 tahun mereka tak pernah kembali ke kampung halaman. Saudara mereka yang ada di Indonesia pun enggan menerimanya kembali. Bayang-bayang ketakutan sebagai keluarga eks PKI atau di-PKI-kan karena kesetiaan pada Soekarno adalah penyebabnya.
Film kedua yang juga selesai digarap dan diputar pada 2024 ini berjudul Yang (Tak Pernah) Hilang. Film produksi Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Jawa Timur dan Komunitas Herman-Bimo ini masih diputar secara terbatas di kampus-kampus, terutama di Surabaya, secara indie. Gaungnya kemudian menjadi perhatian di media sosial. Dalam beberapa bulan ke depan, permintaan agar film ini diputar dari kota ke kota di Indonesia semakin kencang.
Seakan melengkapi film Eksil yang mengisahkan upaya negara dalam ”membuang” mahasiswanya ke luar negeri, film Yang (Tak Pernah) Hilang juga menyimpan kesaksian-kesaksian dari keluarga dan kawan dua mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya yang ”dibuang” entah ke mana oleh negara. Mereka hilang sejak tahun 1998 hingga sekarang.
Menurut Dandik Katjasungkana, produser Yang (Tak Pernah) Hilang, film ini digagas oleh mendiang Hari Nugroho (HarNug). Prosesnya sudah dimulai sejak 2019. HarNug lebih dahulu meninggal dunia saat proses riset film ini sedang berlangsung.
Pandemi ”memaksa” proses film ini juga berhenti. Jalan terjal pun tak cukup di situ. Tiadanya kamerawan dan sutradara serta penggarapan naskah membuat proyek ini sempat terbengkalai.
Pada 2021 proses pun kembali dimulai secara perlahan. Anton Subandrio (Cak Su) sebagai sutradara yang ditunjuk menangani film ini pada akhirnya berhasil menyelesaikan di awal 2024.
Film ini berisi tentang kesaksian hilangnya dua mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, yaitu Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugrah. Keduanya hilang saat Indonesia mengalami chaos di tahun 1998. Kedua aktivis mahasiswa yang juga anggota PRD itu hilang di Jakarta seusai konferensi pers Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD) merespons dilantiknya kembali Soeharto menjadi presiden Indonesia pada 11 Maret 1998.
Herman Hendrawan diduga hilang sejak 12 Maret 1998, sedangkan Petrus Bima Anugrah diduga hilang sejak 30 Maret 1998. Sekadar mengingatkan kembali, di luar konteks film ini, total ada 13 korban penghilangan paksa dalam periode 1997–1998. Mereka tanpa kabar hingga kini.
Metafora
Film Eksil dibuka dengan adegan beberapa kakek di suatu kota dan negara masing-masing melakukan aktivitas di pagi hari. Ada sekitar sepuluh narasumber yang ada di Rusia, Belanda, Ceko, Prancis, Swedia, dan lainnya. Merekalah kaum intelektual yang terjebak dan tak boleh pulang ke Indonesia. Terjebak di negara saat mereka menempuh kuliah. Mereka inilah yang disebut sebagai eksil. Sosok yang dipinggirkan ke luar. Tak boleh kembali.
Pembuka film ini begitu menarik saat di layar dipertunjukkan bagaimana kakek-kakek tersebut bergerak dari kiri ke kanan. Berjalan menuju ke suatu tempat pada pagi-pagi hari. Mereka beraktivitas seperti biasanya.
Menjelang penutup, pergerakan kakek-kakek tersebut berkebalikan. Kini dari kanan ke kiri. Mereka bergerak pulang ke rumah masing-masing di negara yang kini mereka tempati. Di bagian akhir, salah seorang kakek itu melambaikan tangan seraya menyampaikan salam perpisahan sebelum menutup pintu rumahnya. Kemudian senyap.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
