
ILUSTRASI
Utas di platform X sempat memancing perdebatan. Isian dari rangkaian utas itu membahas mengapa generasi Z acap kali dianggap sebagai generasi yang manja, kurang memiliki etos bekerja yang baik, dan selalu menyinggung soal kesehatan mental.
BUKAN saja utas itu yang membuat geger dan dipojokkannya generasi Z, melainkan juga bermacam-macam unggahan video blogging dan siniar yang turut membahas persoalan itu. Tudingan lainnya yang turut dibahas adalah terkait bagaimana generasi Z dianggap sebagai generasi yang keranjingan media sosial dan terlampau mudah hidupnya jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Menurut saya, hal itu suatu generalisasi yang terlampau mencitrakan generasi Z secara negatif, padahal memahami generasi muda sesungguhnya tidak pernah terlepas dari pengondisian sosial yang memengaruhi dan membentuk mereka.
Generasi Z atau singkatnya lebih populer dengan gen Z adalah generasi yang lahir pada 1997–2012. Generasi itu sering juga disebut sebagai generasi zoomers, jika dikomparasikan dengan generasi pendahulunya, khususnya generasi baby boomers. Sebagai seorang pengajar, setiap hari saya bercengkerama dengan para mahasiswa yang sebagian besar adalah kelompok generasi Z. Berdasar pengalaman itu, saya memiliki perspektif yang berbeda tentang generasi Z. Saya memandang mereka sebagai generasi yang memiliki tantangan-tantangan yang kompleks, tetapi juga memiliki kecerdikan dan kepekaan dalam mengatasi tantangan itu. Saya mencoba memahami generasi Z dan tidak saja dalam konteks keumuman penanda angkatan kelahiran mereka, tetapi saya berbicara dengan mereka, satu per satu, sebagai individu yang memiliki keunikannya masing-masing.
Sebagian individu dari generasi Z itu bercerita kepada saya tentang bermacam-macam permasalahan yang mereka khawatirkan. Mereka menuturkan kerisauan tentang citra diri dan pengaruh media sosial, masa depan gelanggang pekerjaan yang semakin sengit, hingga persoalan sosial seperti krisis kemanusiaan di Palestina, dampak pandemi terhadap ekonomi global, juga kehancuran lingkungan hidup yang tengah terjadi. Generasi Z yang juga disebut sebagai digital native atau penduduk asli digital memang terlahir saat teknologi digital telah membelit menjadi struktur yang membentuk seluruh lapisan kehidupan bermasyarakat kita. Lensa dan wawasan dunia generasi Z tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital, mereka hidup dalam aturan serbacepat, instan, dan keberlimpahan informasi sebagai realitas sehari-hari. Kedekatan dan kefasihan generasi Z menggunakan teknologi digital tidak selalu berarti mereka sepenuhnya dapat mengendalikan dampak psikologis disebabkan informasi bertubi-tubi dan tanpa henti tersebut.
Seorang psikolog dan penulis bernama Nicholas Kardaras dalam karyanya yang berjudul Digital Madness (2022) menguraikan berbagai analisis dan juga kritik terhadap masyarakat yang mengalami ketergantungan pada gawai. Dia berargumen bahwa terpapar layar gawai dan informasi yang berlebih dapat mengakibatkan problem mental. Demikian pula dalam publikasinya yang berjudul Generation Z: Online and at Risk? (2016), dia membahas tentang Facebook depression, yakni fenomena saat seseorang memiliki banyak teman di media sosial, tetapi semakin merasa hampa dan kesepian. Dia menyoroti berubahnya pola pertemanan nyata menjadi pertemanan daring yang tidak memenuhi kebutuhan interaksi riil antarindividu. Saya menyepakati kesimpulan yang disampaikan Kardaras bahwa tantangan mengupayakan kehidupan yang seimbang pada era digital ini bukan hanya urusan para generasi Z, melainkan juga tanggung jawab masyarakat secara luas. Cara kita mengatasi persoalan ini pun semestinya bertumpu pada sikap saling peduli, keinginan untuk mendengarkan dan menyediakan waktu bagi orang lain.
Dalam diskusi yang ditayangkan saluran berita internasional, tiga perempuan muda bernama Gabrielle Judge, Daniella Roberts, dan Kwolanne Felix menyampaikan gagasan mereka mengapa generasi Z menolak hustle culture atau budaya gila kerja. Mereka menyatakan tidak menyangkal pekerjaan itu penting, tetapi mereka menolak pendewaan pada kerja yang menjadikan kesibukan bekerja sebagai satu-satunya makna dalam hidup. Alih-alih, mereka mencari format lainnya, work-life balance atau menjaga keseimbangan kehidupan personal dan kerja menurut mereka adalah kunci kehidupan yang bahagia. Byung Chul Han dalam karyanya The Burnout Society (2010) mengingatkan ancaman penyakit sosial kelelahan, depresi, dan kesepian saat orang terlampau dipaksa untuk terus bekerja dan produktif tanpa henti. Dia mengkritik tekanan sosial pada individu untuk selalu berkompetisi, menjadi sukses, dan sempurna di hadapan sosial mengakibatkan individu kehilangan kebebasan dan kesejahteraan mentalnya.
Kesehatan mental adalah percakapan yang harus selalu digaungkan dan apa yang tengah disampaikan para generasi muda, menurut saya, bukan persoalan yang kecil. Mereka tengah mengomunikasikan bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara dan relasi hidup yang terkurung dalam sistem kapitalistik –yang diperburuk dengan pemanfaatan medium teknologi digital, yang melenyapkan relasi nyata antarmanusia, dan juga terhadap lingkungan hidupnya. Mengapa menghadirkan emosi dan menunjukkan emosi yang mendalam terhadap hal-hal ini dianggap lemah? Sewajarnya seseorang kalut, sedih, lalu menangis ketika menghadapi persoalan eksistensial itu. Dalam studi filsafat eksistensialisme, emosi adalah bagian yang menjadikan kita manusia, meluapkan emosi dan menunjukkan kerapuhan adalah cara untuk membuka diri dan terhubung dengan sesama. (*)
---
SARAS DEWI, Dosen Filsafat Universitas Indonesia
