
ILUSTRASI
Sebetulnya saya sudah tak percaya pada lembaga American Academy Award/Oscar sejak lama. Tepatnya, sejak 1998, ketika Titanic yang gombal dan sekadar mahal dari segi produksi meraup Piala Oscar terbanyak. Sebelas piala mencakup untuk ’’film terbaik” dan ’’sutradara terbaik”.
PADA tahun itu, banyak film produksi Hollywood sendiri yang jauh melampaui Titanic dalam hal capaian sinematik mereka.
Memang, beberapa analisis menyebut bahwa Oscar semata menghargai Titanic dari segi penyutradaraan yang rumit dan memiliki tingkat kesulitan teknis yang tinggi. Tapi, itu tak bisa menepis bahwa Titanic adalah sebuah melodrama Hollywood yang memandang cinta secara tipikal dan agak kekanakan.
Itulah kali pertama saya menyadari bahwa ada politik selera dan pertimbangan ekonomi di balik ajang kusala yang menampilkan diri sebagai pemberi standar estetika dunia. Apalagi, saat itu saya mulai terpapar ’’sinema dunia” di Jakarta. Hollywood jadi terasa membosankan. Oscar jadi terasa terlalu sempit, untuk menampung minat terhadap sinema dunia.
Seperti pada banyak hal dalam kebudayaan dan politik AS, Oscar adalah simbol dari sebuah nilai yang lahir dan ditujukan untuk Amerika sendiri, tapi dipresentasikan sebagai sebuah nilai dan standar global. Oscar adalah ajang khusus untuk industri film AS (sistem penilaian balot yang hanya diikuti para pekerja dunia film AS, bukan melalui penjurian seperti Cannes atau berbagai ajang kusala film di dunia), tapi diperlakukan sebagai ajang internasional dan standar bagi film dunia.
Film-film dunia, yang sering kali jauh lebih kuat daripada film-film terkuat Hollywood, hanya diberi tempat di kategori ’’foreign language movies” dan dibatasi hanya lima nomine dari tahun ke tahun. Itu pun hasil kiriman resmi negara. Jadi problematik, misalnya, untuk film Iran yang sering kali menghasilkan film-film terbaik mereka di luar restu pemerintah.
Kotak ’’foreign language movies” semakin tak masuk akal ketika orang menyadari bahwa di sebagian besar negara dunia, justru film-film Amerika yang mayoritas berbahasa Inggris-lah yang dianggap sebagai ’’film berbahasa asing”. Artinya, ada semacam waham dalam perfilman Amerika bahwa merekalah pusat dunia. Kotak sempit itu akhirnya didobrak oleh kemenangan besar Parasite (Bon Joong-Ho) pada ajang Oscar 2020. Parasite, film yang diproduksi Korea Selatan dan berbahasa Korea, mendapat Oscar untuk film terbaik, sutradara terbaik, skenario asli terbaik, editing terbaik, film berbahasa asing terbaik, dan desain produksi terbaik.
Saya pikir, setelah kemenangan Parasite, ajang Oscar jadi menarik lagi. Pada 2021, nomine Oscar mencerminkan semangat independen dan alternatif dengan dominannya kembali film-film kecil (dalam arti, bukan berbujet di atas USD 100 juta dan bukan naratif fantastis) dan tampak tidak tipikal mengemban ’’Hollywoodisme”.
Tapi, sistem penilaian Oscar, mekanisme seleksinya, dan bahkan penilaian estetis para voter Oscar pada akhirnya mengandung unsur politik selera dan perwujudan dari sebuah ideologi tertentu. Ideologi yang berpusat pada sudut pandang Amerika sebagai sebuah pusat, sebuah imperium yang selalu bertingkah seakan sebuah kubah pemaknaan yang menaungi seluruh dunia.
Menjelang Oscar 2024, sesuatu di luar Oscar, di luar dunia perfilman, sedang terjadi dan akan memengaruhi relevansi Oscar dalam perfilman dunia. Genosida di Gaza, Palestina, oleh Israel dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dan proxy mereka masih terjadi hingga saat esai ini dituliskan. Sebagian aktor Hollywood mendukung Palestina atau setidaknya menyerukan gencatan senjata dan penghentian genosida Gaza. Misalnya, Mark Ruffallo yang banyak dipujikan dalam Poor Things (Yorgos Lanthimos). Film itu dianggap calon kuat penerima Oscar sebagai film terbaik. Tapi, apakah mereka mampu menggunakan ajang Oscar untuk membuat pernyataan tegas terhadap Israel?
Oscar kini dihajatkan di tengah imaji-imaji audiovisual melimpah setiap menit lewat gawai kita dari Gaza dan West Bank, juga dari Kongo, Sudan, dan kadang Papua. Imaji-imaji kematian, kehancuran, kehilangan tak terperi. Ada sebuah bagian dalam Hugo (Martin Scorsese, 2011) yang mungkin relevan. Film itu bercerita tentang George Melies, salah satu pelopor utama film cerita dalam sejarah sinema dunia, yang patah hati karena film-filmnya tak lagi diterima. Perang Dunia I melanda Eropa, dan film-film Melies yang bersemangat mencipta ’’magic” atau keajaiban eskapisme bagi penonton, ditinggalkan. Dunia kenyataan hadir jauh lebih keras daripada dunia eskapisme yang ditawarkan Melies.
Hollywoodisme masihlah bertumpu pada eskapisme demikian. Eskapisme yang berakar pada nilai dan karenanya, konstruksi kebahagiaan ala impian Amerika. Institusi pembentuk selera semacam Oscar/Academy Award menjadi aparatus ideologi Imperium AS bahkan sejak awal abad ke-20. Lebih-lebih lagi selama Perang Dingin hingga era 9/11, sejak era John Wayne hingga Rambo hingga Marvel Cinematic Universe.
Dalam konteks demikian, walau film-film drama keluaran Eropa dan AS belakangan telah mencoba lebih dewasa, tetap saja ada jarak dengan realitas yang dijalani masyarakat di wilayah ’’global south” (dulu disebut secara nyaris peyoratif sebagai ’’dunia ketiga”). Setelah Gaza, setelah 7 Oktober 2023 dan 75 tahun sebelumnya (Nakba pertama, 1948), saya semakin merasa imaji-imaji yang ditawarkan Hollywood tidak relevan dengan duka gembira keseharian saya. Bahkan, menjadi ranah eskapisme pun tak lagi memuaskan amat.
Ajang Oscar 2024 masih menawarkan jajaran film kuat dan menarik. Misalnya, Perfect Days (saya anggap masuk top 3 film terbaik 2023 pilihan saya), Past Lives, Anatomy of a Fall, El Conde, Poor Things, Killers of the Flower Moon, dan Oppenheimer. Tak ada Monster, About Dry Grasses (saya anggap film terbaik 2023), Tiger Stripes, Animalia, atau Perempuan dari Pulau Rote, tentu saja. Saran saya, nikmati saja film-film itu tanpa konteks Oscar. Lebih-lebih setelah Gaza, mata kita semakin valid untuk menghakimi, menyanggah, atau mengabaikan, Hollywood(-isme). (*)
---

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Resmi! Link Live Streaming Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Jadwal Clash of Legends Barcelona Legends vs DRX World Legends: Siaran Langsung, Live Streaming dan Daftar Skuad Kedua Tim!
Disiarkan di Televisi? Informasi Lengkap Clash of Legends Jakarta 2026! Patrick Kluivert Siap Comeback di GBK
Jadwal Clash of Legends Jakarta 2026! Duel Epik Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
