
BUDI DARMA
”Andaikata Nirdawat Seorang Kritikus Sastra.”
---
DEMIKIAN Budi Darma mengajak pembaca berimajinasi. Dia menggambarkan Nirdawat sebagai ”seorang lelaki biasa” yang suka membaca karya sastra dan selalu jengkel membaca karya yang buruk. Tetapi, Nirdawat akan lebih bergidik lagi pada ”kedangkalan pendapat kritikus”, karena sekali lagi ”musuh Nirdawat adalah kedangkalan”. Bagi Nirdawat, salah satu problem dari kedangkalan kritik sastra di Indonesia adalah ”koncoisme”.
Ini sebuah presentasi panjang yang diutarakan di forum Temu Kritikus Sastra dan Sastrawan yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1984. Namun, saya sendiri baru membacanya di majalah sastra Horison yang memuatnya setahun kemudian dan agaknya 37 tahun kemudian, situasi itu belum terlalu banyak berubah.
Mungkin karena esainya yang tajam dan pedas, banyak poin yang sulit ditangkis, nama Budi Darma di tahun 1980-an melejit di kalangan komunitas sastra yang ”muda” bukan hanya karena kumpulan cerita pendek Orang-Orang Bloomington (1981) dan novel Olenka (1983), tetapi juga karena serangkaian esai yang menyindir penulis maupun kritikus sastra secara brutal sekaligus seluruh komunitas yang gemar saling mencibir ini.
Ketika sepucuk surat melayang ke rumah saya dengan nama si pengirim Budi Darma, Ketintang, Surabaya, tentu saja saya tertegun. Isinya adalah tanggapan tentang cerita pendek saya yang ditulis di majalah Zaman, majalah yang masih bersaudara dengan Tempo yang sudah dimakamkan karena tak laku. Saya ingat sampul surat itu berwarna biru dengan tulisan tangan Pak Budi Darma yang rapi, sedikit keriting, mengatakan bahwa dia tahu saya pasti terkejut menerima surat itu. Dia hanya ingin menyampaikan kelegaannya dan kegembiraannya bahwa saya sudah mulai memasuki ”usia dewasa” dalam penulisan fiksi, karena sebelumnya saya menulis cerita anak-anak dan remaja yang lincah dan bergelora. Dia bahkan menyebut-nyebut cerpen pertama saya di Kuntjung, lengkap dengan judul Pesan Sebatang Pohon Pisang yang saya tulis pada usia 12 tahun yang menurut dia ”sudah dewasa” untuk masanya.
Semula saya pikir, ini surat palsu dari seorang kawan iseng yang tahu betul saya memuja karya Budi Darma (saat itu saya sedang dalam fase penggila karya Franz Kafka, Putu Wijaya, dan Budi Darma). Tetapi, tulisan tangan dan tanda tangannya tampak asli.
Ketika saya membaca pembahasannya yang terperinci tentang cerpen Buku Merah dan Karbol yang kelak dikumpulkan dalam antologi Malam Terakhir (1989), saya mulai yakin surat itu memang datang dari beliau. Hubungan saya dengan Pak Budi Darma, demikian saya memanggilnya dengan rasa hormat dan kagum, kemudian berlangsung melalui korespondensi antara Peterborough, Kanada, dan Ketintang. Sosoknya sendiri baru saya temui belakangan ketika beliau mengunjungi rumah saya di Jakarta. Saya baru saja selesai kuliah dan berniat melengkapi kumpulan cerpen Malam Terakhir sebelum kelak bergabung dengan Tempo.
Tentu saja saya bukan hanya terkejut dan gugup hingga semua daftar pertanyaan yang sudah saya siapkan –andai bertemu– rontok seketika, misalnya: Satu, apakah Nirdawat dan Fanton Drummond itu alter ego Anda? Dua, kalau di dalam dunia nyata Anda bertemu perempuan yang agak self-indulgent seperti Olenka, apakah dia masih ”semisterius” yang Anda utarakan sampai puluhan halaman itu? Tiga, mengapa esai-esai Anda di majalah Horison pedas betul, apakah situasi komunitas sastra Indonesia sedemikian ”fatal”? Deretan pertanyaan itu tersekat di tenggorokan. Persis seperti fans sedang bertemu idola. Saya akhirnya hanya mengikuti percakapannya tentang mengapa cerita absurd tak harus berbentuk ”absurd” (kepala yang melayang, manusia mendadak terbang, atau lelaki yang merasa dirinya menjadi serangga seperti yang dirasakan Gregor Samsa, tokoh ciptaan Franz Kafka). Saya lantas mengingat-ingat bagaimana cerita absurd lahir di Eropa sebagai reaksi dari pascaperang, ada rasa disillusionment. Sedangkan di Indonesia, novel seperti Iwan Simatupang, lantas belakangan Budi Darma dan Putu Wijaya, bukanlah reaksi zamannya. Saya ingat Pak Budi Darma lantas memajukan duduknya dan berkata seperti seorang dosen baik hati, ”siapa yang mengatakan kita tak sedang berperang?”.
Absurdisme baginya bukan arena pertunjukan fisik. ”Seseorang bisa saja mempunyai penampilan membosankan seperti saya, tetapi di dalamnya ada imajinasi yang menggelepar-gelepar yang perlu ditanggapi.”
Saat itu tahun 1988, puncak kejayaan Orde Baru, dan saya baru berusia 26 tahun. Mendengar kalimat-kalimat dahsyat seperti ini, tentu saja saya tercengang dan terengah-engah mencatatnya seperti tak ada hari esok. Saya mulai memberanikan diri untuk bertanya tentang kebiasaan Budi Darma –terutama dalam Olenka dan Orang-Orang Bloomington– yang menulis dengan gaya yang ”seolah-olah” santai, tanpa tujuan, tanpa perencanaan, dan mendeskripsikan banalitas tokoh-tokohnya, tetapi sekaligus menyiratkan begitu banyak bilik rahasia yang asyik untuk digali.
Barulah saya menyadari bahwa novel-novel Budi Darma –yang membuat saya dan kawan-kawan di Bulungan membahasnya berjam-jam hingga pagi– sebetulnya kemampuan luar penulisnya untuk mengulik, menerjang, dan mengguncang segala yang konvensional dari fiksi Indonesia di zamannya. Pembicaraan kami ditutup dengan kalimat Nirdawat soal kritik sastra dan ”koncoisme”. Budi Darma mengatakan salah satu faktor mengapa kritik sastra di Indonesia tak pernah maju selain karena daya analitis kita yang dangkal, juga karena koncoisme, di mana karya kawan, satu geng, atau mungkin kekasih dielus-elus, sementara yang bukan dalam lingkarannya diabaikan atau lebih parah lagi dihujat.
*
Setahun kemudian, tahun 1989, saya bergabung dengan Tempo dan mulai tertarik mempelajari bahasa Indonesia lebih dalam. Saya melayangkan surat ”mengapa Anda menggunakan kata ’sampean’ dan segala sumpah serapah dalam bahasa Jawa (Timur) meski tokoh-tokoh Anda adalah orang Amerika.” Budi Darma membalas: memang saya sengaja membiarkan istilah-istilah ’lokal’ tersebut bertebaran seenaknya, karena saya yakin roh Olenka adalah roh Amerika. Selanjutnya saya ingat dia mengeluh tentang berbagai makalah yang bertumpuk yang harus diperiksa, sementara waktunya untuk menulis dan ”memasuki bilik rahasia” tokoh-tokohnya semakin sempit.
Saya sendiri juga menyadari kegiatan sebagai wartawan Tempo semakin menggilas hidup saya, sehingga saya tak pernah memublikasikan apa pun selama 20 tahun. Sampai akhirnya ketika saya akan menerbitkan 9 dari Nadira (2009), para editor menyatakan saya memerlukan blurb. Ini sesuatu yang baru bagi saya setelah 20 tahun tak berurusan dengan penerbit buku. Kali ini, melalui surat elektronik, saya menyampaikan pesan yang penuh gurauan: ”Sudah waktunya Nirdawat membaca karya seseorang yang sudah 20 tahun tak berkarya….sudikah?”
Beliau menjawab: I am honoured.
Saya merasa, semakin senja, Budi Darma yang sudah dihujani begitu banyak penghargaan justru semakin rendah hati dan mencoba toleran. Pihak penerbit mengirimkan buku dan Budi Darma bukan hanya mengirim dua atau tiga kalimat blurb, malah satu halaman panjang yang sudah mirip resensi. Pesannya: silakan ambil kalimat mana saja.
Tetapi, dengan nada risau, beliau menelepon saya: ”jika Nadira tak segera menyelesaikan perkabungannya, dia bisa mengikuti jejak ibunya,” katanya mengalamatkan tokoh fiktif saya seolah-olah Nadira adalah tokoh nyata, ”are you alright?”
Saya tertawa meyakinkan Nadira bukan alter ego saya, meski Nadira adalah seorang tokoh fiktif yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis seperti saya.
Selama puluhan tahun kami berkawan, saya merasa Budi Darma memberikan perhatian yang baik kepada kawan-kawan angkatan saya dan juga berikutnya karena dia percaya kami adalah generasi yang jauh lebih tergila-gila membaca. Tetapi, dia juga prihatin dengan beberapa hal yang belum berubah. Pada acara diskusi ”Laut Bercerita” di Unesa tahun 2018 lalu, yang ternyata pertemuan terakhir saya dengannya, Budi Darma menulis esai yang cukup terperinci dan panjang. Selain membahas novel itu, Budi Darma agak mengkhawatirkan apa yang ditulisnya tentang Nirdawat masih banyak relevansi dengan situasi sastra saat ini.
Pak Budi Darma, saya berterima kasih atas Olenka, Nirdawat, Adinan, Rafilus, dan semua tokoh unik ciptaan Anda. Saya akan terus ”bertemu” dan berbincang melalui mereka.
Selamat jalan, Sang Guru. (*)

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
