
Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)
Ada sebuah problem tak bernama di dalam sinema dan televisi kita.
---
BEGITU ada keinginan sineas untuk mencoba menyentuh satu–dua aspek problem perempuan dan serangan fisik yang terjadi kepadanya, terjadilah hal-hal yang ”rumit”.
Saya mulai saja dengan pengalaman saya sendiri. Pada 2006, ketika episode Her Words Against His Words dari serial Dunia Tanpa Koma arahan Maruli Ara ditayangkan di stasiun RCTI, sebuah pesan pendek dari seorang sastrawan meluncur ke ponsel saya.
Meski skenario miniseri yang saya tulis ini sudah lama ditayangkan, saya ingat pesan pendek tersebut: ”Apakah jika sang perempuan itu sedang mabuk dan dia bersedia masuk ke kamar bersama lelaki itu, peristiwa berikutnya masih bisa disebut perkosaan?” Pesan pendek ini masuk ketika ada adegan tokoh Monita (dimainkan dengan bagus oleh Intan Nuraini) beberapa kali menolak untuk menambah minuman anggur, tetapi sang pacar, Dion, terus-menerus menuang ke gelasnya.
Sesudah habis sekian botol, Dion mengajak Monita yang sudah limbung ke kamar hotel. Selebihnya yang terjadi adalah kekejian. Sastrawan itu mengirim pesan bertubi-tubi karena drama tersebut menampilkan tokoh Monita sebagai korban dan penyintas. Maka, saya merasa pedantis karena seolah harus memperkenalkan definisi perkosaan kepada sastrawan tersebut.
Drama ini sebetulnya kisah tentang wartawan majalah berita fiktif bernama Target dan bagaimana mereka meliput kasus-kasus kriminalitas seperti pembunuhan dan drug trafficking. Tetapi, saya sengaja membuat dua episode bertema perkosaan karena ini masalah yang masih saja problematik dalam kenyataan sehari-hari, apalagi dalam pemberitaan. Ini juga menjadi problem tak bernama ketika tema ini diangkat ke film atau serial televisi.
Salah satu persoalan klise yang terus-menerus bergaung adalah kalimat-kalimat semacam: siapa suruh dia mengenakan baju yang tak senonoh; oh dia mabuk ya, pantes aja; apa bener dia diperkosa, ditinggalin aja kali; dan seterusnya. Kalimat-kalimat tersebut secara implisit memberi kesimpulan bahwa tindakan pidana si (atau ”para”) lelaki itu terjadi karena ”ulah perempuan”. Jangan terkejut, reaksi semacam ini masih diucapkan pada 2021. Meski ada ”kekuasaan masyarakat internet” yang kemudian mampu melakukan ”cancel culture” –memberi sanksi sosial kepada seseorang atau sebuah organisasi yang dianggap merugikan– toh #MeToMovement yang berkibar-kibar di beberapa negara Barat tampaknya tak akan (atau belum) menembus tembok patriarki Indonesia.
Lambannya atau terhadangnya perempuan untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi pada tubuhnya di Indonesia, salah satu sebabnya, masih akan selalu lebih mendudukkan sang perempuan sebagai tertuduh. Itu pula yang tergambar dalam film Perawan Desa (Franky Rorimpandey, 1978). Film yang terinspirasi dari kisah nyata pemerkosaan Sum Kuning (bukan nama sebenarnya), seorang gadis penjual telur berusia 17 tahun.
Pelaku di dalam film ini adalah empat lelaki muda anak-anak pejabat. Persis seperti kisah nyata, yang terjadi adalah Sumirah –nama tokoh dalam film– justru ditahan dan diadili dengan tuduhan membuat laporan palsu. Jadi, persoalan bergeser tak lagi fokus pada gang rape yang dilakukan ke empat lelaki itu, tetapi tentang apakah Sumirah memberikan laporan palsu.
Akhirnya, pengadilan menyatakan Sumirah tidak bersalah. Film yang skenarionya ditulis Putu Wijaya ini mencoba menggunakan lisensi kreativitasnya dengan menggambarkan penangkapan empat pelaku. Dalam kenyataan, Kapolri Hoegeng kemudian membentuk tim investigasi kasus perkosaan itu sembari mengatakan dia tak takut jika terbukti pelakunya adalah anak-anak pejabat. Kasus Sum Kuning bahkan tiba sampai ke tingkat presiden yang memerintah Kopkamtib mengambil alih investigasi dari tangan Polri. Hasilnya? Sampai sekarang pelaku tak pernah ditahan.
Setahun silam saya mewawancarai produser Mira Lesmana untuk acara ”Layar” Tempo tentang serial Netflix The Unbelievable yang diangkat dari kisah nyata. Ini kisah enam korban perkosaan dari beberapa negara bagian AS yang diserang seorang pemerkosa berantai. Serial dibuka dengan adegan seorang gadis remaja melapor ke polisi dan tak ada yang percaya laporannya karena dia dianggap ”terlalu dingin dan santai”.
Dibutuhkan dua detektif perempuan yang bekerja sama mengungkap identitas si pemerkosa. Yang menarik, menurut Mira Lesmana, mengangkat sebuah film dengan tema kriminalitas di Indonesia saja sudah sangat menantang, apalagi kasus perkosaan di Indonesia. Mengapa? Karena ”kita harus belajar secara terperinci cara kerja polisi di sini yang sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan di serial Hollywood.”
Hal lain adalah sejauh apakah polisi memberikan perhatian kepada kasus kejahatan seperti ini, sejauh apa kita bisa kritis terhadap semua pihak, dan yang lebih parah sejauh apa masyarakat (baik dunia maya maupun nyata) akan peka terhadap kasus seperti ini. Bahkan, konsep ”relasi kuasa” pun –di mana seorang atasan atau yang mempunyai otoritas memaksa bawahan untuk berhubungan dengannya – belum dipahami sebagai tindakan perkosaan.
Negara-negara Barat mulai bertubi-tubi mengeluarkan film-film seperti Bombshell (Jay Roach, 2019) dan Promising Young Woman (Emerald Fennel, 2020) yang mendapatkan lima nominasi Oscar tahun ini. Harus diakui itu tak berarti situasi relasi gender dan persoalan perkosaan di Amerika atau Eropa sudah beres. Tetapi, paling tidak mulai dibicarakan dengan cukup serius setelah skandal Harvey Weinstein dan Woody Allen.
Baca Juga: Ledakan di Depan Gereja Katedral Makassar Diduga Bom Bunuh Diri
Indonesia bahkan tak perlu terlalu jauh menjenguk ke film-film atau serial Barat. Beberapa serial India (serial Delhi Crime, 2019) yang mengangkat kisah nyata gang rape di New Delhi dan Korea (film Memories of Murder karya Bong Joon-ho, 2003) hanya satu di antara ratusan film dan serial yang dengan berani dan tetap peka mengangkat kisah kejahatan ini, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan para perangkat hukum, wartawan, serta masyarakat dan pemerintah saat itu. Di sini, kita masih menganggapnya sebagai sebuah problem tak bernama. (*)
---
LEILA S. CHUDORI, Jurnalis dan penulis
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=ZKkS4AGOD9g

Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Profil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Kader Partai Gerindra yang Terjaring OTT KPK
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Kuliner di Surabaya: 17 Rekomendasi Bakso Terbaik dengan Rasa Autentik
Resmi! 8 Bintang Absen di Laga Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya, GBK Bergemuruh Sambut Jakmania dan Bonek
