Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Mei 2026 | 17.39 WIB

Fiqih Haji: Pengertian Mabit Murur di Muzdalifah dan Kedudukannya dalam Syariat

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI KH Cholil Nafis menjelaskan skema mabit di Muzdalifah, Selasa (19/5/2026). (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026) - Image

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI KH Cholil Nafis menjelaskan skema mabit di Muzdalifah, Selasa (19/5/2026). (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026)

JawaPos.com – Mabit di Muzdalifah merupakan salah satu ritual wajib dalam rangkaian ibadah haji. Mayoritas ulama memandang mabit di Muzdalifah masuk dalam wajib haji.

Namun, beberapa tahun belakangan saat jumlah jamaah haji semakin banyak, muncul skema baru yang disebut murur.

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI KH Cholil Nafis menjelaskan, pada prinsipnya mabit atau bermalam di Muzdalifah itu hukumnya adalah wajib.

Sebagaimana Firman Allah dalam bagian Surah Al Baqarah 198:

فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ

Artinya:

Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, Berzikirlah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).

Di Muzdalifah, untuk disebut sebagai mabit ada tolok ukurnya. “Disebut dengan mabit kalau dia melewati nisful lail, tengah malam,” terangnya di Makkah, Selasa (19/8).

Dia menjelaskan, ada tiga skema mabit di Muzdalifah yang dibenarkan secara syariat. Pertama adalah mabit ‘adi, yakni mabit di Muzdalifah sebagaimana biasanya.

Jamaah diantar ke Muzdalifah dari Arafah setelah Maghrib, kemudian menginap hingga lewat tengah malam.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore