Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Juni 2025 | 12.48 WIB

Tak Sekadar Tugas, Kisah Yundarini Rawat Jemaah Disabilitas Seperti Orang Tuanya Sendiri

Anggota tim Layanan Lansia, Disabilitas dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH), Yundarini. (MCH) - Image

Anggota tim Layanan Lansia, Disabilitas dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH), Yundarini. (MCH)

JawaPos.com – Di tengah hiruk-pikuk fase pemulangan jemaah haji pasca puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), suasana berbeda terasa di hotel transit Makkah. Di sinilah para jemaah lansia dan disabilitas yang mengikuti safari wukuf (rangkaian ibadah wukuf menggunakan bus karena kondisi fisik tak memungkinkan) kembali beristirahat, menunggu dijemput untuk kembali ke kloter masing-masing.

Di sela pelayanan teknis dan logistik, kisah humanis datang dari petugas bernama Yundarini, anggota tim Layanan Lansia, Disabilitas dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH). Setiap hari, Yundarini bersama rekan-rekannya menjadi pengganti anak-anak dari jemaah yang tak mampu merawat dirinya sendiri.

“Kami mandikan, kami suapi, kami pakaikan popok, dan bahkan kami cuci baju mereka,” ujarnya.

Ia mengaku semua dilakukan bukan karena kewajiban semata, tapi karena rasa kemanusiaan. “Itu kami lakukan dengan tulus, seperti melayani orang tua sendiri,” lanjutnya.

Tak jarang, para jemaah lansia melontarkan ucapan terima kasih yang tak biasa. “Ada yang bilang, ‘Ibu, saya mau catat nama Ibu, nanti saya doakan setiap hari.’ Itu menyentuh sekali,” kisah Yundarini.

Baginya, doa seperti itu jadi energi tambahan untuk terus melayani, meski kelelahan kerap menghampiri.

Bentuk pelayanannya bukan hanya fisik. Banyak jemaah yang butuh teman bicara. “Mereka cerita soal rumah, anak, cucu. Ada yang hanya ingin ditemani minum teh,” ungkapnya.

Kadang mereka terkejut dengan fasilitas yang baru mereka rasakan. Misalnya, ada yang baru pertama kali mandi pakai air hangat. Mereka lantas bilang, enak banget. Ada pula momen menghibur. Seorang jemaah mengaku baru tahu cara menggunakan dispenser.

“Dia bilang, ‘Oh ternyata semudah ini bikin kopi ya, Bu.’ Kami tertawa bersama,” ujar Yundarini mengenang.

Namun, ada juga situasi yang cukup menantang. Misalnya, ada lansia yang menolak mandi. Dia dan petugas lain membujuk dengan lembut, bahkan kadang dinyanyikan lagu anak-anak terlebih dahulu. Pendekatan yang humanis ini terbukti efektif. Banyak lansia akhirnya menurut dan mau dibersihkan.

Apalagi, sebagian dari mereka mengalami kondisi kognitif seperti demensia. Meski sulit berkomunikasi, pelayanan tetap diberikan sepenuh hati. “Kami tahu mereka sedang tidak bisa mengenali siapa-siapa. Tapi kami tetap rawat. Itu amanah,” tegasnya.

Logistik pun dipastikan tercukupi. Yundarini menyebut, kebutuhan popok dicukupi, begitu juga dengan makanan. Kalau mereka butuh bubur, tim PKP2JH juga membantu menyuapi sampai habis. Bahkan, Yundarini sering menemukan uang di kantong baju kotor milik jemaah.

“Kami cuci, keringkan, lalu kembalikan. Itu bukan tugas kami, tapi rasa tanggung jawab kami,” tambahnya.

Isu miring tentang layanan lansia yang sempat beredar di media sosial juga ia tanggapi tegas. “Saya sendiri mengalami. Semua teman-teman di lapangan bekerja dengan hati,” ujarnya. Baginya, kritik harus dijawab dengan kerja nyata.

Terakhir, Yundarini berharap perhatian terhadap jemaah lansia dan disabilitas bisa lebih besar di musim haji-haji berikutnya. “Mereka datang dengan harapan besar, meski dengan keterbatasan. Semoga makin banyak yang peduli,” tutupnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore