Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Juni 2025 | 03.52 WIB

Bus Shalawat Kembali Beroperasi 10 Juni, Jemaah Bisa Tawaf Ifadah Lebih Nyaman

Calon jemaah haji Indonesia turun dari bus shalawat. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Setelah rangkaian puncak haji selesai dan seluruh jemaah kembali ke Makkah, layanan bus Shalawat akan kembali beroperasi mulai Selasa, 10 Juni 2025 atau 14 Dzulhijah 1446 H. Informasi ini disampaikan oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief, pada Senin dini hari (9/6) dari kawasan Mina.

Bus Shalawat merupakan layanan bus gratis yang setiap tahun disediakan oleh Pemerintah Indonesia. Bus ini mengantar jemaah dari hotel ke Masjidil Haram pulang-pergi (PP) selama mereka berada di Makkah.

“Karena insya Allah baru tanggal 14 Dzulhijah (10 Juni) bis Shalawat akan beroperasi,” ujar Hilman.

Konteks pengoperasian bus ini adalah setelah selesainya fase lempar jumrah di Mina, yang berlangsung sejak Jumat, 6 Juni hingga Senin, 9 Juni 2025. Hari ini adalah 13 Dzulhijah, dikenal juga sebagai hari terakhir tasyrik dan waktu nafar tsani, yaitu saat jemaah yang memilih tinggal di Mina hingga 13 Dzulhijah baru mulai bergerak kembali ke hotel.

Sebagian besar jemaah telah lebih dahulu meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijah atau nafar awal, yakni izin keluar lebih cepat dari Mina setelah menyelesaikan lempar jumrah di hari kedua tasyrik. Hilman menyebut, sekitar 25.000 jemaah mengambil opsi nafar tsani tahun ini, sementara sisanya telah kembali lebih dulu ke Makkah.

Dengan kembalinya jemaah ke hotel masing-masing, kawasan Mina kini sudah mulai lengang. “Kalau Anda lihat di belakang saya, suasananya sudah lenggang, sudah tidak lagi kelihatan hiruk pikuknya,” ujar Hilman saat diwawancarai di Tenda Misi Haji Indonesia, Mina.

Hilman mengingatkan agar jemaah tidak tergesa untuk melakukan tawaf ifadah, salah satu rukun haji penting yang dilakukan di Masjidil Haram. Tawaf ini menandai hampir berakhirnya rangkaian ibadah haji. Namun karena beratnya aktivitas sebelumnya—wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar jumrah—jemaah diminta memanfaatkan waktu untuk istirahat terlebih dahulu.

“Kami harapkan jamaah bisa menggunakan waktunya untuk istirahat,” imbuhnya.

Tawaf ifadah tidak harus dilakukan tepat setelah dari Mina. Jemaah dapat menjadwalkan waktu terbaik sesuai kesiapan fisik, terutama dengan kembali beroperasinya Bus Shalawat. Bagi jemaah dari kloter-kloter awal yang akan segera pulang ke Tanah Air, barulah mereka disarankan menyegerakan tawaf.

Hilman juga mengingatkan soal tren sebagian jemaah yang setelah menyelesaikan ibadah haji langsung melanjutkan dengan umrah sunnah. Ia menilai hal tersebut tidak ideal bagi kondisi fisik jemaah yang baru menyelesaikan ibadah intensif selama fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

“Waktu dan energi yang digunakan oleh jamaah haji reguler itu cukup besar… butuh revitalisasi, pemulihan tubuh. Jangan memaksakan,” pesannya.

Dengan dimulainya kembali operasional Bus Shalawat, jemaah diharapkan dapat mengatur waktu tawaf secara lebih aman dan nyaman. Fokus tetap pada kesehatan, keselamatan, serta kesempurnaan ibadah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore