Jamaah haji melempar jumrah Aqabah di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (6/6). (MCH 2025)
JawaPos.com – Fase puncak ibadah haji kini memasuki rangkaian lempar jumrah di Mina. Namun, bagi jemaah lanjut usia (lansia), tantangan fisik menjadi pertimbangan serius. Terowongan Mina yang membentang sekitar 3 kilometer menuju jamarat, dan bisa mencapai 8 kilometer pulang-pergi, menjadi ujian tersendiri bagi mereka.
Banyak jemaah lansia yang kelelahan hingga tersesat saat kembali ke tenda setelah melempar jumrah Aqabah pada Jumat dini hari (6/6) hingga Sabtu (7/6) dini hari. Beberapa di antaranya bahkan terpaksa ditolong petugas untuk bisa kembali ke maktab masing-masing.
Kasatops Armuzna Kolonel Harun Arrasyid menuturkan, fenomena jemaah yang tidak tahu arah pulang ini telah diprediksi sebelumnya. Kondisi lelah usai perjalanan panjang dari Arafah ke Muzdalifah, dilanjutkan ke Mina, membuat adaptasi di lingkungan tenda menjadi sulit.
"Jemaah banyak yang tidak tahu arah pulang, tidak tahu di mana tendanya. Akhirnya terjadi penumpukan. Ini sudah kami antisipasi," ungkap Harun.
Untuk mengatasi hal itu, PPIH mendapatkan tambahan armada mobil golf dari sejumlah syarikah. Kendaraan ini dimanfaatkan untuk mengantar jemaah yang tersesat, terutama lansia dan jemaah sakit, kembali ke tendanya.
“Dengan adanya tambahan mobil rolep ini, sangat membantu petugas untuk bisa mengantarkan jemaah yang membutuhkan bantuan,” ujar Harun.
Lebih lanjut, Harun mengimbau jemaah lansia yang tidak dalam kondisi fisik prima agar tidak memaksakan diri untuk melaksanakan lempar jumrah sendiri. Opsi badal atau mewakilkan lempar jumrah disarankan demi menjaga keselamatan.
“Bagi jemaah yang merasa sakit dan lansia, itu lebih baik dibadalkan saja. Karena banyak yang tidak kuat jalan dan akhirnya tersesat,” tambahnya.
Senada dengan itu, Konsultan Ibadah Haji Kemenag Prof. Aswadi Syuhadak, menjelaskan bahwa secara fikih, jemaah lansia tidak wajib melempar jumrah secara langsung.
“Sebaiknya berada di Mina dengan tenang. Tidak boleh memaksakan kehendak untuk lempar jumrah karena jauh jaraknya,” ujar Prof. Aswadi.
Ia menyarankan untuk memanfaatkan dua skema keringanan. Pertama, mewakilkan kepada orang yang lebih kuat (taukil). Kedua, menjamak atau menggabungkan waktu lempar jumrah dalam satu hari di akhir waktu.
''Tidak perlu lempar secara pribadi. Sah jika diwakilkan. Untuk yang nafar awal, bisa nunggu Minggu. Sedangkan yang nafar akhir, bisa nunggu Senin untuk melempar jika dijamak atau digabungkan,'' terangnya.
Aswadi juga mengingatkan bahwa terlalu memaksakan diri bisa berdampak buruk, baik untuk jemaah yang bersangkutan maupun bagi petugas yang harus memberikan bantuan tambahan.
“Kenapa kita itu memikirkan persulit ke sana-kemari, tapi terpisah dengan rombongan? Ujung-ujungnya itu menyulitkan yang lain,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
