Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Juni 2025 | 03.37 WIB

Menag Nasaruddin Ungkap Alasan Saudi Batalkan Tanazul: Hindari Benturan Arus Jemaah Haji di Mina

Menteri Agama Nasaruddin Umar dan anggota Amirul Hajj Taruna Ikrar (kiri) saat menjenguk pasien di KKHI Makkah, Selasa (3/6). (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)


JawaPos.com – Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan Program Tanazul pada musim haji 1446 H/2025 M. Program yang sedianya memungkinkan sebagian jemaah haji Indonesia untuk kembali lebih cepat ke hotel setelah rangkaian ibadah di Mina itu akhirnya ditunda demi mempertimbangkan keselamatan dan kenyamanan jemaah.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan, keputusan ini disampaikan langsung oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi setelah mempertimbangkan potensi kepadatan di jalur pergerakan jemaah.

“Pemerintah Saudi Arabia tengah malam tadi memutuskan tidak ada Tanazul, tetapi diminta untuk berdiam di kemah,” ujar Nasaruddin di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Selasa (3/6) siang WAS.

Menurut Nasaruddin, awalnya pemerintah Indonesia sudah siap sepenuhnya untuk memfasilitasi sekitar 30 ribu jemaah yang akan mengikuti Tanazul. Namun, ketika dievaluasi, ternyata banyak negara lain juga berencana melakukan hal serupa.

Jika semua negara melakukan Tanazul dalam waktu bersamaan, dikhawatirkan akan terjadi benturan arus jemaah yang sedang berangkat untuk melontar jumrah dengan jemaah yang sudah pulang lebih dulu.

“Kalau nanti jamaah kita akan berpapasan dengan orang-orang Afrika, India, Pakistan, yang gede-gede itu, takutnya nanti kita kalah dengan kesakitan dan itu dikhawatirkan,” jelas Nasaruddin.

Oleh sebab itu, ia meminta jemaah Indonesia untuk mengambil hikmah dari pembatalan ini. “Tidak mungkin Saudi Arabia akan memberikan suatu solusi yang justru merepotkan tamunya sendiri,” tambahnya.

Nasaruddin memastikan, pembatalan Tanazul tidak akan mengganggu alokasi fasilitas di Mina. Tempat tidur, tenda, hingga kasur tetap disiapkan untuk jemaah yang sebelumnya masuk dalam daftar Tanazul. Penyesuaian hanya akan dilakukan pada distribusi makanan.

“Kalau yang mendaftar Tanazul tiba-tiba mau tidur di jemaahnya, masih ada kuota. Tinggal pengaturan makanannya saja,” jelasnya.

Meski Tanazul resmi dibatalkan secara program, tetap ada kemungkinan sebagian jemaah melakukan Tanazul mandiri, tetapi hal itu harus dilakukan sesuai skema syarikah, dan jemaah harus mandiri dalam mengatur konsumsi di hotel.

Namun, secara umum, Kementerian Agama telah menegaskan bahwa kebijakan ini diambil demi mengikuti anjuran pemerintah Saudi. “Kita bagi Indonesia ya, ambil hikmahnya,” tutup Nasaruddin. “Mereka lebih tahu dari kita soal pengaturan di lapangan.”

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore