BUAH PERJUANGAN: Abah Umar di Medina Asian Restaurant miliknya dekat Masjid Nabawi, Madinah (21/5). (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
Dulu nyaris menyerah dan cari pesugihan demi lepas dari kemiskinan. Kini, Abah Umar punya dua restoran laris di Madinah beromzet miliaran rupiah.
Dhimas Ginanjar, Madinah
Aroma khas masakan Indonesia menyeruak begitu memasuki Medina Asian Restaurant yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, Madinah. Di balik dapur terbuka, terlihat sosok pria paruh baya mengenakan batik cokelat dan topi koki putih tinggi.
Dengan cekatan, dia memotong, mencicipi, dan memberi instruksi pada pegawainya terkait makanan yang akan disajikan kepada tamu. Termasuk bakso, pisang tanduk crispy, dan rendang.
Dia adalah Mohammad Sarwono Thoyyibi Al Akhir, atau lebih dikenal sebagai Abah Umar. Seorang perantau asal Cilacap berusia 51 tahun yang kini sukses mengibarkan bisnis kuliner Indonesia di tanah suci.
Di restoran berkonsep indoor itu, dinding-dindingnya dipenuhi foto Abah Umar bersama pejabat dan publik figur ternama. Dari Raffi Ahmad, Nagita Slavina, hingga Panglima TNI Agus Subiyanto. Meski sudah mapan dengan belasan cabang restoran di Arab Saudi, Abah Umar tetap cekatan turun langsung ke dapur, membuktikan bahwa passion memasaknya tak pernah luntur.
Restoran itu punya dua ruang utama. Satu ruangan dipenuhi meja-meja kecil yang bisa digunakan untuk makan bersama empat orang. Di ruangan lain, terdapat meja panjang dan kursi-kursi yang bisa menampung rombongan besar, sering dipakai untuk makan bersama atau acara khusus.
“Dulu saya tidur di kolong jembatan,” ucap Abah Umar, sambil tersenyum lebar saat mengenang masa lalunya. Pria dengan alis tebal dan jenggot yang mulai memutih itu mengaku belasan tahun hidupnya dihabiskan sebagai perantau tanpa arah.
Perjalanan panjangnya di dunia kuliner dimulai jauh sebelum merantau ke Arab Saudi. Umar kali pertama mengenal dunia kuliner saat era booming warteg di Jakarta pada 1989-an. Kala itu, Umar remaja yang hidup serba kekurangan bekerja membantu di warteg-warteg sederhana, tidur di kolong warung dengan penghasilan tak lebih dari Rp 30 ribu sebulan uang sekarang.
Meski awalnya hanya membantu-bantu, dia mulai mengamati cara memasak, menyajikan makanan, dan melayani pelanggan. Dari sana, perlahan tumbuh minatnya untuk belajar lebih dalam. Namun, dunia warteg belum berpihak kepadanya. Pendapatannya yang kecil, membuatnya hidup dalam kekurangan. Padahal, dia punya mimpi seperti kebanyakan orang di Jakarta. Sukses, dan kaya.
Pria kelahiran 18 Agustus 1974 mengaku pernah mengais rezeki dari belas kasih orang, tidur beralaskan kardus, makan seadanya, bahkan sempat tergoda mencari ilmu pesugihan di Banten pada 1997-an. Itu semua dilakukan demi ingin kaya. “Saking miskinnya, sampai dikira orang gila,'' ingatnya.
Tapi upaya mencari jalan singkat itu gagal. Setelah menunggu beberapa waktu di Banten, orang pintar yang disebut bisa memerikan pesugihan meninggal dunia. Berhari-hari dia terlunta-lunta di Banten. "Mungkin Allah masih sayang sama saya. Masih kasih kesempatan,” ujarnya pelan.
Suatu hari, dia lantas bertemu dengan seorang guru agama yang mengajaknya nyantri. Gurunya bilang ke Umar muda bahwa dia tidak akan pernah kaya lewat pesugihan. Kalau mau berhasil, harus mengubah diri jadi lebih baik dulu. Supaya siap diberi tanggung jawab materi oleh Allah SWT. Belajar agama itu menjadi pondasi penting bagi perjalanan hidupnya kelak.
Abah Umar ingat betul, salah satu yang diubah dari hidupnya adalah mencari aktivitas yang lebih bermanfaat. Termasuk, nongkrong-nongkrong yang tidak menghasilkan ilmu. “Kalau keluar rumah bukan untuk manfaat, tinggalin saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
