Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 05.23 WIB

Dedikasi Petugas Bir Ali: Tanpa Shift, Baru Pulang Jika Seluruh Jemaah Indonesia Selesai

Kaseksus Bir Ali, Muhammad. (MCH 2025) - Image

Kaseksus Bir Ali, Muhammad. (MCH 2025)

JawaPos.com  Di antara lalu lintas padat bus jemaah haji yang memasuki kawasan miqat Bir Ali, para petugas haji Indonesia tetap siaga. Mereka berdiri di setiap pintu masuk, toilet, sisi jalan, hingga area masjid.

Memastikan seluruh jemaah haji Indonesia dapat menunaikan niat ihram dengan tertib, aman, dan sesuai syariat. Tidak mengenal shift kerja, mereka bertugas dari pukul 06.00 pagi hingga malam, baru pulang jika seluruh jemaah sudah selesai.

“Pokoknya begitu jamaah Indonesia udah selesai, baru kita bisa pulang,” ujar Dasrizal M. Nainin, salah satu petugas di Sektor Bir Ali, Kamis (23/5).

Dasrizal bukan petugas biasa. Ia adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas King Abdul Aziz Jeddah, yang dikenal sebagai qori berprestasi internasional.

Bersama 16 petugas lainnya, termasuk dua perempuan, ia bekerja tanpa keluhan. “Kita niatnya lillahi ta’ala, insya Allah. Kalau nggak gitu, pasti berasa capek,” ucapnya.

Petugas terbagi di seluruh titik penting di Bir Ali: depan, samping, belakang, bahkan area toilet. Keberadaan mereka menjadi penyejuk hati jemaah yang mungkin sempat bingung berada di negeri asing.

Menurut Kepala Sektor Bir Ali, Muhammad, selama proses miqot gelombang pertama ini, tidak ada kendala berarti. “Operasional di Sektor Bir Ali berjalan aman dan lancar,” kata ASN Kementerian Agama tersebut.

Ia juga mengungkap bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mendapat kantor operasional gratis di Bir Ali, sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi.

“Dulu kita sewa, sekarang difasilitasi penuh, dan hanya Indonesia yang mendapatkannya,” ungkapnya.

Bir Ali bukan tempat yang sederhana. Kawasannya luas, akses masuk dan keluar banyak, serta suhu bisa mencapai 43 derajat Celsius.

Namun, di tengah tantangan itu, semangat para jemaah tetap tinggi, termasuk lansia dan disabilitas yang bersikeras ingin salat sunnah dua rakaat di masjid. “Kalau memang mau turun, kita bantu dengan kursi roda. Keyakinan mereka kuat ingin salat di masjid,” kata Muhammad.

Padahal, petugas sudah mengimbau agar jemaah berisiko tinggi (risti) cukup berniat dan salat sunnah di atas bus saja. Risiko fisik terlalu besar jika dipaksakan. Bahkan, sempat terjadi satu kasus jemaah risti pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit terdekat.

Meski demikian, petugas tak pernah menolak permintaan. Selalu ada solusi. Arab Saudi juga menyediakan mobil golf keliling untuk membantu mobilitas jemaah dari titik drop-off ke masjid dan sebaliknya.

Pelayanan petugas tidak hanya teknis. Keberadaan mereka memberi rasa aman bagi jemaah. “Ketemu orang Indonesia itu bikin tenang. Jemaah diarahkan langsung ke masjid, mereka merasa nyaman,” jelas Muhammad.

Banyak jemaah yang bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia, karena berasal dari daerah tertentu, merasa lebih percaya diri begitu melihat seragam petugas PPIH.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore