Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 20.41 WIB

Ingin Masuk Raudhah? Ini Aturan, Titik Kumpul, dan Imbauan Penting untuk Jemaah Haji Indonesia

Jemaah yang sedang salat atau berdoa di Raudhah. (hajjumrahplanner)

JawaPos.com – Di tengah luasnya kompleks Masjid Nabawi, terdapat satu tempat yang menjadi dambaan jutaan umat: Raudhah. Lokasinya berada di antara mimbar dan makam Nabi Muhammad SAW, dan dikenal sebagai taman surga, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

Karena keutamaannya yang sangat besar, Raudhah selalu menjadi tujuan utama para jemaah haji yang datang ke Madinah. Banyak yang meyakini bahwa doa yang dipanjatkan di Raudhah lebih mustajab. Namun karena luasnya terbatas dan animo jemaah sangat tinggi, pemerintah menerapkan sistem dan prosedur ketat untuk mengatur kunjungan ke tempat suci ini.

Kepala Sektor Khusus Masjid Nabawi, Surnadi, menegaskan bahwa jemaah haji Indonesia tidak perlu mengurus sendiri izin masuk Raudhah. Izin tersebut, yang disebut tasreh, sudah diatur oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama petugas kloter dan sektor.

“Jemaah cukup menunggu arahan dari petugas kloter. Kami sudah atur waktu dan kelompoknya, agar terjadwal dan tertib,” jelas Surnadi.

Proses masuk Raudhah biasanya dibatasi hanya 20 hingga 30 menit. Selama itu, jemaah dipersilakan melaksanakan salat sunnah dan berdoa. Setelah itu, mereka diarahkan keluar agar memberi giliran bagi jemaah dari negara lain.

Sistem ini tidak hanya soal waktu, tapi juga lokasi dan kesiapan teknis. Titik kumpul jemaah Indonesia ditetapkan di sekitar pintu 360 Masjid Nabawi, tepatnya dari area pintu 359 hingga 362, yang berdekatan dengan WC 201.

Di titik ini, jemaah harus sudah berkumpul satu jam sebelum jadwal masuk Raudhah, lengkap dengan kartu Nusuk, mengenakan seragam batik haji, dan siap mengikuti arahan petugas kloter, rombongan, serta KBIHU.

Prof. Dr. Aswadi, Konsultan Haji Kemenag RI, mengingatkan bahwa kesempatan masuk Raudhah bagi jemaah hanya satu kali selama masa tinggal di Madinah. Oleh karena itu, momen ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Berdoalah sebaik mungkin, karena Raudhah adalah tempat yang mustajab dan sangat mulia,” pesan Aswadi.

Ia juga menekankan larangan keras membawa atribut seperti bendera, spanduk, atau melakukan siaran langsung (live streaming) di dalam area Raudhah. Aktivitas dokumentasi yang berlebihan dapat mengganggu kekhusyukan ibadah dan berisiko ditegur petugas keamanan Masjid Nabawi.

Pihak Bimbingan Ibadah Daker Madinah akan menyiapkan tasreh dalam bentuk hardcopy, yang akan dibagikan ke ketua kloter, rombongan, dan pembimbing KBIHU. Mereka diminta aktif mengarahkan jemaah agar proses masuk berjalan lancar dan tidak menyebabkan penumpukan.

Dengan kondisi Madinah yang kian padat, (hingga 8 Mei 2025 ada 125 kloter atau lebih dari 48.628 jemaah Indonesia telah tiba) sistem antrean dan pendampingan ini menjadi sangat penting.

Petugas sektor khusus sudah menyusun strategi agar semua jemaah mendapat giliran yang adil. Mereka juga siaga membantu jemaah yang kehilangan kelompok atau tersesat di tengah antrean.

Jemaah yang belum dijadwalkan masuk Raudhah diminta tidak memaksakan diri. Pendekatan tanpa izin dapat mengganggu sistem dan bahkan menimbulkan teguran dari aparat keamanan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore