
Ilustrasi mabit dk Mina. Pada 2025, Kemenag resmi menggunakan skema Tanazul untuk melengkapi Murur yang mulai digunakan pada 2024. (Kemenag)
JawaPos.com – Puncak ibadah haji di Mina selalu menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam hal kenyamanan jemaah. Menyadari hal itu, Kementerian Agama (Kemenag) terus berinovasi agar ibadah tetap berjalan lancar dan jemaah bisa menjalankannya dengan lebih nyaman.
Salah satu langkah besar yang diambil pada musim haji 2025 adalah dengan menambahkan skema Tanazul sebagai bagian dari solusi mengurai kepadatan tenda di Mina. Solusi ini, menambah skema Murur yang sudah digunakan pada haji 2024.
Upaya ini berangkat dari perhitungan teknis yang sangat detail. Pemerintah telah menyusun tiga model konfigurasi tenda di Mina untuk mengetahui seberapa besar ruang yang dibutuhkan jemaah dan petugas yang jumlahnya mencapai lebih dari 206 ribu orang.
Model A, yang merupakan skema paling sempit dengan alokasi 0,84 meter persegi per jemaah, ternyata tetap menyisakan kekurangan lahan sebesar 3.015 meter persegi. Masalahnya, ukuran tersebut bahkan lebih kecil dari kasur standar yang luasnya 0,88 meter persegi, sehingga jemaah tidak bisa berbaring dengan leluasa.
“Kalau disusun skema 0,88 meter, di tenda itu tidak ada jalan,” ujar Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Muchlis Muhammad Hanafi, Jumat (18/4) saat Bimtek calon PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Lebih lanjut dia mengatakan, ada skema model B dengan ruang 1 meter persegi per orang. Skema ini membuat tenda lebih nyaman, tapi justru membutuhkan tambahan lahan sebesar 36 ribu meter persegi. Sementara Model C, yang paling ideal dengan space 1,14 meter persegi, kekurangan lahan mencapai lebih dari 65 ribu meter persegi. Artinya, sebaik apapun penataan dilakukan, jika seluruh jemaah ditempatkan di Mina secara bersamaan, tetap tidak akan cukup.
Fakta di lapangan turut memperumit kondisi. Ada kebiasaan sebagian jemaah yang sejak tarwiyah (Haji sunnah pada 8 Dzulhijah) mulai mengavling ruang tenda dengan menaruh barang. Hal itu membuat jemaah lain kehilangan tempat. "Situasi inilah yang kadang memicu potensi ketidaknyamanan hingga viral di media sosial," imbuhnya.
Melihat kompleksitas tersebut, Kemenag tidak tinggal diam. Mereka merancang empat skema pergerakan jemaah di kawasan Masyair (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang disebut skema taraddudi. Skema ini merupakan pendekatan solutif agar jemaah bisa tetap beribadah dengan khusyuk dan nyaman, meski dengan kondisi ruang yang terbatas.
Skema pertama adalah taraddudi reguler, yang mengatur pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah, lalu ke Mina, dan bermalam di tenda sesuai ketentuan umum. Skema ini masih menjadi pola utama untuk sebagian besar jemaah.
Skema kedua, Murur. Murur adalah skema mabit dengan cara hanya melintas di Muzdalifah tanpa menginap. Jemaah diberangkatkan dari Arafah setelah masuk waktu Magrib, lalu melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, dan selanjutnya langsung menuju Mina. Skema ini diperuntukkan bagi lansia, jemaah risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas, demi mempercepat pergerakan dan menghindari penumpukan di Muzdalifah.
“Alhamdulillah, pada 2024, skema ini membuat jam 07.30 Muzdalifah sudah bersih dari jemaah haji Indonesia,” kata Muchlis mengenang praktik Murur tahun 2024, yang sukses diikuti lebih dari 60 ribu jemaah.
Skema ketiga adalah Safari Wukuf Mandiri, yaitu skema khusus untuk jemaah yang sangat rentan secara fisik. Mereka diinapkan di hotel transit sejak 6 Dzulhijah, kemudian pada 9 Dzulhijah diantar ke Arafah untuk safari wukuf, dan langsung kembali ke hotel. Mereka baru akan bergabung lagi dengan kloter pada 14 Dzulhijah. Semua layanan dirancang sesuai kebutuhan lansia, termasuk makanan khusus.
Yang terbaru dan menjadi andalan di tahun ini adalah skema Tanazul. Tanazul adalah sistem yang memungkinkan sebagian jemaah tidak mabit di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel yang dekat dengan Jamarat (lokasi lempar jumrah). Langkah ini bukan berarti jemaah kehilangan haknya atas tenda di Mina. Sebaliknya, mereka tetap memiliki hak, namun secara sadar mengundurkan diri (tanazul) dari penggunaan fasilitas itu demi kenyamanan bersama.
“Ini ikhtiar kita supaya jemaah nyaman. Soal berhasil tidaknya, kita serahkan ke yang punya tamu. Allah,” tutur Muchlis.
Skema Tanazul ini akan difokuskan kepada 93 kloter atau sekitar 37.497 jemaah, yang tinggal di area Syisyah dan Raudhah. Jarak hotel mereka ke Jamarat hanya sekitar 2 kilometer, sehingga jika mereka tetap dipaksakan ke Mina, mereka harus berjalan 12 kilometer pulang-pergi. Dengan tanazul, jarak hanya sekitar 4 kilometer pulang-pergi, jauh lebih ringan bagi jemaah.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Maroko: Vinicius Junior dan Achraf Hakimi Siap Saling Sikut di Piala Dunia
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
