
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj Liliek Marhaendro Susilo di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (13/1) malam. (Bayu Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com – Persyaratan kemampuan atau Istitha’ah kesehatan untuk ibadah haji semakin ketat. Karena itu, Kementerian Haji dan Umrah merancang sistem untuk memantau dan membina kondisi kesehatan calon jamaah haji (CJH) sejak dua tahun sebelum jadwal berangkat.
Inovasi untuk memenuhi syarat istitha’ah kesehatan itu disampaikan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj Liliek Marhaendro Susilo saat Pendidikan dan Latihan calon Petugas Haji atau Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (13/1) malam.
Liiek mengatakan, regulasi Istitha’ah Kesehatan haji menyesuaikan aturan yang diterbitkan oleh Saudi, selain juga mengacu pada regulasi Kementerian Kesehatan RI.
”Karena nanti Saudi juga akan melakukan skrining istitha’ah kesehatan terhadap jamaah kita pada saat kedatangan di bandara Jeddah atau Madinah,” terangnya. Bila kedapatan ada jamaah yang menderita penyakit yang masuk daftar tidak lolos istitha’ah haji, Saudi akan menyiapkan sanksi.
Selain itu, pada prinsipnya ibadah haji nyaris seluruhnya merupakan aktivitas fisik yang menuntut kondisi kesehatan prima. Karena itu, istitha’ah kesehatan menjadi perhatian utama.
Untuk mencegahnya, Kemenhaj harus memastikan bahwa jamaah yang berangkat benar-benar memenuhi syarat istitha’ah kesehatan.
“Tahun ini kami minta di embarkasi harus benar-benar ketat,” lanjutnya. Tidak hanya diisi oleh petugas Balai Karantina Kesehatan, melainkan juga Dinas Kesehatan setempat.
“Itu untuk mengonfirmasi lagi apakah yang kemarin diperiksa itu sekarang kondisinya masih sehat atau tidak,” lanjutnya.
Karena itu, perlu ada monitoring sejak saat manasik haji. Saat manasik, tidak hanya ibadah yang diurusi, melainkan juga kondisi kesehatan. Jamaah harus selalu diingatkan untuk menjaga kondisi kesehatannya
Sistem itu akan dimulai dengan mendapatkan data kondisi kesehatan jamaah sebelum diperiksa. Sumbernya tentu saja BPJS kesehatan. Selama jamaah tersebut rutin mengakses fasilitas kesehatan, catatan kesehatannya pasti ada.
Terkait hal itu pula, Kemenhaj berencana membina kesehatan CJH sejak dua tahun sebelum jadwal berangkat.
Dimulai dengan melakukan pemetaan dengan mengintegrasikan sistem pemriksaan kesehatan gratis oleh Kementerian Kesehatan. Atau bisa juga dengan memantau data di BPJS Kesehatan atau mobile JKN.
“Dengan media itu nanti kita akan tahu, akan bisa termapping bagaimana sebenarnya profil jamaah haji kita kesehatannya. Nah setelah itu baru kita lakukan pembinaan sesuai dengan tingkat risikonya,” tutur Liliek.
Bila jamaahnya ternyata berisiko tinggi, maka sejak awal perlakuannya akan berbeda dengan jamaah yang berisiko rendah.
Tujuannya untuk memastikan jamaah berisiko tinggi itu berubah status menjadi risiko rendah saat tahun keberangkatan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
