Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 22.08 WIB

Mengenal Siskohat yang Jadi Jantung Layanan Haji, Atur Pergerakan hingga Konsumsi Jemaah

Ilustrasi jemaah yang sedang beraktivitas di Masjidil Haram. (MCH 2025) - Image

Ilustrasi jemaah yang sedang beraktivitas di Masjidil Haram. (MCH 2025)

JawaPos.com – Di balik lancarnya layanan haji Indonesia di Tanah Suci, ada satu sistem yang bekerja senyap namun krusial: Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat). Sistem yang dibangun Kementerian Agama ini menjadi jantung operasional haji, karena seluruh proses layanan jemaah, mulai dari pemantauan pergerakan, penginapan, konsumsi, transportasi, hingga pencatatan antrean nasional, semua bergantung padanya.

“Langkah awal konsumsi, transportasi, akomodasi, syaratnya harus ada manifes. Otomatis, mereka semua butuh Siskohat. Jadi intinya, Siskohat yang melayani semua layanan,” ujar Agung Sudrajat, Kepala Bidang Siskohat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Makkah, Rabu (21/5).

Siskohat menyimpan data detail seluruh jemaah haji Indonesia, mulai dari nama, tanggal lahir, nomor kloter, hingga nama petugas kloter dan petugas kesehatannya. Dengan sistem ini, petugas bisa langsung mengetahui posisi kloter mana pun, termasuk saat jemaah mulai bergerak menuju lokasi puncak haji seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Pemantauan pergerakan ini bukan sekadar pelacakan pasif. Siskohat juga terintegrasi dengan aplikasi Haji Pintar, di mana ketua kloter wajib menginput data real-time saat jemaah berpindah lokasi.

“Jadi saat kloter bergerak ke Arafah, berapa orang yang dibawa, kalau ada yang wafat di perjalanan, nanti saat sampai di Muzdalifah di-entry lagi,” jelas Agung.

Dengan begitu, data jemaah bisa selalu diperbarui secara cepat dan akurat. Hal ini sangat penting untuk mendukung pelayanan di titik-titik kritis, seperti pendistribusian makanan dan pengiriman bus.

“Kalau kita nggak tahu lokasi hotel dan jumlah jemaah, dapur katering bisa salah kirim atau bus bisa kurang,” ujarnya.

Bukan hanya soal operasional di lapangan, Siskohat juga menangani data antrean jemaah haji reguler nasional (waiting list). Berdasarkan data terbaru per pukul 11.00 Waktu Arab Saudi, jumlah antrean mencapai 5.560.847 juta jemaah. Sistem ini tidak bisa diutak-atik karena sudah terkunci secara regulasi dan teknis.

Agung menjelaskan, memang banyak pertanyaan di masyarakat soal kenapa ada orang yang terlihat cepat berangkat meski baru daftar.

“Itu bisa saja karena penggabungan mahram atau pendamping lansia. Tapi tetap ada aturannya. Misalnya, minimal sudah daftar lima tahun dulu baru bisa gabung,” tegasnya.

Selain itu, pelimpahan porsi hanya bisa dilakukan jika jemaah pemilik porsi meninggal atau mengalami sakit permanen, dan hanya bisa dilimpahkan ke keluarga sedarah seperti anak atau saudara kandung. “Kalau ke menantu nggak bisa,” tambahnya.

Keamanan data juga menjadi prioritas. Siskohat telah membangun sistem proteksi internal untuk memastikan informasi pribadi jutaan jemaah tetap terlindungi. Ini penting, mengingat data Siskohat tidak hanya digunakan untuk layanan di Arab Saudi, tetapi juga untuk perencanaan dan pengelolaan jemaah haji di dalam negeri.

Melalui Siskohat, pelaksanaan haji bukan lagi sekadar urusan fisik dan logistik, tetapi menjadi praktik manajemen data berskala besar yang menuntut akurasi dan kecepatan. Di balik layar, tim Siskohat bekerja 24 jam, memastikan setiap nama yang berangkat ke Tanah Suci bisa terlayani dengan baik, dengan data yang tepat, di waktu yang tepat, dan di tempat yang tepat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore