
TIDAK MENYANGKA: Anisya Umiturahmania di rumahnya di Lingkungan Pejarakan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, kemarin (23/5).
Doa yang Akan Dimunajatkan: Semoga Bisa Diterima di Universitas Brawijaya
Anisya Umiturahmania baru diberi tahu sang ibu akan menggantikan sang ayah ke Tanah Suci saat pelunasan biaya haji. Persiapan terbantu pelajaran tentang haji semasa di sekolah.
ALI ROJAI, Mataram
---
PADA umumnya, warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang akan menunaikan haji memasang foto di depan rumah. Namun, tidak demikian halnya dengan penghuni rumah di Lingkungan Pejarakan, Ampenan, Kota Mataram, itu.
Sampai kemarin (23/5), tidak ada foto yang terpasang di depan rumah.
Saat Lombok Post berkunjung pun, rumah di Jalan Lestari, Kecamatan Ampenan, tersebut terlihat sepi. Padahal, pada 10 Juni, Anisya Umiturahmania bersama sang bunda, Endang Muwarni, akan masuk asrama haji. Dan, sehari kemudian mereka terbang ke Tanah Suci.
”Dari dulu rumah sepi. Soalnya, ibu ke kantor. Saya sama adik ke sekolah. Hanya bibik (asisten rumah tangga) di rumah,” terang Anisya kepada Lombok Post.
Anisya yang baru beberapa pekan lalu lulus dari MAN 2 Mataram bahkan tercatat sebagai calon jemaah haji (CJH) termuda se-NTB. CJH termuda se-Indonesia pada musim haji kali ini tercatat atas nama Sania Wahyu Ningsi Abdurrahman yang pada 18 Mei lalu baru berusia 18 tahun.
Dia menunaikan Rukun Islam kelima karena menggantikan ayahnya, Syafruddin, yang wafat pada 2020. Namun, selama ini Anisya tidak pernah menyangka akan berangkat ke Tanah Suci. Sebab, sang ibu juga tidak pernah bercerita.
”Pas pelunasan baru tahu. Ibu memberi tahu bahwa aku yang gantiin bapak,” ujar alumnus MTs Hidayatullah tersebut.
Begitu mendengarnya, dia tentu gembira. Di usia yang baru 19 tahun, Anisya sudah berkesempatan pergi ke Tanah Suci. Mengingat, antrean untuk bisa berhaji demikian panjangnya saat ini.
Dia sama sekali tidak pernah membayangkan menunaikan ibadah haji di usia sedemikian muda. Teman-teman sekolahnya semasa di MAN juga tidak tahu bahwa dia sekarang akan berhaji ke Tanah Suci.
Begitu pula sebagian tetangganya. Selain rumahnya selalu terlihat sepi, orang tuanya juga termasuk pendatang di lingkungan tersebut. Mereka berasal dari Bima, masih di NTB, tetapi di pulau yang terpisah dari Lombok.
Kegembiraannya itu dia imbangi dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia belajar banyak dari buku tata cara menunaikan ibadah haji. Kebetulan, di MTs dan MAN dia juga sering mempelajarinya. Manasik sudah pula dia kerjakan di Asrama Haji NTB belum lama ini. ”Dua kali manasik haji,” ungkapnya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
