Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Mei 2025 | 22.50 WIB

Mengenal Blue Light, Cahaya yang Terpancar dari HP dan Perangkat Elektronik: Benarkah Berbahaya Bagi Manusia?

Ilustrasi paparan blue light. (Freepik) - Image

Ilustrasi paparan blue light. (Freepik)

JawaPos.com– Sejak teknologi lampu LED diperkenalkan dan penggunaan perangkat digital meningkat, paparan blue light dalam kehidupan sehari-hari pun ikut bertambah. 

Blue light kini hadir tidak hanya dari matahari, tetapi juga dari layar ponsel, komputer, televisi, hingga lampu LED di rumah dan kantor. Mengutip dari laman DXOMARK, berikut penjelasan mengenai blue light  yang perlu diketahui..

Apa Itu Cahaya Biru?

Blue light merupakan bagian dari spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang antara 380 hingga 500 nanometer. 

Karena memiliki panjang gelombang yang pendek, blue light tergolong dalam high-energy visible light (HEV), yaitu cahaya tampak yang memiliki energi tinggi.

Sumber utama blue light adalah matahari, tetapi cahaya ini juga dipancarkan oleh sumber buatan seperti layar digital, lampu LED, dan lampu fluoresen. 

Dampak Cahaya Biru terhadap Ritme Sirkadian

Blue light dapat mempengaruhi ritme sirkadian, yaitu sistem biologis tubuh yang mengontrol waktu tidur, pelepasan hormon, suhu tubuh, dan berbagai fungsi lainnya. 

Tubuh manusia memproduksi hormon melatonin saat malam untuk membantu rasa kantuk. Namun, ketika terpapar blue light, melatonin dapat terganggu. 

Ini membuat tubuh “tertipu” seolah masih siang hari, sehingga menghambat rasa kantuk dan mengganggu kualitas tidur.

Menurut Prof. Francine Behar-Cohen dari Cochin Hospital dan INSERM di Paris, hanya beberapa menit paparan blue light dari layar ponsel pada malam hari sudah cukup untuk menurunkan kualitas tidur.

Risiko Jangka Panjang terhadap Mata

Meskipun blue light dari layar smartphone berada jauh di bawah batas maksimum paparan akut yang ditetapkan regulasi, potensi risikonya tidak dapat diabaikan. 

Beberapa studi menunjukkan adanya kaitan antara paparan cahaya biru dan kerusakan sel retina yang dapat menyebabkan Age-Related Macular Degeneration (ARMD). 

Namun, para peneliti menyatakan bahwa efek toksik dari paparan jangka panjang serta hubungan dosis-responsnya masih belum sepenuhnya dipahami.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore